Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Komparasi FTK Imager dan MOBILedit Forensic Express Pro dalam Investigasi Cyberbullying Instagram Menggunakan Framework ACPO Anisa Nur Hidayah; Fahmi Fachri
JSAI (Journal Scientific and Applied Informatics) Vol 9 No 2 (2026): Juni
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jsai.v9i2.10412

Abstract

Cyberbullying is one of the most common forms of cybercrime occurring on social media platforms, including Instagram through the Direct Message (DM) feature. This study aims to conduct a digital forensic investigation of Cyberbullying cases on Instagram using the Association of Chief Police Officers (ACPO) framework and to compare the performance of FTK Imager and MOBILedit Forensic Express Pro in obtaining digital evidence from Android devices. The research method was carried out through the stages of plan, capture, analysis, and presentation based on the ACPO framework. The investigation process included data acquisition, data extraction, digital artifact recovery, and digital evidence integrity validation using MD5 and SHA1 hashing methods. The results showed that FTK Imager successfully recovered text messages and voice messages with a recovery success rate of 50%, while MOBILedit Forensic Express Pro successfully recovered photos and videos with a recovery success rate of 50%. The integrity validation results indicated that the digital evidence remained valid and unchanged throughout the investigation process. Based on the comparison results, both tools demonstrated different capabilities in recovering specific digital artifacts. Therefore, the combined use of FTK Imager and MOBILedit Forensic Express Pro can improve the effectiveness of digital forensic investigations and provide more comprehensive digital evidence in Cyberbullying cases on Instagram.
Komparasi FTK Imager dan Autopsy dalam Investigasi Cyberbullying Telegram Menggunakan Framework DFRWS Arinaa Manaasika; Fahmi Fachri
JSAI (Journal Scientific and Applied Informatics) Vol 9 No 2 (2026): Juni
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jsai.v9i2.10419

Abstract

This study aims to investigate cyberbullying cases on the Telegram application using the Digital Forensic Research Workshop (DFRWS) framework by comparing the performance of FTK Imager and Autopsy forensic tools. The investigation process consisted of identification, preservation, collection, examination, analysis, and presentation stages to obtain digital evidence from Android devices. The results showed that FTK Imager successfully recovered text chats, voice notes, and metadata with a 100% success rate for text-based artifacts, but failed to recover multimedia files such as photos and videos. Meanwhile, Autopsy successfully recovered chats, photos, videos, metadata, and deleted files with a 100% success rate for multimedia artifacts and deleted file recovery. Overall, FTK Imager achieved a digital evidence recovery rate of 58.3%, while Autopsy achieved 83.3%. Digital evidence integrity validation using MD5 and SHA1 hashing produced identical hash values before and after the investigation process, indicating that the integrity and authenticity of the evidence were successfully maintained. The findings demonstrate that the combined use of FTK Imager and Autopsy provides a more effective, systematic, and comprehensive digital forensic investigation process for handling cyberbullying cases on Telegram.
Evaluasi Kualitas Jawaban Generative Pre-Trained Transformer (Gpt) Berdasarkan Matrik Performa Pada Soal Ujian Teks Di Mts Negeri 5 Kebumen Miyako Harumi; Fahmi Fachri
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jkip.v5i2.1637

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kualitas jawaban yang dihasilkan ChatGPT dan membandingkannya dengan jawaban guru berbasis buku ajar pada soal ujian teks di MTs Negeri 5 Kebumen. Kebaruan penelitian terletak pada penggunaan matriks performa terstruktur yang mencakup aspek kebenaran jawaban, ketepatan konteks, kelengkapan informasi, dan kejelasan penyampaian untuk membandingkan performa kecerdasan buatan dengan sumber belajar konvensional. Penelitian menggunakan pendekatan evaluatif dengan analisis deskriptif terhadap 10 soal ujian teks yang divalidasi guru mata pelajaran. Data diperoleh melalui analisis dokumen, observasi, wawancara, dan penilaian menggunakan rubrik matriks performa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jawaban guru memperoleh skor rata-rata 16 (100%) dengan kategori sangat baik, sedangkan ChatGPT memperoleh skor rata-rata 11 (68,75%) dengan kategori baik. Perbedaan terbesar ditemukan pada aspek kelengkapan jawaban dan ketepatan konteks. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun ChatGPT mampu menghasilkan jawaban yang relevan dan cepat, kualitas akademiknya masih berada di bawah jawaban manusia yang berbasis kurikulum dan pengalaman pedagogis. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan evaluasi pemanfaatan kecerdasan buatan pada proses pembelajaran dan asesmen pendidikan.   This study aims to evaluate the quality of answers generated by ChatGPT and compare them with teacher-generated answers based on textbooks for text-based examination questions at MTs Negeri 5 Kebumen. The novelty of this study lies in the use of a structured performance matrix encompassing answer accuracy, contextual appropriateness, completeness of information, and clarity of presentation to compare the performance of artificial intelligence with conventional learning resources. The study employed an evaluative approach with descriptive analysis of 10 text-based examination questions validated by subject teachers. Data were collected through document analysis, observations, interviews, and assessments using a performance matrix rubric. The findings revealed that teacher-generated answers achieved an average score of 16 (100%), categorized as excellent, whereas ChatGPT-generated answers obtained an average score of 11 (68.75%), categorized as good. The largest differences were identified in the aspects of answer completeness and contextual appropriateness. These findings indicate that although ChatGPT can provide relevant and rapid responses, its academic quality remains below that of human-generated answers grounded in curriculum standards and pedagogical experience. This study contributes to the development of evaluation frameworks for the use of artificial intelligence in teaching, learning, and educational assessment processes.
Analisis Barang Barang Bukti Digital Pada Aplikasi Instagram Berbasis Android Menggunakan Metode National Institute Of Justice (NIJ) Muhammad Hasan Firdaus; Fahmi Fachri
Jurnal Media Informatika Vol. 7 No. 4 (2026): Edisi Juli - Agustus IN PRESS
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jumin.v7i4.9151

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan meningkatnya penggunaan media sosial, khususnya Instagram, telah memberikan dampak positif dalam komunikasi, namun juga memunculkan permasalahan baru seperti cyberbullying. Cyberbullying merupakan tindakan perundungan yang dilakukan melalui media digital dan dapat berdampak serius terhadap kondisi psikologis korban. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan forensik digital untuk mengidentifikasi, mengumpulkan, dan menganalisis bukti digital guna mendukung proses pembuktian. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode National Institute Of Justice (NIJ) dalam analisis barang bukti digital pada aplikasi Instagram berbasis Android, serta mengevaluasi efektivitas penggunaan tools ADB (Android Debug Bridge) dan FTK Imager dalam proses investigasi. Metode NIJ terdiri dari lima tahapan, yaitu Identification, Collection, Examination, Analysis, dan Reporting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses ekstraksi data menggunakan ADB berhasil dilakukan, serta pembuatan image forensik menggunakan FTK Imager dapat menjaga integritas data yang dibuktikan melalui nilai hash MD5 dan SHA1 yang identik. File database utama Instagram, yaitu direct.db, berhasil ditemukan dan dianalisis. Namun, pesan Direct Message (DM) yang mengandung unsur cyberbullying tidak ditemukan karena telah dihapus secara permanen oleh pelaku sebelum proses akuisisi dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi Instagram memiliki mekanisme penghapusan data yang cukup kuat sehingga tidak meninggalkan artefak digital yang dapat dipulihkan melalui metode Logical acquisition. Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode NIJ dapat diterapkan secara sistematis dalam investigasi forensik digital, serta tools ADB dan FTK Imager efektif dalam proses akuisisi dan verifikasi data. Namun, keberhasilan dalam menemukan bukti digital sangat dipengaruhi oleh waktu akuisisi dan metode yang digunakan.
ANALISIS PEMULIHAN BUKTI DIGITAL WHATSAPP BERBASIS WEB MENGGUNAKAN METODE DIGITAL FORENSIC RESEARCH WORKSHOP (DFRWS) lifany naza dewi; Fahmi Fachri
E-Link: Jurnal Teknik Elektro dan Informatika Vol. 21 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/e-link.v21i1.11719

Abstract

Perkembangan teknologi komunikasi digital memberikan dampak positif dalam mempe-rmudah pertukaran informasi melalui aplikasi pesan instan. Salah satu aplikasi yang banyak digunakan masyarakat adalah WhatsApp, termasuk layanan WhatsApp Web yang memungkinkan akses melalui browser komputer. Namun, platform ini juga sering dimanfaatkan dalam tindak kejahatan siber seperti penipuan online. Pelaku biasanya menghapus pesan percakapan dan file pendukung untuk menghilangkan jejak digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan tools digital forensik FTK Imager dan Autopsy dalam memulihkan bukti digital yang telah dihapus pada WhatsApp Web dengan menggunakan metode Digital Forensic Research Workshop (DFRWS). Penelitian ini dilakukan melalui simulasi kasus penipuan online pada perangkat laptop berbasis Windows dengan dengan pendekatan live forensic Dimana proses akuisis data dilakukan saat system dalam keadaan aktif (on).Tahapan penelitian yang meliputi identification, preservation, collection, examination, analysis, dan presentation. FTK Imager digunakan dalam proses akuisisi data sekaligus untuk memulihkan pesan teks, sedangkan Autopsy dimanfaatkan untuk mengekstraksi file gambar yang telah dihapus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh pesan teks yang berjumlah 11 berhasil dipulihkan dengan tingkat keberhasilan mencapai 100%. Sementara itu, dari total 8 file gambar bukti transaksi digital yang dianalisis, sebanyak 7 file berhasil dipulihkan dengan persentase keberhasilan sebesar 87,5%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan kedua tools tersebut secara bersamaan cukup efektif dalam mendukung proses investigasi forensik digital, khususnya dalam pemulihan bukti digital pada platform WhatsApp Web.