Penelitian ini menyelidiki kurangnya penggunaan bahasa Inggris dalam keterampilan berbicara di kalangan mahasiswa jurusan Bahasa Inggris serta mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi terbatasnya penggunaan bahasa Inggris lisan dalam konteks akademik maupun sosial. Meskipun mahasiswa jurusan Bahasa Inggris diharapkan mampu berkomunikasi secara aktif menggunakan bahasa Inggris, banyak dari mereka masih mengalami kesulitan dalam menggunakan bahasa tersebut secara konsisten dalam interaksi sehari-hari. Penelitian ini menggunakan desain mixed-methods yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada 11 responden serta wawancara dengan beberapa partisipan terpilih untuk meneliti frekuensi berbicara, kepercayaan diri, kecemasan, dan lingkungan belajar mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor psikologis seperti kecemasan berbicara, ketakutan melakukan kesalahan tata bahasa, rendahnya rasa percaya diri, dan kekhawatiran terhadap pelafalan secara signifikan memengaruhi kemauan mahasiswa untuk berbicara menggunakan bahasa Inggris. Faktor linguistik, khususnya keterbatasan kosakata, juga berkontribusi terhadap keengganan mahasiswa dalam melakukan komunikasi lisan. Selain itu, mahasiswa cenderung lebih sering menggunakan bahasa ibu mereka karena faktor kebiasaan dan kenyamanan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kurangnya penggunaan bahasa Inggris dalam keterampilan berbicara di kalangan mahasiswa jurusan Bahasa Inggris dipengaruhi oleh kombinasi faktor psikologis, linguistik, dan lingkungan. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan belajar yang suportif dan mendorong aktivitas berbicara yang dapat membangun rasa percaya diri sangat penting untuk meningkatkan kemampuan komunikasi lisan mahasiswa