Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Comprehensive Fall Risk Assessment in an Older Adult Male with Diabetes Mellitus, Hypertension, and a History of Transient Ischemic Attack Using the Morse Fall Scale and Berg Balance Test: A Case Report Ummi Malikal Balqis; Rizkiyani Istifada; Agnestria Winarto; Lailiyatul Munawaroh
Journal of Rural Community Nursing Practice Vol. 4 No. 1 (2026): March
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/jrcnp.v4i1.666

Abstract

Background: Fall risk in older adults is a multifactorial condition associated with balance impairment, muscle weakness, and chronic as well as neurological diseases, requiring a comprehensive assessment. Purpose: This case report aims to analyze fall risk in an older adult with chronic comorbidities using the Morse Fall Scale (MFS) and the Berg Balance Test (BBT). Method: A descriptive case study was conducted on a 70-year-old older adult male with a history of diabetes mellitus, hypertension, and a transient ischemic attack (TIA) in 2025, accompanied by left upper extremity weakness with a muscle strength of 4. Assessment was performed through direct clinical examination using the MFS and BBT instruments. Results: The patient scored 35 on the MFS, indicating a moderate fall risk, and 38 out of 56 on the BBT, indicating moderate balance impairment, particularly in dynamic activities. Conclusions: These findings suggest that the patient’s fall risk is influenced by a combination of post-TIA neurological factors, muscle strength imbalance, and chronic diseases. The combined use of the MFS and BBT provides a comprehensive overview of fall risk, serving as a basis for planning targeted and sustainable nursing interventions.
Comprehensive Fall Risk Assessment in an Older Adult Male with Diabetes Mellitus, Hypertension, and a History of Transient Ischemic Attack Using the Morse Fall Scale and Berg Balance Test: A Case Report Ummi Malikal Balqis; Rizkiyani Istifada; Agnestria Winarto; Lailiyatul Munawaroh
Journal of Rural Community Nursing Practice Vol. 4 No. 1 (2026): March
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/jrcnp.v4i1.666

Abstract

Background: Fall risk in older adults is a multifactorial condition associated with balance impairment, muscle weakness, and chronic as well as neurological diseases, requiring a comprehensive assessment. Purpose: This case report aims to analyze fall risk in an older adult with chronic comorbidities using the Morse Fall Scale (MFS) and the Berg Balance Test (BBT). Method: A descriptive case study was conducted on a 70-year-old older adult male with a history of diabetes mellitus, hypertension, and a transient ischemic attack (TIA) in 2025, accompanied by left upper extremity weakness with a muscle strength of 4. Assessment was performed through direct clinical examination using the MFS and BBT instruments. Results: The patient scored 35 on the MFS, indicating a moderate fall risk, and 38 out of 56 on the BBT, indicating moderate balance impairment, particularly in dynamic activities. Conclusions: These findings suggest that the patient’s fall risk is influenced by a combination of post-TIA neurological factors, muscle strength imbalance, and chronic diseases. The combined use of the MFS and BBT provides a comprehensive overview of fall risk, serving as a basis for planning targeted and sustainable nursing interventions.
Terapi Aktivitas Kelompok Balance Exercise pada Lansia Dengan Risiko Jatuh di Wisma Anggrek UPT PSTW Bondowoso Adis Marsya Salsabila; Arya Adib Toni; Mulenda Isdayana; Amalia Dewi Masithoh; Putra Bagus Bimo; Rani Wulandari; Agnestria Winarto; Fahruddin Kurdi
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i1.673

Abstract

Peningkatan usia menyebabkan degradasi fungsi tubuh yang memicu penurunan keseimbangan dan peningkatan risiko jatuh pada lansia. Salah satu upaya nonfarmakologis untuk mengatasi masalah ini adalah melalui balance exercise. Pengabdian ini bertujuan untuk melatih keseimbangan dan mencegah resiko jatuh melalui balance exercise lansia dengan risiko jatuh tinggi di UPT PSTW Bondowoso. Pengabdian ini dilakukan selama 3 hari dan diikuti enam lansia di Wisma Anggrek. Instrumen pengukuran menggunakan Timed Up and Go Test (TUG Test). Hasil pengukuran awal menunjukkan seluruh subjek memiliki risiko jatuh sedang hingga tinggi dengan nilai TUG antara 13–55 detik. Setelah Balance exercise selama tiga hari, terjadi penurunan waktu tempuh TUG Test pada seluruh peserta dengan rentang penurunan 1 hingga 25 detik. Penurunan waktu paling signifikan terlihat pada Ny. O (dari 50 detik menjadi 24 detik) dan Ny. S (dari 55 detik menjadi 40 detik). Balance exercise secara signifikan meningkatkan stabilitas dinamis dan kekuatan otot ekstremitas bawah, yang berkontribusi pada penurunan risiko jatuh dan peningkatan kepercayaan diri lansia dalam beraktivitas
Terapi Aktivitas Kelompok Balance Exercise pada Lansia Dengan Risiko Jatuh di Wisma Anggrek UPT PSTW Bondowoso Adis Marsya Salsabila; Arya Adib Toni; Mulenda Isdayana; Amalia Dewi Masithoh; Putra Bagus Bimo; Rani Wulandari; Agnestria Winarto; Fahruddin Kurdi
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i1.673

Abstract

Peningkatan usia menyebabkan degradasi fungsi tubuh yang memicu penurunan keseimbangan dan peningkatan risiko jatuh pada lansia. Salah satu upaya nonfarmakologis untuk mengatasi masalah ini adalah melalui balance exercise. Pengabdian ini bertujuan untuk melatih keseimbangan dan mencegah resiko jatuh melalui balance exercise lansia dengan risiko jatuh tinggi di UPT PSTW Bondowoso. Pengabdian ini dilakukan selama 3 hari dan diikuti enam lansia di Wisma Anggrek. Instrumen pengukuran menggunakan Timed Up and Go Test (TUG Test). Hasil pengukuran awal menunjukkan seluruh subjek memiliki risiko jatuh sedang hingga tinggi dengan nilai TUG antara 13–55 detik. Setelah Balance exercise selama tiga hari, terjadi penurunan waktu tempuh TUG Test pada seluruh peserta dengan rentang penurunan 1 hingga 25 detik. Penurunan waktu paling signifikan terlihat pada Ny. O (dari 50 detik menjadi 24 detik) dan Ny. S (dari 55 detik menjadi 40 detik). Balance exercise secara signifikan meningkatkan stabilitas dinamis dan kekuatan otot ekstremitas bawah, yang berkontribusi pada penurunan risiko jatuh dan peningkatan kepercayaan diri lansia dalam beraktivitas
Pemberdayaan Lansia Melalui Tari Toron Ka Sabeh untuk Mendukung Kekuatan Otot, Keseimbangan, dan Mobilitas di UPT PSTW Jember Ummi Malikal Balqis; Agnestria Winarto; Rizkiyani Istifada; Lailiyatul Munawaroh; Latifa Aini Susumaningrum; Rewanda Azizah Tri Indriyani; Akhvi Eka Julia
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i2.972

Abstract

Penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan, dan berkurangnya mobilitas fungsional meningkatkan kerentanan lansia terhadap jatuh dan hilangnya kemandirian. Program pengabdian ini mengembangkan Tari Toron Ka Sabeh sebagai aktivitas fisik adaptif berbasis budaya lokal bagi lansia di UPT PSTW Jember. Kegiatan bertujuan mendukung kekuatan otot, keseimbangan, dan mobilitas fungsional sekaligus memperkenalkan aktivitas yang menyenangkan dan berpotensi diintegrasikan ke kegiatan rutin institusi. Program dilaksanakan dalam enam sesi yang terdiri atas satu pre-test, empat sesi tari, dan satu post-test. Setiap sesi intervensi menggunakan penjelasan interaktif, demonstrasi dan re-demonstrasi, praktik gerak terbimbing, refleksi, serta pemantauan fisik. Evaluasi berpasangan dilakukan pada 18 lansia dengan data pre-test dan post-test lengkap untuk skor komposit Manual Muscle Testing (MMT) 12 komponen, Berg Balance Test (BBT) 14 item, dan Timed Up and Go (TUG). Rata-rata MMT meningkat dari 53,44 menjadi 55,67 dan median dari 54,00 menjadi 57,50; 10 peserta meningkat, lima tetap, dan tiga menurun. Rata-rata TUG membaik dari 15,11 menjadi 14,33 detik dan median dari 14,50 menjadi 13,00 detik, walaupun respons individual heterogen. Pada BBT, rata-rata menurun dari 49,94 menjadi 47,44, sedangkan median meningkat dari 51,50 menjadi 53,00. Uji Wilcoxon eksploratif tidak menunjukkan perubahan berpasangan yang signifikan secara statistik (seluruh p > 0,05). Temuan ini lebih tepat dipahami sebagai bukti kelayakan penerapan dan sinyal awal perubahan fungsi, bukan bukti efektivitas kausal. Program perlu dilanjutkan dengan durasi lebih panjang, progresi gerak individual, pemantauan berulang, dan pengukuran proses yang lebih lengkap.
Pemberdayaan Lansia Melalui Tari Toron Ka Sabeh untuk Mendukung Kekuatan Otot, Keseimbangan, dan Mobilitas di UPT PSTW Jember Ummi Malikal Balqis; Agnestria Winarto; Rizkiyani Istifada; Lailiyatul Munawaroh; Latifa Aini Susumaningrum; Rewanda Azizah Tri Indriyani; Akhvi Eka Julia
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i2.972

Abstract

Penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan, dan berkurangnya mobilitas fungsional meningkatkan kerentanan lansia terhadap jatuh dan hilangnya kemandirian. Program pengabdian ini mengembangkan Tari Toron Ka Sabeh sebagai aktivitas fisik adaptif berbasis budaya lokal bagi lansia di UPT PSTW Jember. Kegiatan bertujuan mendukung kekuatan otot, keseimbangan, dan mobilitas fungsional sekaligus memperkenalkan aktivitas yang menyenangkan dan berpotensi diintegrasikan ke kegiatan rutin institusi. Program dilaksanakan dalam enam sesi yang terdiri atas satu pre-test, empat sesi tari, dan satu post-test. Setiap sesi intervensi menggunakan penjelasan interaktif, demonstrasi dan re-demonstrasi, praktik gerak terbimbing, refleksi, serta pemantauan fisik. Evaluasi berpasangan dilakukan pada 18 lansia dengan data pre-test dan post-test lengkap untuk skor komposit Manual Muscle Testing (MMT) 12 komponen, Berg Balance Test (BBT) 14 item, dan Timed Up and Go (TUG). Rata-rata MMT meningkat dari 53,44 menjadi 55,67 dan median dari 54,00 menjadi 57,50; 10 peserta meningkat, lima tetap, dan tiga menurun. Rata-rata TUG membaik dari 15,11 menjadi 14,33 detik dan median dari 14,50 menjadi 13,00 detik, walaupun respons individual heterogen. Pada BBT, rata-rata menurun dari 49,94 menjadi 47,44, sedangkan median meningkat dari 51,50 menjadi 53,00. Uji Wilcoxon eksploratif tidak menunjukkan perubahan berpasangan yang signifikan secara statistik (seluruh p > 0,05). Temuan ini lebih tepat dipahami sebagai bukti kelayakan penerapan dan sinyal awal perubahan fungsi, bukan bukti efektivitas kausal. Program perlu dilanjutkan dengan durasi lebih panjang, progresi gerak individual, pemantauan berulang, dan pengukuran proses yang lebih lengkap.
An Overview of Self-Determination in Supporting Healthy Aging in Older Adults: A Narrative Review Agnestria Winarto
Journal of Rural Community Nursing Practice Vol. 3 No. 2 (2025): September
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/jrcnp.v3i2.594

Abstract

Introduction: The concept of healthy aging is strongly connected to self-determination theory, with older individuals engaging their sense of autonomy, skills, and social bonds to improve their overall quality of life. Aims: This review aims to determine the picture of self-determination in the older adults. Methods: Seven relevant study articles between 2011-2024 from PubMed, SpringerLink and BMC Geriatric were thematically review. Results: Self-determination in older adults, which includes autonomy, competence, and social connectedness, can decline due to factors such as physical frailty, cognitive impairment, and reliance on assistance. Intrinsic motivation and the fulfillment of psychological needs are key drivers in encouraging active participation of older adults in various activities. Beyond supporting independence, self-determination also directly enhances the physical, emotional, and social quality of life in older adults. Conclusions: Physical frailty, worsening health conditions, and cognitive decline may lead to a decrease in self-determination among older adults, yet their intrinsic motivation still plays a crucial role in driving active engagement. Recognizing these factors is vital for creating interventions that promote autonomy and enhance the overall well-being of elderly individuals.
An Overview of Self-Determination in Supporting Healthy Aging in Older Adults: A Narrative Review Agnestria Winarto
Journal of Rural Community Nursing Practice Vol. 3 No. 2 (2025): September
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/jrcnp.v3i2.594

Abstract

Introduction: The concept of healthy aging is strongly connected to self-determination theory, with older individuals engaging their sense of autonomy, skills, and social bonds to improve their overall quality of life. Aims: This review aims to determine the picture of self-determination in the older adults. Methods: Seven relevant study articles between 2011-2024 from PubMed, SpringerLink and BMC Geriatric were thematically review. Results: Self-determination in older adults, which includes autonomy, competence, and social connectedness, can decline due to factors such as physical frailty, cognitive impairment, and reliance on assistance. Intrinsic motivation and the fulfillment of psychological needs are key drivers in encouraging active participation of older adults in various activities. Beyond supporting independence, self-determination also directly enhances the physical, emotional, and social quality of life in older adults. Conclusions: Physical frailty, worsening health conditions, and cognitive decline may lead to a decrease in self-determination among older adults, yet their intrinsic motivation still plays a crucial role in driving active engagement. Recognizing these factors is vital for creating interventions that promote autonomy and enhance the overall well-being of elderly individuals.