Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tradisi Khataman AL Qur'an di Desa Pintasan Kecamatan Gaung: Studi Living Al Qur'an Pembentuk Keagamaan Masyarakat Abdullah; Rudoul Wahidi; Syafril
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i3.6091

Abstract

Tradisi keagamaan berbasis Al-Qur’an yang hidup di tengah masyarakat merupakan bagian penting dalam membentuk spiritualitas, budaya, dan identitas religius komunitas Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan tradisi khataman Al-Qur’an di Desa Pintasan Kecamatan Gaung, mengungkap nilai-nilai religius, sosial, dan edukatif yang terkandung di dalamnya, serta menganalisis makna keberadaan tradisi tersebut dalam perspektif Living Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif lapangan dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan reflektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi khataman di Desa Pintasan bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga sarana pembinaan spiritual, penguatan solidaritas sosial, media pendidikan keagamaan, serta simbol kelestarian budaya religius masyarakat. Tradisi ini mampu menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, memperkuat identitas keislaman, dan menjaga kontinuitas nilai keagamaan di tengah perubahan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa Living Qur’an benar-benar hadir sebagai realitas sosial yang hidup dalam kehidupan masyarakat Muslim
Tawhid and Qur’anic Interpretation in Early 20th-Century Minangkabau: A Philological-Theological Study of Abdul Latif Syakur’s al-Tawḥīd (1882–1963) Ridhoul Wahidi; Benny Afwadzi; Syafril; Riki Rahman
Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Hadis Vol. 26 No. 2 (2025): Juli
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/qh.v26i2.6268

Abstract

The Islamic reform movement in early 20th-century Minangkabau, West Sumatra, evolved through three phases. The first phase involved intellectual engagement, followed by military conflict, and later, modernization through education. During the third phase, scholarly production increased significantly. However, reformist literature predominantly concentrated on debates about tariqa (religious order) and fiqh (jurisprudence). Substantive discourse on tawhid (oneness of God) was absent, which forms the foundation of aqidah (creed). This study explores Abdul Latif Syakur’s al-Tawhid manuscript (1882–1963) to explore this underexamined aspect of Islamic theological discourse. Employing an integrative qualitative approach (philological-theological and historical analysis), the research explores three aspects: (1) Syakur’s construct of integrative tawhid, which synthesizes rubūbiyyah (lordship), ulūhiyyah (godship), and asmā’ wa ṣifāt (divine names and attributes); (2) his critique of shirk (associating partners with God) in both its jahiliyyah (pagan-ritualistic) and modern (secular-materialistic) forms; and (3) the role of ikhlas (sincere devotion) as a bridge between tawhidand social praxis. The findings show Syakur presents a non-polemical approach, integrating Minangkabau's local values (adat basandi syarak, or Sharia-based tradition) with Islamic doctrine. He also critiques the tendency to reduce tawhid to ritual formalism or a strict separation between religion and state. His concept of modern shirk provides valuable insights into current challenges, such as materialism and environmental issues. By integrating education and literacy at an institution informally known as Surau Si Camin, Syakur contributed to a holistic reform that emphasized the unity of aqidah, ethics, and social responsibility. This study affirms the relevance of integrative tawhid as a framework for conflict resolution and interfaith dialogue in pluralistic societies while revitalizing the intellectual legacy of Islam in the Nusantara region (the Malay-Indonesian archipelago).