Karya sastra dan kehidupan sosial tidak pernah bisa dipisahkan keduanya saling membentuk dan saling menafsirkan. Di era digital, relasi ini menemukan wajah barunya: puisi tidak lagi menunggu antrian redaktur atau rak toko buku, melainkan lahir dan menyebar melalui platform media sosial, termasuk Facebook. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana kecemasan sosial masyarakat Indonesia termanifestasi dalam puisi-puisi digital yang beredar di Facebook, dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra sebagai pijakan analisisnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan sumber data 15 puisi digital yang diunggah melalui akun Facebook pribadi serta grup "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia XI 23" dan "Puisi Kaki Abu" selama periode Januari hingga Mei 2026. Data dikumpulkan melalui observasi digital, dokumentasi, serta teknik simak dan catat, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Keabsahan temuan dijamin melalui triangulasi sumber dan triangulasi teori menyandarkan interpretasi pada teori sosiologi sastra Wellek dan Warren (1993) serta teori refleksi sosial Swingewood (1972). Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi digital Facebook bukan sekadar ekspresi estetis individual, melainkan dokumen sosial yang mencerminkan denyut keresahan masyarakat secara kolektif. Ditemukan empat bentuk kecemasan sosial yang mengemuka (1) Kecemasan terhadap ketidakadilan sosial dan kolonialisme, (2) Kecemasan sekaligus semangat perlawanan, (3) Kecemasan ekonomi dalam tekanan kehidupan sehari-hari, dan (4) Kecemasan global akibat ancaman perang. Keempat bentuk tersebut hadir melalui pilihan diksi, metafora, dan simbol kebahasaan yang tumbuh organik dari konteks sosial yang melingkupi pengarangnya. Facebook sendiri tidak sekadar berfungsi sebagai medium penyebaran, melainkan turut membentuk ekosistem sastra digital yang hidup.