Gatot Sarmidi
Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Representasi Kecemasan Social dalam Puisi Digital Facebook: Kajian Sosiologi Sastra Annisa Ainur Rohmah; Yasinta Sinarti; Afifatul Azizah; Gatot Sarmidi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38769

Abstract

Karya sastra dan kehidupan sosial tidak pernah bisa dipisahkan keduanya saling membentuk dan saling menafsirkan. Di era digital, relasi ini menemukan wajah barunya: puisi tidak lagi menunggu antrian redaktur atau rak toko buku, melainkan lahir dan menyebar melalui platform media sosial, termasuk Facebook. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana kecemasan sosial masyarakat Indonesia termanifestasi dalam puisi-puisi digital yang beredar di Facebook, dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra sebagai pijakan analisisnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan sumber data 15 puisi digital yang diunggah melalui akun Facebook pribadi serta grup "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia XI 23" dan "Puisi Kaki Abu" selama periode Januari hingga Mei 2026. Data dikumpulkan melalui observasi digital, dokumentasi, serta teknik simak dan catat, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Keabsahan temuan dijamin melalui triangulasi sumber dan triangulasi teori menyandarkan interpretasi pada teori sosiologi sastra Wellek dan Warren (1993) serta teori refleksi sosial Swingewood (1972). Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi digital Facebook bukan sekadar ekspresi estetis individual, melainkan dokumen sosial yang mencerminkan denyut keresahan masyarakat secara kolektif. Ditemukan empat bentuk kecemasan sosial yang mengemuka (1) Kecemasan terhadap ketidakadilan sosial dan kolonialisme, (2) Kecemasan sekaligus semangat perlawanan, (3) Kecemasan ekonomi dalam tekanan kehidupan sehari-hari, dan (4) Kecemasan global akibat ancaman perang. Keempat bentuk tersebut hadir melalui pilihan diksi, metafora, dan simbol kebahasaan yang tumbuh organik dari konteks sosial yang melingkupi pengarangnya. Facebook sendiri tidak sekadar berfungsi sebagai medium penyebaran, melainkan turut membentuk ekosistem sastra digital yang hidup.
Potret Kehidupan Sosial dalam Novel Dia adalah Kakakku Karya Tere Liye: Kajian Sosiologi Sastra Cinta Dwi Afrilya; Mauleni Rizky Ertikahayu; Khaylla Adellia Chayati; Gatot Sarmidi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38888

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan potret kehidupan sosial dalam novel Dia Adalah Kakakku melalui kajian sosiologi sastra dari sudut pandang penulis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh anggapan bahwa karya sastra merupakan refleksi realitas sosial yang tidak terlepas dari kondisi masyarakat dan pengalaman pengarang. Novel sebagai karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sarana penyampaian nilai sosial dan kritik terhadap kehidupan masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologi sastra. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan teknik baca dan catat terhadap teks novel. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Dia Adalah Kakakku memuat berbagai aspek kehidupan sosial, seperti hubungan kekeluargaan, konflik sosial, nilai kasih sayang, empati, pengorbanan, serta tanggung jawab sosial. Selain itu, sudut pandang penulis dalam novel memperlihatkan adanya refleksi pengalaman sosial yang diolah secara imajinatif sehingga menghasilkan karya sastra yang memiliki nilai moral dan sosial yang kuat. Penelitian ini juga menemukan bahwa pengarang menggunakan pengalaman sosial sebagai dasar pembentukan karakter dan konflik dalam cerita sehingga novel menjadi representasi kehidupan masyarakat secara realistis. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian sosiologi sastra, khususnya mengenai hubungan antara karya sastra, realitas sosial, dan perspektif pengarang.
Persepsi Pembaca terhadap Novel 00.00 Karya Ameylia Falensia: Kajian Sosiologi Sastra Chania Nurul Alifyah; Oca Merita Dwi Palupi; Reni Indah Pratiwi; Gatot Sarmidi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38889

Abstract

Penelitian ini mengkaji persepsi pembaca terhadap novel 00.00 karya Ameylia Falensia dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Penelitian bersifat kualitatif-deskriptif dengan melibatkan enam responden dari kelompok dewasa muda (19–25 tahun) melalui kuesioner daring dan dokumentasi komentar pembaca di media sosial. Temuan penelitian mengungkap tiga dimensi persepsi pembaca: (1) pada tahap awal membaca, pembaca cenderung menempatkan teks sebagai otoritas utama pemahaman, dengan 83,3% responden menyatakan pemahaman mereka lebih dipengaruhi isi cerita; (2) dalam memaknai unsur-unsur novel—tokoh, konflik, dan alur respon pembaca beragam, dengan pemaknaan konflik terbagi merata antara cerminan pengalaman pribadi, gambaran kehidupan sosial, dan cerita fiksi semata; serta (3) pada tahap pembentukan kesimpulan akhir, 66,7% pembaca menyadari bahwa makna sangat bergantung pada pengalaman pribadi. Data komentar media sosial memperkuat temuan tersebut dengan mengungkap respon emosional kolektif yang intens, mencerminkan kemampuan novel ini berfungsi sebagai cermin sosial yang produktif bagi generasi muda kontemporer.
Kognisi dan Dimensi Sosial dalam Novel Pulang Karya Tere Liye: Perspektif Teun A. Van Dijk Yulia Wulandari; Miftah Nur Rizqi; Salsa Billa Sastra Indriyanto; Gatot Sarmidi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38922

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap cara kerja pembicaraan internal dalam novel Pulang karya Tere Liye dengan menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis yang diproposekan oleh Teun A. Van Djik. Polusi air tanah akibat limbah industri dan rumah tangga adalah krisis multidimensi. Fokus penelitian ini adalah mengeksplorasi bagaimana kognisi sosial para tokoh membangun dimensi sosial dalam struktur kekuasaan Shadow Economy. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik membaca dan mencatat. Penelitian menunjukkan bahwa cara berpikir sosial tokoh Bujang didominasi oleh pola peran loyalitas mutlak sebagai bagian dari upaya mencari jati diri, sedangkan tokoh Basyir menunjukkan cara berpikir sosial berbasis tukar-menukar yang dipicu oleh rasa dendam dari masalalu. Polusi air tanah akibat limbah industri dan rumah tangga merupakan krisis multidimensi yang menunjukkan ketidakseimbangan hak individu yang berlangsung dalam masyarakat, yang terungkap dalam Bab 22 dan puncaknya pada kematian Tauke Besar di Bab 23, merupakan manifestasi dari pergesera n kognisi individu yang secara drastis mengubah dimensi sosial atau hegmoni kekuasaan Keluarga Tong. Penelitian ini menyatakan bahwa aspek sosial dalam novel tersebut tidak terpisah, melainkan dibangun secara terencana melalui cara berpikir dan gambaran mental yang dimiliki oleh tokoh-tokohnya.
Representasi Fenomena Sosial Remaja Era Digital dalam Novel Mariposa Karya Luluk H.F.: Kajian Sastra Kontemporer Meiza Oxanda; Hibatullah Adam Villalba; Widya Tika Rahma Dina; Gatot Sarmidi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.39153

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi fenomena sosial remaja era digital dalam novel Mariposa karya Luluk H.F. melalui kajian sastra kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra Ian Watt yang memandang karya sastra sebagai refleksi kondisi sosial masyarakat. Sumber data penelitian berupa novel Mariposa cetakan ke-12 tahun 2018. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak dan catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menafsirkan bentuk-bentuk fenomena sosial yang muncul dalam novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Mariposa merepresentasikan lima fenomena sosial remaja era digital, yaitu: (1) budaya FOMO, stalking, dan validasi sosial di Instagram; (2) gaya pacaran impulsif dan digital dating violence; (3) krisis identitas dan standar kecantikan remaja perempuan akibat media sosial; (4) fenomena personal branding dan gengsi akademik; serta (5) budaya spill dan hilangnya ruang privat remaja. Tokoh Acha dan Iqbal merepresentasikan remaja generasi digital yang mengalami tekanan sosial akibat tuntutan citra diri, validasi virtual, dan budaya komunikasi media sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa novel Mariposa tidak hanya berfungsi sebagai karya hiburan, tetapi juga sebagai kritik sosial terhadap kehidupan remaja modern yang sangat dipengaruhi oleh media digital. Novel ini memperlihatkan bahwa media sosial memiliki dampak positif dalam mempermudah interaksi sosial, tetapi juga dapat menimbulkan kecemasan sosial, krisis identitas, dan tekanan psikologis pada remaja. Oleh karena itu, novel Mariposa relevan dijadikan media refleksi sosial dan edukasi mengenai kehidupan remaja di era digital.
Marginalisasi Tokoh Wanita dalam Novel “Sisi Tergelap Surga” Erlin Apriliani; Priska Noya Sari; Muhammad Yahya R. N; Gatot Sarmidi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.39641

Abstract

Peneltian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana prempuan mengalami marginalisasi dalam karya novel sisi tergelap surga yang ditulis Brian Khrisna. Penelitian ini memfokuskan perhatian pada karakter juleha, yang menghadapi beragam bentuk bentuk ketidakadilan sosial akibat profesi dan statusnya sebagai pekerja seks komersial (PSK). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan femenisme dalam sastra. Data yang diperlukan dikempulkan melalui teknik membaca serta mencatat kutipan-kutipan yang berhubungan dengan marginalisasi prempuan yang ada dalam novel tersebut. Proses analisis data dilakukan cara mengelompokkan informasi berdasarkan tipe marginal, lalu dianalisis memakai teori feminisme. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa pengalaman marginalisasi yang dialami oleh karakter juleha mencakup stigma dari masyrakat, pelecehanan secara verbal kekerasan seksusal, tekanan mental , dan keterbatsan dalam aspek ekonomi serta pendidikan. Masyarakat melihat juleha dengan rendah karena pekerjaanya, sehingga dia mengalami beragam bentuk diskriminasi dan ketidakadilan berdasarkan gender. Disamping itu, kondidisi ekonomi dan pengalaman traumatis dimasalalu menjadi alasan utama yang membuat juleha tetap bertahan dalam pekerjaanya. Dengan pendekatan fiminisme sastra, novel ini memperlihatkan bahwa prempuan sering kali di tempatkan dalam posisi yang tidak setara dalam masyarakat dan mendapatkan penilaian moral yang lebih berat dibandingkan dengan laki-laki.
Representasi Krisis Kemanusiaan dalam Lagu “Membasuh” Karya Baskara Putra dan “Manusia Seutuhnya” Karya Setyo Aji Handoyo: Kajian Sosioantropologi Sastra Claudia Tiara Aji; Rodiyah Ummil Mu’minin; Sefiona Elvi; Gatot Sarmidi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi krisis kemanusiaan dalam lagu "Membasuh" karya Hindia dan "Manusia Seutuhnya" karya Setyo Aji Handoyo melalui perspektif sosioantropologi sastra. Krisis kemanusiaan dalam konteks ini dipandang sebagai refleksi atas tekanan psikososial dan perubahan pola relasi manusia di era digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik analisis isi pada lirik lagu "Membasuh" dan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan pencipta lagu "Manusia Seutuhnya". Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua lagu merepresentasikan dua dimensi krisis yang saling melengkapi: "Membasuh" berfokus pada krisis personal individu terkait kelelahan emosional dan pencarian katarsis , sedangkan "Manusia Seutuhnya" memberikan kritik sosial terhadap alienasi dan ketergantungan pada validasi digital yang menggerus autentisitas relasi. Secara sosioantropologis, kedua karya ini berfungsi sebagai dokumen budaya yang merekam pergeseran nilai kemanusiaan dalam masyarakat kontemporer.