Kecemasan bertanding merupakan salah satu hambatan psikologis yang sering dialami atlet disabilitas intelektual dan berpotensi menurunkan performa olahraga .Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam strategi koping mandiri dan respon instruksional pelatih dalam mengelola kecemasan bertanding pada atlet disabilitas intelektual cabang olahraga bulutangkis. Penelitian menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus murni, data dihimpun melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif pasif, dan studi dokumentasi terhadap seorang atlet tunagrahita jenjang sekolah menengah atas, pelatih olahraga, serta guru kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan bertanding dimanifestasikan melalui gejala fisiologis berupa debaran jantung serta gejala emosional berupa takut kalah, sedih, dan malu ketika melakukan kesalahan. Keramaian dan kebisingan lingkungan pertandingan menjadi faktor utama yang memicu gangguan fokus atlet. Untuk mengatasi kondisi tersebut, atlet menerapkan strategi coping sederhana berupa menarik napas dalam-dalam, minum air putih, dan berdoa. Selain itu, respons instruksional pelatih yang adaptif melalui penggunaan kalimat singkat, penyampaian yang perlahan, serta peragaan gerak secara langsung terbukti membantu memulihkan fokus dan stabilitas emosi atlet. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi strategi coping dan pendekatan instruksional adaptif sebagai sistem pendukung psikologis dalam pembinaan olahraga bagi atlet disabilitas intelektual. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pengondisian mental atlet dan integrasi kurikulum kepelatihan berbasis visual pada sekolah luar biasa.