Siti happy Sasmyta
Universitas Islam Negri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Dari Purifikasi Individual ke Emansipasi Struktural: Rekonstruksi Tazkiyatun Nafs dalam Paradigma Teologi Kritis Berbasis Tauhid Maldini Qurrotu Aini; Nabila Silviatus Sholehah; Siti happy Sasmyta; Ali Hasan Siswanto
Almustofa Journal of Islamic Studies and Research Vol 3 No 1 (2026): New Tren in Islamic Religious Educatoin
Publisher : BAMALA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam lanskap kontemporer, studi teologi Islam menghadapi krisis epistemologis yang ditandai oleh ketegangan antara formalisme normatif dan tuntutan transformasi sosial. Sementara itu, tasawuf sebagai dimensi spiritual Islam cenderung direduksi menjadi praktik individual yang terlepas dari dinamika struktural masyarakat. Kesenjangan penelitian (research gap) terletak pada absennya kerangka teoretis yang secara sistematis mengintegrasikan tazkiyatun nafs sebagai praksis spiritual dengan teologi kritis berbasis tauhid sebagai paradigma analisis sosial. Sebagian besar studi masih bersifat deskriptif atau parsial, sehingga belum mampu menghasilkan sintesis epistemologis yang koheren dan transformatif. Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi tazkiyatun nafs sebagai praksis transformatif dalam kerangka teologi kritis berbasis tauhid emansipatoris. Pendekatan teoretis yang digunakan adalah integrasi antara teologi Islam, tasawuf, dan teori kritis, dengan menempatkan tauhid sebagai prinsip epistemologis pembebasan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain library research, melalui analisis hermeneutis-kritis terhadap sumber-sumber klasik dan literatur akademik mutakhir. Argumen utama artikel ini adalah bahwa tazkiyatun nafs tidak dapat lagi dipahami sebagai purifikasi individual semata, melainkan sebagai proses pembentukan subjek kritis yang mengintegrasikan kesadaran spiritual dan kesadaran sosial. Dalam kerangka ini, tauhid berfungsi sebagai basis emansipatoris yang menegasikan segala bentuk dominasi dan “syirik struktural.” Kontribusi ilmiah artikel ini terletak pada formulasi konsep “tazkiyatun nafs transformatif” dan “tauhid emansipatoris” sebagai paradigma baru dalam teologi kritis Islam. Pendekatan ini menawarkan kebaruan dengan menjembatani dimensi spiritual dan praksis sosial dalam satu kerangka epistemologis yang utuh, serta memperkaya diskursus global tentang hubungan antara agama dan transformasi sosial.