Latar Belakang : Masa remaja merupakan tahap peralihan antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan berbagai perubahan, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Pada fase ini, individu sedang dalam proses pencarian jati diri, pembentukan karakter, serta penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitar. Perkembangan yang terjadi pada masa remaja sangat menentukan kualitas kepribadian seseorang di masa depan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembelajaran pendidikan agama terhadap perkembangan kepribadian remaja di tengah arus globalisasi dan modernisasi, serta mengidentifikasi dampak positif, dampak negatif, dan tantangan yang dihadapi, guna merumuskan strategi pembelajaran yang relevan. Metode : Dalam penelitaan ini metode yang di gunakan menggunakan pendekatan studi kepustakaan dengan menelaah berbagai sumber, dalil Al-Qur’an, Hadits, dan hasil penelitian terdahulu untuk menguraikan hubungan antara internalisasi nilai agama dengan pembentukan karakter dan kematangan kepribadian remaja. Hasil dan Pembahasan : Hasil pembahasan menunjukkan bahwa pendidikan agama memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian yang kokoh, berakhlak mulia, serta membangun kesadaran spiritual (habluminallah dan habluminannas), sehingga remaja mampu mengendalikan diri, menghindari perilaku menyimpang, dan menjaga keharmonisan sosial. Namun, penerapan metode yang terlalu dogmatis, kaku, tidak inklusif, serta penyampaian materi yang terpisah dari isu kekinian justru berpotensi menimbulkan dampak negatif berupa sikap kaku, eksklusif, dan rasa tidak relevan terhadap ajaran agama. Kesimpulan : Di era modern, tantangan utama berupa pengaruh teknologi dan pergeseran nilai menuntut penyesuaian strategi pembelajaran yang kreatif, memanfaatkan media digital, serta melibatkan sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan. Pendidikan agama menjadi fondasi utama pembentukan kepribadian remaja yang berkarakter, namun efektivitasnya sangat bergantung pada cara penyampaian yang mengutamakan pemahaman kritis, nilai toleransi, dan keterkaitan dengan kehidupan nyata, agar nilai agama benar-benar menjadi kompas moral di tengah dinamika sosial.