Takdir merupakan realitas eksistensial yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, namun sering kali dipahami secara tidak tepat. Sebagian manusia cenderung menerima ketentuan yang menyenangkan dan menolak ketentuan yang menyakitkan, sehingga melahirkan sikap keluh kesah dan prasangka negatif terhadap Tuhan. Dalam filsafat Stoa, terdapat konsep amor fati, yaitu sikap mencintai takdir sebagai bagian dari keteraturan rasional alam semesta. Sementara itu, dalam Islam dikenal konsep ridha terhadap qadha dan qadar sebagai bentuk kedewasaan spiritual dan keimanan. Berdasarkan problematika tersebut, penelitian ini merumuskan pertanyaan utama: bagaimana konsep amor fati dalam filsafat Stoa, dan bagaimana konsep penerimaan takdir dalam Islam, serta bagaimana kemungkinan sintesis teologis-filosofis antara keduanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Data diperoleh dari sumber primer berupa karya filsuf Stoa, Al-Qur’an, dan kitab tafsir, serta sumber sekunder berupa buku dan artikel ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dan komparatif untuk menemukan titik temu dan perbedaan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amor fati dalam Stoikisme menekankan penerimaan rasional terhadap ketentuan realitas alam semesta, sedangkan Islam menekankan penerimaan takdir berbasis tauhid, ikhtiar, dan tawakkal. Kesimpulannya, kedua konsep tersebut dapat dipertemukan dalam kerangka sintesis, di mana mencintai takdir tidak meniadakan usaha, melainkan menumbuhkan ketenangan batin, kedewasaan moral dan kebahagiaan sejati.