Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Masyarakat Madani sebagai Pilar Demokrasi dalam Perspektif Politik Islam Destri Aryani; Efi Febriany; Melisa; Koko Adya Winata
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 6 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/h8t91y10

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep masyarakat madani sebagai pilar demokrasi dalam perspektif politik Islam serta relevansinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Masyarakat madani dipahami sebagai tatanan sosial yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban, keadilan, partisipasi masyarakat, supremasi hukum, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Dalam perspektif politik Islam, konsep tersebut memiliki keterkaitan erat dengan prinsip syura, keadilan (al-‘adalah), persamaan (al-musawah), dan tanggung jawab sosial yang menjadi dasar dalam penyelenggaraan kehidupan politik yang demokratis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) melalui analisis berbagai literatur, jurnal ilmiah, dan sumber-sumber akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat madani memiliki peran strategis dalam memperkuat demokrasi melalui penguatan partisipasi politik, kontrol sosial terhadap kekuasaan, serta pembangunan budaya politik yang inklusif dan toleran. Politik Islam memandang demokrasi bukan hanya sebagai mekanisme kekuasaan, tetapi juga sebagai sarana mewujudkan kemaslahatan bersama dan keadilan sosial. Di Indonesia, implementasi nilai-nilai masyarakat madani dalam perspektif politik Islam dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan demokrasi, seperti polarisasi politik, intoleransi, dan krisis etika publik. Dengan demikian, sinergi antara masyarakat madani dan nilai-nilai politik Islam menjadi elemen penting dalam menciptakan sistem demokrasi yang berkeadaban, partisipatif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Implementasi Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Nur Syahbani Ramadhani Safitri; Nayla Aprilia Wardani; Koko Adya Winata
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 6 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/cnmeh076

Abstract

The value of Belief in the One and Only God is a fundamental principle in the life of the Indonesian nation and state, functioning as a moral, ethical, and spiritual foundation in building a harmonious social order. This study aims to analyze the forms of implementation of the value of Belief in the One and Only God in community life and its relevance to the dynamics of nationhood and statehood. The research method used is a qualitative approach with a descriptive-analytical type of research, through literature review, conceptual analysis, and interpretation of various social phenomena related to religious and national life. The results of the study indicate that the value of Belief in the One and Only God not only has a theological dimension but also serves as an ethical guideline in shaping attitudes of tolerance, justice, social responsibility, and respect for diversity. The implementation of this value is reflected in state practices, social interactions, and the collective awareness of society in maintaining national unity. This study confirms that strengthening the value of Belief in the One and Only God is an important element in facing the challenges of modernity, including moral crises, social conflicts, and value degradation. Therefore, the internalization of this value needs to be continuously developed through education, public policy, and social culture to strengthen national character. Keywords: Implementation, Belief in the One and Only God, Nationhood, Statehood Abstrak Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan prinsip fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, yang berfungsi sebagai landasan moral, etika, dan spiritual dalam membangun tatanan sosial yang harmonis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk implementasi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam kehidupan masyarakat serta relevansinya terhadap dinamika kebangsaan dan kenegaraan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-analitis, melalui kajian literatur, analisis konseptual, dan interpretasi terhadap berbagai fenomena sosial yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan dan kebangsaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Ketuhanan Yang Maha Esa tidak hanya memiliki dimensi teologis, tetapi juga berperan sebagai pedoman etis dalam membentuk sikap toleransi, keadilan, tanggung jawab sosial, serta penghormatan terhadap keberagaman. Implementasi nilai tersebut tercermin dalam praktik kehidupan bernegara, interaksi sosial, serta kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga persatuan nasional. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi elemen penting dalam menghadapi tantangan modernitas, termasuk krisis moral, konflik sosial, dan degradasi nilai. Oleh karena itu, internalisasi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa perlu terus dikembangkan melalui pendidikan, kebijakan publik, dan budaya sosial untuk memperkuat karakter kebangsaan. Kata Kunci : Implementasi, Nilai Ketuhanan yang maha esa, Berbangsa, Bernegara
Mikrokosmos Dalam Perspektif Islam Sebagai Dasar Etika Lingkungan Syifa Fajri Ramdhani; Naisya Azzahra; Koko Adya Winata
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 6 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/f7nkzs14

Abstract

Krisis lingkungan global yang ditandai oleh perubahan iklim, kerusakan hutan, pencemaran air dan udara, serta hilangnya keanekaragaman hayati menunjukkan adanya krisis etika dalam relasi manusia dengan alam. Paradigma modern yang bercorak antroposentris cenderung menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa absolut atas lingkungan, sehingga mendorong eksploitasi yang melampaui batas keseimbangan ekologis. Dalam perspektif Islam, relasi manusia dan alam tidak bersifat dominatif, melainkan integral dan teosentris. Konsep mikrokosmos (al-‘alam al-shaghir) memandang manusia sebagai miniatur alam semesta yang mengandung unsur material dan spiritual sekaligus, sehingga memiliki keterkaitan ontologis dengan makrokosmos (al-‘alam al-kabir).Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep mikrokosmos dalam khazanah pemikiran Islam serta mengeksplorasi relevansinya sebagai dasar etika lingkungan kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), melalui analisis terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, hadis, serta karya-karya pemikir Islam klasik dan kontemporer seperti Al-Ghazali, Ibnu Arabi, dan Seyyed Hossein Nasr. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep mikrokosmos dalam Islam berakar pada prinsip tauhid yang menegaskan kesatuan penciptaan dan keteraturan kosmik. Manusia sebagai khalifah di bumi memikul amanah untuk menjaga keseimbangan (mizan), menegakkan keadilan ekologis, dan menghindari kerusakan (fasad). Dengan demikian, etika lingkungan dalam perspektif Islam tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga transendental karena berlandaskan tanggung jawab spiritual kepada Tuhan. Konsep mikrokosmos menawarkan paradigma etika lingkungan yang holistik, berorientasi pada keberlanjutan, serta relevan dalam menjawab tantangan krisis ekologis global dewasa ini. Kata kunci: mikrokosmos, etika lingkungan, tauhid, khalifah, keseimbangan ekologis   Abstract The global environmental crisis, characterized by climate change, forest destruction, water and air pollution, and biodiversity loss, demonstrates an ethical crisis in the relationship between humans and nature. The modern anthropocentric paradigm tends to place humans as the center and absolute ruler of the environment, thus encouraging exploitation that exceeds the limits of ecological balance. From an Islamic perspective, the relationship between humans and nature is not dominant, but integral and theocentric. The concept of the microcosm (al-'alam al-shaghir) views humans as a miniature universe containing both material and spiritual elements, thus possessing an ontological connection with the macrocosm (al-'alam al-kabir). This article aims to analyze the concept of the microcosm within Islamic thought and explore its relevance as a basis for contemporary environmental ethics. This research uses a qualitative approach with library research methods, through analysis of verses from the Quran, hadith, and the works of classical and contemporary Islamic thinkers such as Al-Ghazali, Ibn Arabi, and Seyyed Hossein Nasr. The study's findings indicate that the concept of the microcosm in Islam is rooted in the principle of monotheism, which affirms the unity of creation and cosmic order. As caliphs on earth, humans are entrusted with maintaining balance (mizan), upholding ecological justice, and preventing damage (fasad). Therefore, environmental ethics from an Islamic perspective is not only normative but also transcendental, grounded in spiritual responsibility to God. The concept of the microcosm offers a holistic, sustainability-oriented, and relevant environmental ethics paradigm in addressing the challenges of today's global ecological crisis. Keywords: microcosm, environmental ethics, monotheism, caliph, ecological balance
Pentingnya Etika, Akhlak, dan Moral bagi Generasi Muda Nayla Muzdalifah; Rizkya Dhea Ramadhan; Koko Adya Winata
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 6 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/28vj4q92

Abstract

Pesatnya kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi di era globalisasi membawa pengaruh besar bagi perilaku dan cara generasi muda memaknai nilai-nilai moral. Kemudahan akses informasi melalui internet dan media sosial tidak hanya memberi dampak positif, tetapi juga menjadi pintu masuk budaya luar yang sering bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur masyarakat. Kondisi ini memicu perubahan norma kehidupan, seperti meningkatnya individualisme, menurunnya kepedulian, dan berkurangnya sikap menghargai orang lain. Fenomena tersebut menunjukkan pentingnya penanaman etika, akhlak, dan moral sejak usia dini, mengingat pengaruh lingkungan dan teknologi tidak selalu disertai pemahaman nilai moral yang kokoh. Jika tidak diarahkan dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan perilaku menyimpang dan melemahkan karakter generasi muda. Penelitian ini bertujuan menelaah peran etika, akhlak, dan moral dalam pembentukan karakter generasi muda, menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa etika, akhlak, dan moral berperan penting dalam membentuk individu yang berintegritas, bertanggung jawab, dan bertindak sesuai norma masyarakat, dengan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai faktor utama penanamannya. Karena itu, diperlukan keterlibatan aktif berbagai pihak untuk memperkuat pembentukan karakter generasi muda agar mampu menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai moral. Kata kunci: Etika, Akhlak, Moral, Generasi Muda, Karakter, Globalisasi, Teknologi, Pendidikan Karakter Abstract The rapid advancement of technology and information openness in the era of globalization has significantly influenced young people's behavior and their understanding of moral values. While easy access to information through the internet and social media brings positive impacts, it also opens the door to foreign cultures that often conflict with society's noble values. This has triggered shifts in social norms, including rising individualism, declining empathy, and reduced respect for others—signaling the importance of instilling ethics and morals from an early age, as environmental and technological influences are not always matched by a strong grasp of moral values. Left unaddressed, this can lead to deviant behavior and weaken the character of the younger generation. This study examines the role of ethics and morals in shaping young people's character using a literature study with a descriptive qualitative approach. The findings show that ethics and morals play a crucial role in forming individuals who are responsible, possess integrity, and act in accordance with societal norms, with family, school, and community as key environments for instilling these values. Active involvement from all parties is therefore needed to strengthen character development among the younger generation so they can face modern challenges while upholding moral values. Keywords: Ethics, Morals, Character, Youth, Character Building, Globalization, Technology, Character Education