Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan kondisi penurunan fungsi ginjal secara progresif dan irreversible. Pasien GGK umumnya memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes melitus, anemia, dan gangguan kardiovaskular yang menyebabkan penggunaan obat kombinasi (polifarmasi). Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat yang dapat menurunkan efektivitas terapi dan meningkatkan efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi interaksi obat pada pasien gagal ginjal kronis dengan penyakit penyerta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis pasien GGK yang menjalani hemodialisis. Analisis interaksi obat dilakukan menggunakan aplikasi drugs.com dan literatur Stockley's Drug Interactions. Interaksi obat dikategorikan berdasarkan tingkat keparahan menjadi mayor, moderat, dan minor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien GGK mengalami polifarmasi dengan rata-rata penggunaan 5-8 jenis obat per pasien. Potensi interaksi obat ditemukan pada sebagian besar pasien, dengan kategori interaksi terbanyak adalah interaksi moderat dan mayor. Interaksi obat yang paling sering terjadi melibatkan obat antihipertensi (ACEI/ARB), diuretik, dan NSAID (fenomena triple whammy), serta interaksi antara suplemen besi dengan obat lain. Pasien gagal ginjal kronis dengan penyakit penyerta memiliki risiko tinggi mengalami interaksi obat akibat polifarmasi. Diperlukan pemantauan terapi obat yang ketat dan kolaborasi interprofesional untuk mencegah Drug Related Problems (DRPs) dan meningkatkan keamanan serta efektivitas terapi.