Penelitian ini mengkaji tentang Komunikasi Intrabudaya dalam Tradisi Mantu Kucing pada masyarakat Hindu Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Permasalahan karena kurangnya pemahaman generasi muda terhadap arti dan nilai dari tradisi tersebut. Terdapat tiga rumusan masalah yaitu (1) Bagaimana Pola komunikasi intrabudaya dalam pelaksanaan Tradisi Mantu Kucing pada masyarakat Hindu di Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur, (2) Bagaimana Hambatan Komunikasi Intrabudaya dalam Tradisi Mantu Kucing di Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi?, (3) Bagaimana Implikasi komunikasi intrabudaya melalui pelaksanaan Tradisi Mantu Kucing pada Masyarakat Hindu di Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur? Metode yang diterapkan bersifat kualitatif dengan pendekatan yang deskriptif, menggunakan teknik pengumpulan data melalui pengamatan, wawancara, dan pengumpulan dokumen dari narasumber. Data diperoleh dari proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, dengan menggunakan teori komunikasi budaya, teori nilai, teori fungsional struktural. Tujuan penelitian untuk memahami komunikasi intrabudaya dan bagaimana fungsinya dalam menjaga nilai sosial serta religius masyarakat Hindu di Desa Grajagan. Hasil penelitian bahwa komunikasi intrabudaya dalam Tradisi Mantu Kucing berlangsung melalui interaksi verbal, nonverbal, serta simbolik yang melibatkan seluruh masyarakat dalam menyampaikan nilai budaya dan religius. Namun, terdapat hambatan dalam komunikasi seperti (1) Kurangnya pemahaman dikalangan generasi muda, (2) Keterbatasan penyampaian makna dari sesepuh lebih fokus pelaksanaan ritual, (3) Dampak perkembangan zaman modern menyebabkan perubahan nilai budaya. Dampak komunikasi intrabudaya mencakup nilai religius, sosial, dan budaya. Oleh karena itu, komunikasi intrabudaya memiliki peranan penting untuk meningkatkan komunikasi yang efektif dan efisien agar generasi muda lebih paham nilai tradisi ini.