Akne vulgaris merupakan gangguan kulit umum yang ditandai dengan munculnya jerawat, komedo, dan peradangan pada wajah, utamanya di kalangan remaja dan dewasa muda. Kondisi ini diakibatkan oleh beberapa variabel, contohnya produksi minyak berlebih, penyumbatan folikel rambut, pertumbuhan bakteri, dan peradangan. Selain itu, ketidak seimbangan pH kulit juga berperan penting dalam memperburuk kondisi akne vulgaris, karena pH yang tidak seimbang dapat memicu pertumbuhan bakteri penyebab jerawat dan mengganggu fungsi pelindung kulit. Tujuan penelitian untuk memperoleh korelasi pH kulit wajah dengan peristiwa akne vulgaris yang terjadi dalam lingkup mahasiswa fakultas kedokteran malajayati 2024. Hasil penelitian terhadap 95 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi, ditemukan bahwa mayoritas mahasiswa dengan kondisi pH kulit cenderung asam (rentang 4,5–5,5) mengalami akne vulgaris, yaitu sebanyak 66 orang. Sementara itu, pada kelompok dengan pH kulit netral (rentang 5,6–7,0), hanya 20 yang mengalami akne vulgaris. Analisis statistik memperlihatkan terjadinya korelasi yang sangat signifikan antara level keasaman pH kulit dengan kejadian akne vulgaris, yang nilai signifikansinya senilai 0,000 (p0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa kondisi pH kulit yang terlalu asam berpotensi besar dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri penyebab jerawat, seperti Propionibacterium acnes. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan pH kulit dapat menjadi salah satu strategi penting dalam pencegahan dan pengelolaan akne vulgaris, khususnya di kalangan mahasiswa yang secara hormonal dan lingkungan sangat rentan mengalami gangguan kulit tersebut. Sehingga, adanya korelasi yang signifikan antara pH kulit wajah dengan peristiwa akne vulgaris yang terjadi dalam lingkup mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Malahayati 2024 dengan p-value 0,000 (p0,05).