Bara Ade Wijaya
Departemen THT KL, Fakultas Kedokteran, Universitas Malahayati

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hubungan Faktor Cuaca Dengan Rhinitis Alergi Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Angkatan 2022–2023 Futrie Ramadanie; Arti Febriyani Hutasuhut; Deviani Utami; Bara Ade Wijaya
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 5 (2026): Volume 13 Nomor 5
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i5.23079

Abstract

Rhinitis alergi merupakan gangguan saluran pernapasan yang prevalensinya cenderung meningkat, terutama di wilayah tropis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor cuaca dengan status rhinitis alergi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati angkatan 2022–2023. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian berjumlah 177 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Status rhinitis alergi dinilai menggunakan kuesioner Score for Allergic Rhinitis (SFAR), sedangkan data cuaca berupa suhu udara, kelembapan udara, dan curah hujan diperoleh dari laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) wilayah Bandar Lampung selama periode April–Juni 2025. Data cuaca dihubungkan dengan responden berdasarkan periode penelitian dan wilayah tempat penelitian, sehingga paparan cuaca merepresentasikan kondisi cuaca makro, bukan paparan lingkungan individual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 66,1% responden memiliki status rhinitis alergi positif berdasarkan skor SFAR. Analisis bivariat menunjukkan bahwa curah hujan memiliki hubungan bermakna dengan status rhinitis alergi (p = 0,037), sedangkan suhu udara (p = 0,611) dan kelembapan udara (p = 0,102) tidak menunjukkan hubungan bermakna. Tidak ditemukannya hubungan bermakna pada suhu dan kelembapan udara dapat dipengaruhi oleh variasi cuaca yang relatif homogen selama periode penelitian, keterbatasan kekuatan statistik, atau kemungkinan bias paparan ekologis. Penelitian ini menemukan hubungan antara curah hujan dan status rhinitis alergi, namun hasil perlu diinterpretasikan secara hati-hati karena desain potong lintang, penggunaan data cuaca wilayah, dan penilaian rhinitis alergi berbasis kuesioner tanpa konfirmasi diagnosis klinis.