Muhammad Fatih Abdulbari
Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jalan Parangtritis Km. 6,5, Glondong, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta – 55188

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Seni sebagai Ritus Sosial: Transformasi dan Komodifikasi Seni Bali Pascabanjir 2025 Trisna Pradita Putra; Muhammad Fatih Abdulbari
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 12, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v12i1.17776

Abstract

Banjir besar yang melanda Bali pada September 2025 menyingkap paradoks antara spiritualitas dan modernitas dalam kebudayaan Bali. Artikel ini menelaah bagaimana seni pertunjukan berfungsi sebagai ritus sosial yang memediasi ketegangan antara kesakralan, ekonomi pariwisata, dan krisis ekologis. Melalui pendekatan kualitatif interpretatif serta pembacaan kritis berbasis teori liminalitas Victor Turner dan konsep habitus Pierre Bourdieu, penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi seni dari praktik spiritual menjadi komoditas pariwisata menciptakan ruang liminal di mana yang sakral dan profan berkelindan. Ritus dan seni pertunjukan yang semula berfungsi memulihkan harmoni kosmologis, kini lebih berperan dalam reproduksi simbolik atas citra keseimbangan sosial dan ekonomi. Dengan demikian, kesakralan di Bali tampil bukan sebagai daya transformatif ekologis, melainkan sebagai strategi kultural untuk meneguhkan identitas kolektif dan legitimasi sosial di tengah tekanan kapitalisme pariwisata global. Art as Social Rite: Transformation and Commodification of Balinese Art After the 2025 FloodsABSTRACTThe major flood that struck Bali in September 2025 revealed the paradox between spirituality and modernity within Balinese culture. This article examines how performing arts function as a social rite mediating the tension between sacredness, tourism economy, and ecological crisis. Using an interpretive qualitative approach and a critical reading grounded in Victor Turner’s theory of liminality and Pierre Bourdieu’s concept of habitus, this study demonstrates that the transformation of art from a spiritual practice into a touristic commodity creates a liminal space where the sacred and the profane intertwine. Rituals and performances, once serving to restore cosmological harmony, now operate more as symbolic reproductions of social and economic balance. Thus, sacredness in Bali emerges not as an ecological transformative force, but as a cultural strategy to reaffirm collective identity and social legitimacy amid the pressures of global tourism capitalism.