ingkungan pesantren yang memiliki keterbatasan akses terhadap pangan bergizi dan informasi kesehatan. Kondisi ini berpotensi menurunkan konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, serta berdampak jangka panjang terhadap kesehatan reproduksi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan santriwati tentang pencegahan anemia melalui intervensi edukasi kesehatan. Metode yang digunakan adalah kegiatan pengabdian masyarakat dengan pendekatan pre-test dan post-test. Kegiatan dilaksanakan di Pesantren UMI Kalsum, Kota Makassar, pada tanggal 7 Maret 2026 dengan sasaran santriwati penghafal Al-Qur’an. Intervensi meliputi skrining kadar hemoglobin (Hb), pemberian edukasi tentang anemia, serta pembagian Tablet Tambah Darah (TTD). Evaluasi dilakukan dengan mengukur tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebelum edukasi, sebanyak 71,4% santriwati memiliki pengetahuan dalam kategori baik, dan 14,3% dalam kategori kurang. Setelah edukasi, terjadi peningkatan pengetahuan kategori baik menjadi 85,7% dan tidak ditemukan lagi kategori pengetahuan kurang. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan efektif dalam meningkatkan pemahaman santriwati mengenai anemia. Selain itu, skrining Hb mengidentifikasi adanya santriwati yang berisiko anemia, sehingga diperlukan tindak lanjut intervensi yang lebih komprehensif.Kesimpulan dari kegiatan ini adalah edukasi kesehatan merupakan strategi efektif dalam meningkatkan pengetahuan sebagai langkah awal pencegahan anemia. Namun, diperlukan upaya berkelanjutan melalui monitoring konsumsi TTD, perbaikan pola makan, serta pendekatan berbasis komunitas untuk memastikan perubahan perilaku yang berkelanjutan.