Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gengsi Sebagai Bentuk Komunikasi Nonverbal Dalam Konstruksi Citra Diri Di Era Digital Deni Haryan Pasaribu; Syauqas Al qasimiy; Ramadhani Fahlevi; M. Alfi Fajrul Haq; Taufik
Journal of Communication and Social Sciences Vol. 4 No. 1 (2026): Journal of Communication and Social Sciences
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/jcss.v4i1.1571

Abstract

Penelitian ini mengkaji prestise sebagai bentuk komunikasi nonverbal dalam konstruksi citra diri di era digital. Di tengah kemajuan teknologi yang pesat dan budaya konsumsi yang semakin kompetitif, prestise telah menjadi ekspresi simbolis yang digunakan individu untuk menegaskan identitas dan status sosialnya di ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana perilaku konsumen, gaya hidup digital, dan penggunaan media sosial membentuk cara individu mengkomunikasikan citra diri melalui simbol prestise. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi digital yang melibatkan pengguna media sosial dari berbagai kelompok umur, latar belakang pendidikan, dan profesi. Temuannya mengungkapkan bahwa prestise berfungsi sebagai strategi komunikasi nonverbal yang mewakili nilai, aspirasi, dan status sosial seseorang. Melalui postingan, pilihan fesyen, kepemilikan barang bermerek, dan aktivitas digital tertentu, individu berupaya membangun citra diri ideal yang mendapat pengakuan dari lingkungan sosialnya. Studi ini juga menyoroti tekanan psikologis dan sosial yang timbul dari kebutuhan untuk mempertahankan citra tersebut, khususnya di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya literasi digital dan kesadaran diri dalam mengelola identitas online agar tidak terjerumus ke dalam pola komunikasi yang dangkal dan konsumtif.
Dampak Konten Negatif Pernikahan di Tiktok Terhadap Sikap Marriage Is Scary Mahasiswa Amalia Saumi; Futri Muliana; Nadira Ramadhani; Rabbiatul Adawiyah; Taufik
DIALEKTIKA KOMUNIKA: Jurnal Kajian Komunikasi dan Pembangunan Daerah Vol. 13 No. 2 (2025): DIALEKTIKA KOMUNIKA: Jurnal Kajian Komunikasi dan Pembangunan Daerah
Publisher : Universitas Islam Syekh Yusuf

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33592/dk.v13i2.8113

Abstract

Penelitian ini membahas tentang persepsi mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh terhadap fenomena ?Marriage Is Scary? di media sosial TikTok. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana paparan konten negatif di TikTok memengaruhi cara pandang mahasiswa terhadap pernikahan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi terhadap enam informan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa merasa takut untuk menikah karena sering melihat konten negatif tentang rumah tangga, seperti perselingkuhan, konflik, dan kekerasan domestik. Namun, sebagian lainnya menilai bahwa konten tersebut dapat menjadi pelajaran agar mereka lebih siap dan berhati-hati dalam memilih pasangan. Faktor lingkungan sosial dan pengalaman pribadi juga turut memperkuat pandangan mereka terhadap isu ini. Analisis teori yang digunakan antara lain Cultivation Theory, Uses and Gratifications Theory, dan Self-Disclosure Theory. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pengaruh media tidak sepenuhnya menentukan persepsi seseorang, karena respon setiap individu sangat bergantung pada latar belakang, pengalaman, dan kemampuan berpikir kritisnya. Kata Kunci : marriage is scary, tiktok, persepsi mahasiswa, literasi digital, self- disclosure
Communication System in Niklas Luhmann’s Perspective: Conceptual Relevance in the Digital Era Taufik
Sadida Islamic Communications and Media Studies Vol. 5 No. 2 (2025): Sadida: Islamic Communication and Media Studies
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/76vmpw31

Abstract

This study examines communication systems from the perspective of Niklas Luhmann’s social systems theory, focusing on their relevance in the digital era. Luhmann views communication not as an individual act, but as a fundamental element that shapes and reproduces social systems autopoietic. This approach allows for an in-depth analysis of the dynamics of digital communication, which is complex, differentiated, and operates in a closed manner, yet is interconnected with other systems through structural coupling. The research method used is a literature review of Luhmann’s main works and a conceptual analysis of contemporary digital communication phenomena. The results show that digital communication systems have their own operational logic constructed by internal codes and structures, such as in the case of social media algorithms, virality, and mediation between legal, political, and economic systems. Luhmann’s theory proves relevant as a conceptual framework for understanding how communication in the digital era is no longer neutral, but rather shapes social reality through a systemic and autonomous reproductive process.