Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perspektif siswa yang tinggal di daerah rawan bencana longsor terhadap relevansi pembelajaran fisika. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif serta desain penelitian fenomenologis, hal ini memungkinkan untuk memahami pengalaman hidup (lived experiences) secara mendalam. Informan penelitian ini berjumlah sepuluh orang yang terdiri atas satu guru fisika laki-laki dan sembilan siswa kelas XII, dengan rincian dua siswa laki-laki dan tujuh siswa perempuan, yang merupakan guru serta siswa SMAN 1 Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, dengan ditentukan melalui teknik purposive sampling. Proses pengumpulan data menggunakan wawancara semi-terstruktur yang didukung oleh rekaman audio dan dokumentasi selama wawancara berlangsung. Keabsahan dari data dijaga melalui triangulasi sumber dengan membandingkan hasil wawancara siswa serta guru. Analisis data mengacu pada pendekatan fenomenologi Moustakas yang meliputi tahap epoche, identifikasi pernyataan signifikan, serta pembentukan tema melalui proses transkripsi, coding, kategorisasi, dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukan, pengalaman hidup siswa di daerah rawan bencana longsor dapat membentuk pemahaman kontekstual terhadap fenomena alam, termasuk kemampuan untuk menghubungkan konsep fisika seperti gaya, gravitasi, tekanan gerak dan konsep lainnya dengan bencana longsor. Meskipun demikian, pembelajarn fisika di sekolah cenderung tidak terlepas dari budaya hafalan rumus serta kurang kontekstual, akibatnya sebagian dari siswa berpandangan bahwa pembelajaran fisika kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari.