Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The relationship between quarter-life crisis and career anxiety among senior nursing students Cahaya Sri Mega; Prastiwi Puji Rahayu; Slamet Riyanto
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2026): May Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v5i2.3320

Abstract

Background: Early adulthood (20–35 years) is a transitional phase full of developmental demands and prone to emotional stress in the form of a quarter-life crisis, characterized by confusion about life's direction, self-doubt, and anxiety about the future, particularly career anxiety. This phenomenon is often experienced by final-year students who are in the phase of determining their academic and career futures. Final-year students, as a group of early adults, are vulnerable to experiencing a quarter-life crisis, which results in increased career anxiety. Purpose: To determine the relationship between quarter-life crisis and career anxiety in final-year nursing students. Method: A descriptive correlation design, and the time approach used is cross-sectional. The analysis test uses the Spearman rank test. Results: The results of data analysis using the Spearman rank test obtained a correlation coefficient value of 0.538** with a significance of 0.000 ≤ 0.05, so Ha was accepted and Ho was rejected, which means there is a relationship between quarter-life crisis and career anxiety of final-year nursing students. Conclusion: Quarter life crisis affects career anxiety of final year nursing students. Keywords: Career Anxiety; College Students; Quarter Life Crisis.
The effect of five-finger hypnosis therapy on anxiety levels among patients with type 2 diabetes mellitus Akhmad Danu Shafar Pradana; Deasti Nurmaguphita; Slamet Riyanto
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2026): May Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v5i2.3322

Abstract

Background: Patients with Type 2 Diabetes Mellitus often experience psychological disorders, one of which is anxiety due to lifestyle changes and long-term treatment. Five-finger hypnosis therapy is a non-pharmacological intervention that combines relaxation and positive suggestion. Purpose: To determine the effect of five-finger hypnosis therapy on reducing anxiety levels in Type 2 Diabetes Mellitus patients. Method: A pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The sample consisted of 30 respondents selected through purposive sampling. The research instrument used the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Data analysis used the Paired Sample T-Test. Results: The average anxiety score before the intervention was 16.87 (SD = 2.921) and decreased to 11.27 (SD = 3.523) after the intervention. Statistical test results showed a p-value of 0.000 (< 0.05). Conclusion: There is a significant effect of providing five-finger hypnosis therapy in reducing anxiety levels in Type 2 Diabetes Mellitus patients. Keywords: Anxiety; Five-Finger Hypnosis; Type 2 Diabetes Mellitus.
Laporan Kasus Risiko Perilaku Kekerasan Di Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta Alvi Noor Aini; Slamet Riyanto
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 5 (2026): Menulis - Mei
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i5.1116

Abstract

Latar Belakang: Risiko perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain, disertai oleh amuk dan gaduh gelisah yang tidak terkontrol. Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan menggambarkan penerapan intervensi pencegahan perilaku kekerasan (I.12393) dengan diagnosis risiko perilaku kekerasan. yang dirawat di RSJ Grhasia Yogyakarta. Metode: Intervensi diberikan selama lima hari melalui pengajaran teknik relaksasi nafas dalam dan pukul bantal, melatih cara mengungkapkan marah social/verbal, mengontrol marah dengan meminta dan menolak dengan baik dan mengungkapkan kesal, serta edukasi kepatuhan minum obat. Hasil: Evaluasi menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi, berkurangnya perilaku ancaman , menurunya perilaku menyerang, menurunya perilaku melukai diri/ orang lain serta hilangnya rencana bunuh diri. Kesimpulan: Meskipun pasien masih ada perasaan marah, intensitasnya menurun, sehingga dapat disimpulkan bahwa intervensi ini efektif membantu pasien mengendalikan marah.
Laporan Kasus Asuhan Keperawatan Jiwa pada Pasien dengan Gangguan Persepsi Sensori di Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta Muliawati Supono Hadisaputri; Slamet Riyanto
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.231

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang sering disertai halusinasi pendengaran yang berdampak pada perilaku, emosi, dan interaksi sosial pasien. Kondisi ini memerlukan asuhan keperawatan yang sistematis untuk membantu pasien mengontrol gejala. Studi kasus ini bertujuan menggambarkan asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan gangguan persepsi sensori berupa halusinasi pendengaran. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan selama tiga hari di Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta. Diagnosis keperawatan adalah gangguan persepsi sensori: halusinasi dengan luaran persepsi sensori (L.09083) membaik. Intervensi mengacu pada SIKI Manajemen Halusinasi (I.09288) yang meliputi observasi, terapeutik, edukasi, dan kolaborasi. Hasil menunjukkan penurunan pada seluruh indikator, yaitu verbalisasi mendengar bisikan dari skor 5 menjadi 3, perilaku halusinasi dari skor 5 menjadi 3, serta perilaku menarik diri dari skor 4 menjadi 2. Asuhan keperawatan membantu pasien mengontrol halusinasi dan meningkatkan interaksi sosial. Kesimpulan, intervensi memberikan hasil positif namun masalah belum teratasi sepenuhnya sehingga diperlukan tindak lanjut.