Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SCREENING TINGKAT KECEMASAN ANAK SEKOLAH DASAR PADA PEMBELAJARAN TATAP MUKA PASCA PANDEMI COVID-19 I Gusti Ayu Indah Ardani; Lely Setyawati Kurniawan; Ni Ketut Putri Ariani; Sindi Antika; Jimmy Jimmy; Surya Pradnyana Putra
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10129

Abstract

The COVID-19 pandemic has disrupted not only educational processes but also the psychological well-being of children, particularly during the transition back to face-to-face learning. This study aimed to analyze anxiety levels among elementary school children during post-pandemic face-to-face learning at SD Negeri 1 and SD Negeri 2 Tanjung Benoa. A descriptive analytic study with a cross-sectional design was conducted, and participants were recruited using total sampling based on the inclusion criteria. Anxiety was assessed using the Spence Children’s Anxiety Scale (SCAS). The findings revealed that nearly all respondents experienced anxiety upon returning to school, with 101 of 104 fourth-grade students and 98 of 100 fifth-grade students identified as anxious. The most dominant anxiety subtype was fear of injury or infection, reported in 98 fourth-grade students and 88 fifth-grade students, whereas separation anxiety and fear of meeting many people were found in much lower proportions. These findings suggest that children’s post-pandemic anxiety is more strongly mediated by perceived health threats than by social concerns. The study concludes that the success of post-pandemic face-to-face learning is determined not only by academic and administrative readiness, but also by children’s psychological preparedness. Therefore, early screening and school-based promotive-preventive interventions are needed to support sustainable recovery of children’s mental health. ABSTRAK Pandemi COVID-19 tidak hanya mengganggu proses pendidikan, tetapi juga memunculkan dampak psikologis yang bermakna pada anak, terutama saat transisi kembali ke pembelajaran tatap muka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kecemasan anak sekolah dasar pada pembelajaran tatap muka pasca pandemi di SD Negeri 1 dan SD Negeri 2 Tanjung Benoa. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sampel diambil dengan teknik total sampling terhadap siswa yang memenuhi kriteria inklusi. Pengukuran kecemasan dilakukan menggunakan Spence Children’s Anxiety Scale (SCAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh responden mengalami kecemasan saat kembali ke sekolah, dengan proporsi 101 dari 104 siswa kelas 4 dan 98 dari 100 siswa kelas 5 teridentifikasi cemas. Jenis kecemasan yang paling dominan adalah kecemasan terhadap cedera atau infeksi, yaitu pada 98 siswa kelas 4 dan 88 siswa kelas 5, sedangkan kecemasan perpisahan dan kecemasan bertemu banyak orang ditemukan dalam proporsi yang jauh lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa kecemasan anak pada fase pasca pandemi lebih banyak dimediasi oleh persepsi ancaman terhadap kesehatan dibandingkan aspek sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan pembelajaran tatap muka pasca pandemi tidak cukup ditentukan oleh kesiapan akademik dan administratif sekolah, tetapi juga oleh kesiapan psikologis anak. Oleh karena itu, diperlukan integrasi skrining dini dan intervensi promotif-preventif berbasis sekolah untuk mendukung pemulihan kesehatan mental anak secara berkelanjutan.
DETEKSI DINI GANGGUAN TINGKAH LAKU PADA ANAK DENGAN CDRS TEACHER AND PARENT DI KOTA DENPASAR I Gusti Ayu Indah Ardani; I Gusti Ayu Trisna Windiani; I Gusti Agung Ngurah Sughita; Sindi Antika; I Gusti Ngurah Wisuda Manik
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.10130

Abstract

Conduct disorder in children is a mental health problem that often remains undetected at an early stage despite its long-term consequences for social functioning, academic performance, and psychological development. The limited use of systematic assessment and reliance on subjective observation in school settings may contribute to the underdetection of cases during the early stages. This study aimed to identify the prevalence of conduct disorder among elementary school students using a multi-informant screening approach. A descriptive-analytic cross-sectional study was conducted among 261 students in grades 4–6 at SD 3 Saraswati Denpasar using total sampling. Assessment was performed using the Indonesian version of the Conduct Disorder Rating Scale (CDRS), completed by both parents and teachers. Data were analyzed descriptively by presenting the frequency and proportion of conduct disorder identified based on parent- and teacher-reported CDRS assessments. The results showed that 6.53% of students were identified as having conduct disorder, with differences in the number of cases identified by teachers and parents, reflecting contextual variations in children’s behavior. These findings indicate that conduct disorder is a clinically relevant problem that may remain underrecognized in the absence of systematic screening. The study concludes that the use of standardized instruments with a multi-informant approach may enhance the sensitivity of early detection and is relevant for integration into school-based mental health services. These findings also highlight the importance of integrating education and mental health policies to prevent the progression of behavioral problems from an early age. ABSTRAK Gangguan tingkah laku pada anak merupakan masalah kesehatan jiwa yang sering tidak terdeteksi secara dini meskipun memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap fungsi sosial, akademik, dan perkembangan psikologis. Keterbatasan identifikasi berbasis observasi subjektif di lingkungan sekolah menyebabkan rendahnya deteksi kasus pada fase awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi gangguan tingkah laku pada anak sekolah dasar menggunakan pendekatan skrining berbasis multi-informan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) pada 261 siswa kelas 4–6 di SD 3 Saraswati Denpasar dengan teknik total sampling. Pengukuran dilakukan menggunakan Conduct Disorder Rating Scale (CDRS) versi Indonesia yang diisi oleh orang tua dan guru. Data dianalisis secara deskriptif dengan menyajikan frekuensi dan proporsi kejadian gangguan tingkah laku berdasarkan hasil penilaian CDRS orang tua dan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 6,53% siswa teridentifikasi mengalami gangguan tingkah laku, dengan perbedaan jumlah kasus antara penilaian guru dan orang tua yang mencerminkan variasi konteks perilaku anak. Temuan ini menegaskan bahwa gangguan tingkah laku merupakan fenomena klinis yang nyata namun berpotensi terabaikan tanpa pendekatan skrining yang sistematis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan instrumen terstandar dengan pendekatan multi-informan meningkatkan sensitivitas deteksi dini dan relevan untuk diintegrasikan dalam layanan kesehatan mental berbasis sekolah. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya integrasi kebijakan pendidikan dan kesehatan mental untuk mencegah progresivitas gangguan sejak usia dini.