A Dede Majid
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERAN KOMUNITAS SANGGAR GURIANG TUJUH INDONESIA SEBAGAI RUANG TUMBUH ALTERNATIF BERMAIN ANAK Nur Fajri Diantara; Dwi Junianti Lestari; Alis triena permanasari; A Dede Majid
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.10660

Abstract

ABSTRACT Childhood is an important phase in the development of children’s cognitive, social, emotional, motor, and creative abilities. However, limited play spaces, increasing gadget use, and changes in social interaction patterns have reduced children’s opportunities to engage in active and interactive play. This study aims to analyze the role of the Guriang Tujuh Indonesia Art Community as an alternative growth space based on arts and culture for children’s development. The study employed a descriptive qualitative approach, with data collected through participatory observation, semi-structured interviews, and documentation. The research subjects included community managers, participating children, and parents. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data presentation, and thematic conclusion drawing to obtain an in-depth understanding of the research phenomenon. The findings indicate that the Guriang Tujuh Indonesia Art Community functions as a non-formal educational medium that supports children’s holistic development through dance, music, theater, and traditional games. Learning based on learning by doing through exploration, imitation, and improvisation methods was found to improve creativity, motor skills, social interaction, self-confidence, and children’s cultural understanding. Therefore, the community serves as a creative, educational, social, and cultural space that adaptively supports children’s development amid the limitations of play spaces in modern environments. ABSTRAK Masa kanak-kanak merupakan fase penting dalam perkembangan kognitif, sosial, emosional, motorik, dan kreativitas anak. Namun, keterbatasan ruang bermain, meningkatnya penggunaan gawai, serta perubahan pola interaksi sosial menyebabkan kesempatan anak untuk bermain secara aktif dan interaktif semakin berkurang. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Komunitas Sanggar Guriang Tujuh Indonesia sebagai ruang tumbuh alternatif berbasis seni dan budaya bagi perkembangan anak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Subjek penelitian meliputi pengelola sanggar, anak-anak peserta kegiatan, dan orang tua. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara tematik untuk memperoleh pemaknaan yang mendalam terhadap fenomena penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sanggar Guriang Tujuh Indonesia berperan sebagai media pendidikan nonformal yang mendukung perkembangan anak secara holistik melalui kegiatan seni tari, musik, teater, dan permainan tradisional. Pembelajaran berbasis learning by doing melalui metode eksplorasi, imitasi, dan improvisasi mampu meningkatkan kreativitas, kemampuan motorik, interaksi sosial, rasa percaya diri, serta pemahaman budaya anak. Dengan demikian, sanggar berfungsi sebagai ruang kreatif, edukatif, sosial, dan kultural yang adaptif dalam mendukung tumbuh kembang anak di tengah keterbatasan ruang bermain pada lingkungan modern.