Dwi Junianti Lestari
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PEMILIHAN APLIKASI ACTIVE PRESENTER UNTUK PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH Arif Permana Putra; Alis Triena Permanasari; Dwi Junianti Lestari
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v5i2p129-137

Abstract

The development of informastion and communication technology demand to be able to use digital learning tools through interactive learning media. Media is an important factor in improving the quality of learning. Currently circulating application products that can be used in making history learning media. The right historical learning media is media that fosters interaction between users in responding to the material presented. For this reason, it is necessary to select the right selection and determination of history learning media applications. And from this study, some application selection criteria that need to be considered include; in addition to being cheap and affordable, an integrated application package that is simple, effective and efficient, as well as a user manual. As a case study of the active presenter application to be discussed a little. From the discussion, it is known that active presenters are applications that can meet the criteria for needs.Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menuntut untuk dapat menggunakan perangkat pembelajaran digital melalui media pembelajaran yang interaktif. Media merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Saat ini beredar produk aplikasi yang dapat digunakan dalam pembuatan media pembelajaran sejarah. Media pembelajaran sejarah yang tepat adalah media yang menumbuhkan interaksi antar pengguna dalam menanggapi materi yang disampaikan. Untuk itu diperlukan pemilihan dan penentuan aplikasi media pembelajaran sejarah yang tepat. Dan dari penelitian ini, beberapa kriteria pemilihan aplikasi yang perlu diperhatikan antara lain; selain murah dan terjangkau, paket aplikasi terpadu yang simpel, efektif dan efisien, serta panduan pengguna. Sebagai studi kasus aplikasi presenter aktif akan sedikit dibahas. Dari pembahasan diketahui bahwa active presenter merupakan aplikasi yang dapat memenuhi kriteria kebutuhan.
THE USE OF FLIP BOOKS AS LEARNING RESOURCES IN ARTS AND CULTURE SUBJECTS IN CLASS XI OF SMAN 5 KOTA SERANG Nasiroh Nasiroh; Dwi Junianti Lestari; Syamsul Rizal
Journal of Dance and Dance Education Studies Vol 4, No 2 (2024): October
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jddes.v4i2.75716

Abstract

TechTechnology currently plays an important role in teaching and learning activities, so teachers and students certainly have to take advantage of this technology to make it easier to find learning resources. One of the learning resources currently used by teachers and students in arts and culture subjects is the flip book learning resource which can be accessed via their respective cell phones. This study aims to determine the development of students in learning to use flip book learning resources, both in terms of cognitive, affective and psychomotor students. In this study, the method used is a qualitative descriptive method that can describe what is seen and based on existing phenomena. Based on the results of the research, the process of applying flip book learning resources to the subject of cultural arts aspects of dance has been carried out well. In addition, with the application of this learning resource, it can be seen that the level of student development in terms of cognitive, affective and psychomotor has started to improve and is increasing. So, it can be concluded that there is an influence of art and culture flip book learning resources on class XI students of SMA Negeri 5 Kota Serang.
SISTEM PEWARISAN KESENIAN RAMPAK BEDUG DI SANGGAR HARUM SARI PANDEGLANG BANTEN Rina Alfira; Dwi Junianti Lestari; Alis Triena Permanasari
Gesture: Jurnal Seni Tari Vol. 13 No. 2 (2024): Gesture: Jurnal Seni Tari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gjst.v13i2.64623

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi belum adanya kajian tentang proses sistem pewarisan Gerak Tari RamPak Bedug. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses sistem pewarisan dan faktor yang mempengaruhi proses sistem pewarisan gerak tari rampak bedug di Sanggar Harum Sari Pandeglang Banten. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi di Sanggar Harum Sari. Hasil penelitian yang didapatkan bahwa sistem proses pewarisan Gerak Tari Rampak Bedug yakni vertical transmission yang berarti sistem pewarisan yang memiliki hubungan darah yang diturunkan secara turun-temurun dari generasi tua ke generasi muda. Ada beberapa upaya yang dilakukan oleh ahli waris saat ini diantaranya praktik meliputi latihan anggota sanggar dan ekstrakurikuler di sekolah, serta melalui workshop, pertunjukan, dan media sosial. Pada faktor pewarisan meliputi faktor internal seperti minat, bakat, dan motivasi pelaku seni, serta faktor eksternal seperti dukungan masyarakat dan pemerintah. Pewarisan ini penting untuk mempertahankan identitas budaya dan mengembangkan kesenian yakni menjaga nilai-nilai kebudayaan dari masa lalu, untuk dilestarikan agar tidak punah.
PERAN KOMUNITAS SANGGAR GURIANG TUJUH INDONESIA SEBAGAI RUANG TUMBUH ALTERNATIF BERMAIN ANAK Nur Fajri Diantara; Dwi Junianti Lestari; Alis triena permanasari; A Dede Majid
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.10660

Abstract

ABSTRACT Childhood is an important phase in the development of children’s cognitive, social, emotional, motor, and creative abilities. However, limited play spaces, increasing gadget use, and changes in social interaction patterns have reduced children’s opportunities to engage in active and interactive play. This study aims to analyze the role of the Guriang Tujuh Indonesia Art Community as an alternative growth space based on arts and culture for children’s development. The study employed a descriptive qualitative approach, with data collected through participatory observation, semi-structured interviews, and documentation. The research subjects included community managers, participating children, and parents. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data presentation, and thematic conclusion drawing to obtain an in-depth understanding of the research phenomenon. The findings indicate that the Guriang Tujuh Indonesia Art Community functions as a non-formal educational medium that supports children’s holistic development through dance, music, theater, and traditional games. Learning based on learning by doing through exploration, imitation, and improvisation methods was found to improve creativity, motor skills, social interaction, self-confidence, and children’s cultural understanding. Therefore, the community serves as a creative, educational, social, and cultural space that adaptively supports children’s development amid the limitations of play spaces in modern environments. ABSTRAK Masa kanak-kanak merupakan fase penting dalam perkembangan kognitif, sosial, emosional, motorik, dan kreativitas anak. Namun, keterbatasan ruang bermain, meningkatnya penggunaan gawai, serta perubahan pola interaksi sosial menyebabkan kesempatan anak untuk bermain secara aktif dan interaktif semakin berkurang. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Komunitas Sanggar Guriang Tujuh Indonesia sebagai ruang tumbuh alternatif berbasis seni dan budaya bagi perkembangan anak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Subjek penelitian meliputi pengelola sanggar, anak-anak peserta kegiatan, dan orang tua. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara tematik untuk memperoleh pemaknaan yang mendalam terhadap fenomena penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sanggar Guriang Tujuh Indonesia berperan sebagai media pendidikan nonformal yang mendukung perkembangan anak secara holistik melalui kegiatan seni tari, musik, teater, dan permainan tradisional. Pembelajaran berbasis learning by doing melalui metode eksplorasi, imitasi, dan improvisasi mampu meningkatkan kreativitas, kemampuan motorik, interaksi sosial, rasa percaya diri, serta pemahaman budaya anak. Dengan demikian, sanggar berfungsi sebagai ruang kreatif, edukatif, sosial, dan kultural yang adaptif dalam mendukung tumbuh kembang anak di tengah keterbatasan ruang bermain pada lingkungan modern.
BENTUK DAN MAKNA TARI RAMPAK TERBANG CIOLANG DI SANGGAR WANDA BANTEN Muhayaroh Muhayaroh; Alis Triena Permanasari; Dwi Junianti Lestari
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i4.82086

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna Tari Rampak Terbang Ciolang yang berkembang di Sanggar Wanda Banten. Tari ini merupakan bagian dari kesenian tradisional yang kaya akan nilai budaya dan spiritual masyarakat Banten. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dilakukan melalui teori semiotika Ferdinand de Saussure yang membedakan antara penanda (gerakan fisik tari) dan petanda (makna simbolik).Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap gerakan dalam tari ini mengandung sistem tanda budaya yang merefleksikan nilai religius, sosial, dan emosional masyarakat. Gerakan awal seperti Napok Rebana dan Jangkung Ilo melambangkan keseimbangan dan harapan. Gerakan inti seperti Rebana Tanjeb dan Gembrung menggambarkan semangat kolektif dan kekuatan spiritual. Sementara gerakan akhir seperti Sholawat dan Silat Panakol menyiratkan rasa syukur dan keteguhan menghadapi tantangan.Keseluruhan gerak tari Rampak Terbang Ciolang bukan sekadar ekspresi estetika, tetapi juga berfungsi sebagai media pelestarian identitas budaya lokal yang sarat makna. Dengan demikian, tari ini menjadi simbol penting dalam menjaga warisan budaya masyarakat Banten.
METODE ROYAL ACADEMY OF DANCE (RAD) PADA PEMBELAJARAN TARI PRE BALLET MARLUPI DANCE ACADEMY Melia Cahya Agusti Sidik; Dwi Junianti Lestari; Dadang Dwi Septiyan
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 3 (2025): Juli- Septermber
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i3.74603

Abstract

This study aims to examine the application of the Royal Academy of Dance (RAD) method in learning pre ballet dance at Marlupi Dance Academy (MDA) as an effort to develop character, creativity, and motor skills in early childhood. Marlupi Dance Academy is a dance education institution that has been established since 1956 and consistently applies the RAD method as an international approach in its curriculum. The RAD method, which originated in the UK, is designed to provide a systematic, progressive, and developmentally appropriate structure for ballet learning. The research approach used was qualitative with descriptive methods, through direct observation, semi-structured interviews with trainers, students, and parents, as well as documentation in the form of photos and videos. The results show that the RAD method is applied through several stages of learning, including the provision of basic movement materials, introduction to music and expression, as well as the development of creativity and imagination. The learning process is conducted in three age-based pre ballet class categories, namely Pre School (2.5-4 years old), Pre Primary (5 years old and above), and Primary. Each category is designed to foster motor skills, musicality, and body awareness through a fun, educational, and interactive approach. The factors that influence the implementation of this method are divided into two, namely internal and external factors. Internal factors include student motivation and interest, self-confidence, physical and motor condition, as well as discipline and consistency. Meanwhile, external factors include the role of RAD-certified trainers, the quality of learning facilities and media, developmentally appropriate teaching methods, a positive learning environment, and parental support. The integration of both factors supports the effectiveness of learning, and contributes to children's character building, discipline and creativity from an early age
PERTUNJUKAN “REGENT” KARYA DEDE A. MAJID: ANALISIS STRUKTUR GERAK KINESTETIK Larastika Azzahra Wahyudi; Dwi Junianti Lestari; Alis Triena Permanasari
JURNAL IMAJINASI Vol 10, No 1 (2026): Januari-Juni
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/i.v10i1.84188

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur gerak kinestetik dalam pertunjukan “Regent” karya Dede A. Majid, yang meliputi aspek struktur, dinamika, karakter, serta makna gerak sebagai media penyampaian pesan dramatik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi di Sanggar Teater Guriang Tujuh Indonesia. Subjek penelitian meliputi koreografer sekaligus pemeran dalam pertunjukan dan pembuat naskah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur gerak kinestetik dalam pertunjukan “Regent” disusun secara sistematis dan berlapis, serta berfungsi sebagai bahasa tubuh yang komunikatif dalam menyampaikan makna dramatik. Dinamika gerak yang ditampilkan melalui pengolahan unsur tenaga, ruang, dan waktu mampu memperkuat ekspresi emosi dan konflik tokoh. Karakter gerak dalam pertunjukan ini bersifat ekspresif, simbolik, eksploratif, dan teatrikal, sehingga menjadikan tubuh sebagai media utama dalam membangun alur cerita tanpa dialog verbal. Selain itu, makna gerak yang dihasilkan tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai simbolik yang dapat dipahami oleh penonton melalui interpretasi terhadap gerak. Dengan demikian, gerak kinestetik dalam pertunjukan “Regent” berperan sebagai elemen utama yang mengintegrasikan aspek estetika, ekspresi, dan komunikasi dalam satu kesatuan pertunjukan teater.