Addien Haniefardy
Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Sentimen Film Ghost in the Cell Menggunakan IndoBERT pada Platform X Naufa Evania Syahlina Putri Putri; Kanianata Fahlevy Nainggolan Putri; Yogiswara Azizufitra Baktiar Putri; Anggraini Puspita Sari; Addien Haniefardy
Jurnal Sarjana Teknik Informatika Vol. 14 No. 3 (2026): Oktober
Publisher : Program Studi Informatika, Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/jstie.v14i3.32555

Abstract

Platform X menjadi ruang diskusi publik paling aktif di Indonesia, termasuk dalam merespons film bermuatan sosial seperti Ghost in the Cell karya Joko Anwar. Banyaknya opini dalam bentuk tweet menyulitkan analisis sentimen manual sehingga dibutuhkan pendekatan komputasional yang mampu menangkap konteks bahasa secara mendalam. Penelitian ini menerapkan model IndoBERT untuk mengklasifikasikan sentimen pengguna X terhadap film tersebut ke dalam kategori positif dan negatif. Sebanyak 5.213 tweet dikumpulkan melalui scraping dengan kata kunci "Ghost in the Cell" selama masa penayangan film, lalu diproses melalui tahap preprocessing (cleaning, case folding, normalisasi elongation dan slang word) hingga tersisa 3.659 tweet. Pelabelan menggunakan Indonesia Sentiment Lexicon (InSet) menghasilkan 1.809 tweet positif dan 1.565 tweet negatif setelah data netral dikeluarkan, kemudian dibagi dengan stratified split 80:20 menjadi 2.699 data latih dan 675 data uji. Model di-fine-tuning selama 5 epoch dengan tiga variasi learning rate (1e-5, 2e-5, 3e-5) untuk mencari konfigurasi terbaik. Learning rate 1e-5 menghasilkan accuracy 79,56% dan F1-score 81,50%, learning rate 2e-5 menghasilkan accuracy 81,04% dan F1-score 82,51%, sedangkan learning rate 3e-5 menghasilkan accuracy tertinggi 81,33% dengan F1-score 82,60%. Meski begitu, learning rate 2e-5 dipilih sebagai konfigurasi final karena memberikan keseimbangan performa lebih baik antara kedua kelas sentimen dengan recall positif tertinggi sebesar 83,43%. Hasil ini menunjukkan bahwa IndoBERT mampu memahami konteks dua arah pada teks informal berbahasa Indonesia dengan lebih baik dibandingkan metode berbasis frekuensi kata seperti TF-IDF.
Klasifikasi Hoaks Indonesia: Support Vector Machine, Long Short-Term Memory, dan IndoBERT Iqbal Febryan Santoso; Alviando Desta Praditya; Muhammad Ariel Eka Ramadani; Anggraini Puspita Sari; Addien Haniefardy
Jurnal Sarjana Teknik Informatika Vol. 14 No. 3 (2026): Oktober
Publisher : Program Studi Informatika, Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/jstie.v14i3.32594

Abstract

Informasi palsu (hoaks) yang semakin cepat menyebar di berbagai platform digital di Indonesia menjadi permasalahan yang menyulitkan proses verifikasi manual. Penelitian ini membandingkan kinerja tiga pendekatan klasifikasi teks, yaitu Support Vector Machine (SVM), Long Short-Term Memory (LSTM), dan IndoBERT, pada dataset berita berbahasa Indonesia yang terdiri atas 23.598 data dengan distribusi kelas yang relatif seimbang. Penelitian menguji dua kondisi masukan, yaitu teks utuh setelah pembersihan awal dan teks yang memperoleh preprocessing lanjutan berupa stopword removal serta stemming. Pengujian dilakukan menggunakan pembagian data yang sama dan dievaluasi berdasarkan akurasi, presisi, recall, dan F1-score. Hasil perbandingan utama menggunakan kondisi teks utuh menunjukkan bahwa IndoBERT memperoleh kinerja tertinggi dengan akurasi 99,17%, diikuti SVM sebesar 98,25% dan LSTM sebesar 95,87%. Eksperimen ablation menunjukkan bahwa penggunaan preprocessing lanjutan justru menurunkan kinerja seluruh model pada dataset ini. Pada SVM, akurasi turun 0,34 poin persentase menjadi 97,91%; pada LSTM, akurasi turun 8,31 poin persentase menjadi 87,56%; sedangkan pada IndoBERT penurunannya sebesar 1,22 poin persentase menjadi 97,95%. Temuan tersebut menunjukkan bahwa preprocessing agresif tidak selalu meningkatkan representasi fitur dan efektivitasnya bergantung pada karakteristik data serta mekanisme pemrosesan model. Hasil ini menunjukkan bahwa mempertahankan teks utuh menjadi pilihan yang lebih tepat pada dataset penelitian, sementara perbandingan antararsitektur menegaskan keunggulan IndoBERT dalam memahami konteks bahasa Indonesia. Temuan ini memberikan implikasi bahwa pemilihan preprocessing perlu divalidasi secara empiris dan tidak semata-mata ditentukan berdasarkan asumsi karakteristik arsitektur. Evaluasi juga dianalisis melalui matriks konfusi pada data uji.