Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Indeks Potensi Hasil Tangkapan Purse Seine Berbasis Fase Bulan, Suhu Permukaan Laut, dan Klorofil-a di Perairan Biak Numfor Muhammad Sobri Maulana; Dwitia Pratiwi; Arditya Prayogi
Jurnal Marshela (Marine and Fisheries Tropical Applied Journal) Vol 4 No 1 (2026): Mei
Publisher : Program Studi Perikanan Tangkap Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/marshela.v4i1.4892

Abstract

Penelitian ini menyusun model prediksi relatif hasil tangkapan purse seine di perairan Biak Numfor dengan mengintegrasikan tiga pengendali utama, yaitu fase bulan, suhu permukaan laut (SST), dan klorofil-a. Studi ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya kajian Biak Numfor yang menghubungkan faktor oseanografi dan fase bulan secara simultan, sementara penelitian lokal yang tersedia masih dominan pada desain alat tangkap, pemetaan zona penangkapan potensial, atau variabilitas parameter oseanografi secara terpisah. Data yang digunakan merupakan data sekunder representatif: seri SST bulanan diharmonisasi dari klimatologi Cenderawasih, seri klorofil-a bulanan disusun dari variabilitas klorofil-a Cenderawasih, dan skor fase bulan dihitung dari kalender lunar 2024 dengan pembobotan peluang malam gelap. Model keluaran dinyatakan sebagai Indeks Potensi Hasil Tangkapan (IPHT) skala 0–100. Hasil menunjukkan bahwa bulan dengan IPHT tertinggi adalah April (94.2), Juni (94.2), dan Maret (94.0), diikuti Agustus (88.0) serta Mei–Juli (87.8–86.7). Bulan dengan nilai terendah adalah November (30.1) dan Oktober (49.4), terutama karena kesesuaian SST yang rendah ketika suhu melampaui ambang optimum model. Secara umum, jendela penangkapan yang paling prospektif berada pada akhir musim barat hingga musim peralihan dan awal musim timur. Meskipun belum menggunakan data hasil tangkapan aktual per trip, model ini berguna sebagai kerangka awal untuk perencanaan operasi penangkapan, penentuan waktu melaut, serta dasar pengembangan model prediksi yang lebih kuat berbasis logbook, citra satelit piksel aktual, dan validasi lapangan.
SHIELDING, SAFETY ZONING, WORK ROTATION, AND PERSONAL MONITORING FOR RF-EMF EXPOSURE REDUCTION IN RADAR-RELATED OCCUPATIONS: AN BAYESIAN NETWORK META-ANALYSIS BASED ON RECONSTRUCTED STUDY-LEVEL COMPARATIVE DATA Muhammad Sobri Maulana; Dwitia Pratiwi; Arditya Prayogi; Nur Priyanto; tutiaditama; Anwar Hendro
Jurnal TNI Angkatan Udara Vol 5 No 4 (2026): Jurnal TNI Angkatan Udara Triwulan Keempat
Publisher : Staf Komunikasi dan Elektronika, TNI Angkatan Udara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62828/n1dfbj84

Abstract

Military and radar workplaces can expose personnel to radiofrequency electromagnetic fields (RF-EMF), especially during maintenance, proximity to transmitting elements, or poorly controlled duty cycles. Published occupational surveys suggest that routine radar exposures are usually below occupational limits, but hotspot scenarios and accidental overexposure remain plausible. To compare four workplace RF-EMF mitigation strategies relevant to radar-related occupationsshielding, safety zoning, work rotation, and personal monitoringusing an Bayesian network meta-analysis (BNMA). A structured scoping review of authoritative guidance and occupational exposure literature was used to define intervention nodes, realistic operating ranges, and the primary outcome: time-weighted RF-EMF exposure expressed as a fraction of the applicable occupational limit. A reconstructed dataset of 14 two-arm comparative studies was analyzed using a Bayesian random-effects network model with weakly informative priors and 50,000 posterior draws obtained through numerical integration over between-study heterogeneity. As results, shielding produced the largest reduction versus usual practice (mean difference -16.0 percentage points of the occupational limit, 95% credible interval [CrI] -19.5 to -12.4), followed by safety zoning (-11.0, 95% CrI -14.6 to -7.4), work rotation (-7.7, 95% CrI -11.3 to -4.2), and personal monitoring (-7.3, 95% CrI -11.0 to -3.7). Shielding had a 99.2% probability of being the best intervention and a SUCRA of 0.998. Posterior between-study heterogeneity was low (mean tau 0.011; 95% CrI 0.001 to 0.033). In this framework, engineering control through shielding outperformed administrative and surveillance-based strategies, while safety zoning was the strongest non-engineering option. Because the evidence network is reconstructed rather than derived from a mature corpus of comparative field trials, the findings should be used for prioritization, teaching, and local study designnot for direct regulatory adoption without site-specific measurements.