Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Produksi Wacana Dakwah dalam Tafsir Al-Qur’an Berbahasa Jawa: Analisis Power/Knowledge Anita Sartika; Wahyu Hidayat
Indonesian Journal of Multidisciplinary Sciences (IJoMS) Vol. 5 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Multidisciplinary Sciences (IJoMS)
Publisher : CV. Era Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59066/ijoms.v5i1.2438

Abstract

The interpretation of the Qur'an is never born in a neutral space, but always interacts with the social, cultural context, and power relations surrounding its interpreters. This study aims to analyze how Javanese and Muhammadiyah cultures influence the construction of meaning in the Qur'an Jawen and Tafsir Qur'an Jawen Pandum lan Panduming Dumadi. The study uses a qualitative method based on a literature review, using the two commentaries as primary data sources. The analysis is carried out through Michel Foucault's power/knowledge approach to examine the relationship between tafsir and Muhammadiyah's socio-religious authority, as well as Hans-Georg Gadamer's hermeneutics, especially the concept of fusion of horizons, to understand the process of meaning formation in the socio-cultural context of colonial Java. The results of the study show that the use of Javanese with the Carakan script not only functions as a medium of religious communication, but also represents the cultural identity of the palace environment, which became the social basis for the birth of the two commentaries. In interpreting the concept of jihad in QS. al-Taubah [9]: 73, the Qur’an Jawen articulates jihad as sincerity in preaching and practicing religion, not physical resistance against colonialism. Meanwhile, Tafsir Qur’an Jawen Pandum lan Panduming Dumadi recontextualizes the Jewish and Christian conflict in QS. al-Baqarah [2]: 113 as a critique of the internal divisions of Muslims. This finding shows that interpretation functions as an arena for the production of meaning influenced by power relations, as well as a cultural da’wah strategy that connects the message of the Qur’an with the reality of Javanese society. This research contributes to the development of Nusantara interpretation studies by demonstrating the relationship among local culture, religious authority, and the process of meaning formation within the tradition of Qur’anic interpretation.
TRANSFORMASI TAFSIR MUHAMMADIYAH: Genealogi Relasi Kepemimpinan dan Otoritas Penafsiran Wahyu Hidayat; Anita Sartika
Indonesian Journal of Multidisciplinary Sciences (IJoMS) Vol. 5 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Multidisciplinary Sciences (IJoMS)
Publisher : CV. Era Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59066/ijoms.v5i2.2816

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji genealogi tafsir Muhammadiyah pada berbagai periode, perubahan corak penafsiran yang terjadi, serta pengaruh tokoh-tokoh pemimpin terhadap perkembangan tradisi tafsir di lingkungan Muhammadiyah. Dengan menggunakan pendekatan genealogis dan metode historiografi, penelitian ini menempatkan karya-karya tafsir Muhammadiyah sebagai objek kajian utama. Berdasarkan periodisasi yang mengacu pada arah perkembangan gerakan Muhammadiyah sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Munir Mulkhan, sejarah tafsir Muhammadiyah dibagi ke dalam tiga fase. Fase pertama ditandai dengan lahirnya karya Qur'an Jawen dan Tafsir Qur'an Jawen Pandum lan Panduming Dumadi. Karakter utama periode ini terlihat dari penggunaan bahasa Jawa dan aksara Carakan, yang menunjukkan kuatnya keterkaitan para pemimpin Muhammadiyah awal dengan tradisi serta kebudayaan Jawa. Pada fase kedua, Muhammadiyah menghasilkan Tafsir Langkah Muhammadiyah dan 17 Kelompok Ayat-Ayat Al-Qur'an Ajaran K.H. Ahmad Dahlan. Meskipun kepemimpinan organisasi pada masa ini banyak didominasi oleh kalangan ahli syariah, corak fikih tidak tampak sebagai karakter yang dominan dalam karya-karya tafsir yang dihasilkan. Adapun fase ketiga ditandai oleh hadirnya para pemimpin Muhammadiyah yang memperoleh pendidikan modern dan berorientasi akademik. Pada periode ini lahir Tafsir Tematik Al-Qur'an tentang Hubungan Sosial Antarumat Beragama serta Tafsir At-Tanwir. Karya pertama dipandang oleh sebagian kalangan memiliki kecenderungan ke arah pemikiran yang lebih liberal dalam memahami relasi antaragama, sedangkan Tafsir At-Tanwir hingga kini masih berada dalam proses penyelesaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara genealogis karya-karya tafsir Muhammadiyah berkembang secara relatif independen, tanpa memperlihatkan kesinambungan yang kuat maupun pengaruh langsung antara satu karya tafsir dengan karya lainnya. Kendati demikian, terdapat karakter yang konsisten dalam tradisi tafsir Muhammadiyah, yaitu sifat responsif dan kontekstual. Ayat-ayat Al-Qur'an ditafsirkan dengan mempertimbangkan dinamika sosial dan berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, Muhammadiyah berupaya menghidupkan kembali tradisi intelektual Islam yang menekankan rasionalitas dalam memahami ajaran agama.