Budiman Budiman
Pogram Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN SIRSAK, SALAM, DAN PANDAN SEBAGAI LARVASIDA ALAMI AEDES AEGYPTI Try Septyo Indratno; Budiman Budiman; Hamidah Hamidah
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.58018

Abstract

Penelitian mengenai pemanfaatan bahan alam sebagai pengendali vektor penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) menunjukkan perkembangan yang signifikan seiring dengan meningkatnya kasus kesehatan masyarakat di Indonesia. Upaya pengendalian pada stadium larva menjadi langkah krusial untuk memutus rantai penularan, terutama mengingat penggunaan larvasida sintetis secara terus-menerus dapat memicu resistensi serangga dan pencemaran lingkungan. Sebagai alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan, ekstrak daun sirsak (Annona muricata L), daun salam (Syzygium polyanthum), dan daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius) telah diteliti efektivitasnya terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti. Melalui metode eksperimen laboratorium dengan rancangan post-test only control group design, penelitian ini mengungkapkan bahwa ketiga jenis ekstrak tumbuhan tersebut memiliki potensi sebagai larvasida alami. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% untuk menarik senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan minyak atsiri yang bersifat toksik bagi larva. Hasil pengamatan menunjukkan adanya hubungan dosis-respon (dose-response relationship), di mana persentase kematian larva meningkat secara linear seiring dengan bertambahnya konsentrasi ekstrak yang diberikan (0,14ml; 0,16ml; 0,18ml; dan 0,20ml). Dari ketiga bahan alami yang diuji, ekstrak daun salam menunjukkan efektivitas paling tinggi, terutama pada waktu paparan 24 jam dengan konsentrasi 0,20ml yang mampu mencapai angka mortalitas hingga 96,0%. Angka ini telah melampaui standar efektivitas minimal yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) sebesar 90%. Ekstrak daun sirsak dan daun pandan wangi juga menunjukkan hasil yang positif dengan mortalitas masing-masing sebesar 72,0% dan 65,3% pada dosis yang sama. Secara keseluruhan, pemanfaatan bahan-bahan alami ini menawarkan solusi alternatif yang efektif, ekonomis, dan praktis bagi masyarakat dalam mengendalikan jentik nyamuk tanpa menimbulkan dampak negatif yang besar bagi ekosistem.
EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN KEMANGI, SEREH, DAN JERUK NIPIS TERHADAP JENTIK ANOPHELES SP Meyti Meyti; Budiman Budiman; Hamidah Hamidah
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.58019

Abstract

Penyakit malaria yang ditularkan melalui vektor nyamuk Anopheles sp. masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Ketergantungan pada insektisida kimia dalam jangka panjang telah memicu masalah baru, yakni resistensi vektor dan pencemaran lingkungan. Sebagai solusi alternatif, penelitian ini mengeksplorasi potensi hayati dari ekstrak daun kemangi (Ocimum sanctum), daun sereh (Cymbopogon citratus), dan daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) sebagai larvasida alami yang ramah lingkungan. Berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan di Laboratorium Farmasi Universitas Tadulako, ditemukan bahwa ketiga ekstrak tersebut memiliki daya bunuh terhadap jentik nyamuk Anopheles sp., namun dengan tingkat efektivitas yang berbeda-beda. Peningkatan konsentrasi ekstrak (0,14 ml hingga 0,20 ml) terbukti berbanding lurus dengan tingkat kematian larva, yang menunjukkan adanya hubungan dosis-respons yang positif. Ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) menunjukkan performa paling unggul dan dikategorikan sangat efektif. Pada pengamatan 24 jam, dosis 0,18 ml dan 0,20 ml mampu mencapai tingkat kematian 100%. Hal ini disebabkan oleh kandungan senyawa limonoida (terpenoid) yang bekerja sebagai racun perut dan menghambat sistem pernapasan larva. Sementara itu, ekstrak daun kemangi menunjukkan efektivitas sedang hingga tinggi dengan angka kematian mencapai 73,3% pada dosis tertinggi dalam waktu 24 jam. Senyawa eugenol dan flavonoid dalam kemangi berperan merusak membran sel dan mengganggu sistem saraf larva. Di sisi lain, ekstrak daun sereh menunjukkan hasil yang paling rendah dibandingkan kedua bahan lainnya. Hingga pengamatan 24 jam, tingkat kematian tertinggi hanya mencapai 36%, yang berarti belum mencapai ambang (50% kematian). Rendahnya efektivitas sereh diduga karena sifat senyawa sitral dan geraniol yang sangat volatil (mudah menguap) di media terbuka, sehingga daya bunuhnya berkurang seiring waktu. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa bahan nabati, terutama jeruk nipis dan kemangi, sangat berpotensi sebagai alternatif pengendalian vektor malaria yang aman bagi kesehatan manusia dan kelestarian ekosistem