Visakha Revana Irawan
Department of Internal Medicine, Mandaya Royal Hospital Puri

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kendala dalam Pengelolaan Mandiri pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Wilayah Paling Timur di Indonesia Visakha Revana Irawan; Natalin Allorerung; David Susanto
Bahasa Indonesia Vol 25 No 1 (2026): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v25i1.6696

Abstract

Pendahuluan: Pengelolaan mandiri berperan penting dalam menangani diabetes melitus tipe 2 (DMT2) secara efektif dan mampu mencegah komplikasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kendala yang dihadapi oleh pasien dengan DMT2 di Kabupaten Merauke, Papua Selatan dalam menjalankan pengelolaan mandiri dan menentukan faktor-faktor yang berkaitan dengan kendala tersebut. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain penelitian potong lintang (cross sectional) yang melibatkan 104 pasien dengan DMT2 di Poliklinik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Merauke. Seluruh pasien dinilai untuk mengetahui apakah terdapat kendala dalam pengelolaan mandiri terhadap DMT2 dengan menggunakan Diabetes Obstacles Questionaire (DOQ). Analisis bivariat chi-square digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang berkaitan dengan kendala pengelolaan mandiri pada pasien. Hasil: Pasien dengan DMT2 menghadapi kendala pada tiga komponen dalam DOQ, yaitu kendala dalam pemantauan gula darah secara mandiri (SMBG), kendala dalam menanggulangi DM, dan kendala dalam saran dan dukungan. Analisis bivariat chi-square menunjukkan bahwa status sosial ekonomi (SSE) berhubungan dengan kendala dalam menanggulangi DMT2 dan kurangnya dukungan sosial pada pasien dengan DMT2. Selain itu, SSE juga menunjukkan kecenderungan hubungan dengan kendala dalam melakukan SMBG. OR untuk kendala dalam melakukan SMBG adalah 3,09 (IK 95% 0,98–9,70), pengorbanan yang harus dilakukan dalam pengendalian DMT2 sebesar 4,75 (IK 95% 1,32–17,08), dan kurangnya dukungan sosial sebesar 3,74 (IK 95% 1,12–12,52). Simpulan: Tiga kendala utama dalam pengelolaan mandiri pada pasien dengan DMT2 di Kabupaten Merauke adalah kesulitan melakukan SMBG, persepsi bahwa pengendalian DMT2 memerlukan banyak pengorbanan, dan kurangnya dukungan sosial. SSE yang lebih rendah berhubungan dengan kendala dalam menanggulangi DMT2 dan kurangnya dukungan sosial, serta menunjukkan kecenderungan hubungan dengan kendala dalam melakukan SMBG. Temuan ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi pasien dalam upaya meningkatkan pengelolaan mandiri DMT2.