Pendahuluan: Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2018 dan 2023 menunjukkan peningkatan kebiasaan konsumsi makanan manis sebesar 8,4%, dan minuman manis sebesar 12,8%. Data tersebut berpotensi menyebabkan peningkatan prevalensi obesitas dan status gizi berlebih. Penelitian ini bertujuan untuk bertujuan untuk membandingkan massa lemak dan lemak viseral pada kelompok konsumsi tinggi makanan dan minuman manis dengan kelompok konsumsi normal. Metode: Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Atma Jaya, Pluit, Jakarta Utara dengan menggunakan desain potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode stratified random sampling. Pengukuran tingkat konsumsi makanan dan minuman manis menggunakan Food Frequency Questionaire (FFQ). Pengukuran massa lemak dan lemak viseral menggunakan alat Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Analisis data menggunakan independent t-test dan uji Mann-Whitney. Hasil: Jumlah responden yang digunakan pada penelitian ini adalah 110 orang. Hasil penelitian menunjukkan massa lemak yang lebih tinggi pada responden perempuan (p=0,0001) dan laki-laki (p=0,0006), serta lemak viseral yang lebih tinggi pada responden perempuan (p=0,0010) dan laki-laki (p=0,0056) yang mengonsumsi makanan manis lebih tinggi. Selain itu juga, massa lemak lebih tinggi pada perempuan (p=0,0018) dan laki-laki (p=0,0016), serta dengan lemak viseral lebih tinggi pada perempuan (p=0,0001) dan laki-laki (p=0,0044) yang mengonsumsi minuman manis lebih tinggi. Simpulan: Konsumsi makanan dan minuman manis memiliki efek signifikan terhadap massa lemak dan lemak viseral.