Erna Wulandari
Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Formulasi Emulsi Air-dalam-Minyak-dalam-Air (A/M/A) untuk Stabilisasi Antioksidan Erna Wulandari; Heuw Olivia Maria; Dioin Notario
Bahasa Indonesia Vol 25 No 1 (2026): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v25i1.7783

Abstract

Pendahuluan: Senyawa antioksidan hidrofilik memiliki banyak manfaat, namun aplikasinya masih terbatas dikarenakan sifatnya yang mudah terdegradasi. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem yang dapat meningkatkan stabilitas antioksidan hidrofilik. Metode: Pada penelitian ini, dilakukan penelitian eksperimental formulasi dengan pemodelan menggunakan vitamin C yang akan distabilkan dengan sistem emulsi ganda A/M/A. Emulsi A/M/A dibuat dengan metode emulsifikasi dua tahap. Fase internal dibuat menggunakan emulgator poligliserol polirisinoleat (PGPR) 5% pada suhu 55˚C dan diaduk dengan kecepatan 700 rpm. Fase eksternal dibuat pada suhu yang sama dengan kecepatan pengadukan 600 rpm menggunakan emulgator kombinasi Tween 20 (3,48%) dan Span 80 (6,52%). Uji stabilitas vitamin C pada emulsi A/M/A dilakukan pada suhu ruang dan 40°C. Stabilitas vitamin C dievaluasi dari persen sisa kadar yang diperoleh melalui kurva baku, yang kemudian digunakan untuk menentukan kinetika orde dan nilai t90. Hasil: Karakterisasi fisik emulsi A/M/A menunjukkan terjadinya pemisahan fase setelah 7 hari pada suhu ruang dan setelah 3 hari pada suhu 40˚C. Nilai t90 yang diperoleh sebesar 2,94 hari pada suhu ruang dan 1,85 hari pada suhu 40˚C. Hasil analisis ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan nilai t90 antar formula (p<0,05). Ketidakstabilan fisik pada emulsi mengindikasikan menurunnya kemampuan emulsi A/M/A dalam mengenkapsulasi vitamin C, sehingga mempercepat laju degradasinya. Simpulan: Dalam penelitian ini, emulsi A/M/A yang dibuat tidak meningkatkan vitamin C dibandingkan dengan larutan vitamin C 1% dan emulsi A/M yang diinduksi oleh faktor formulasi, misalnya pemilihan dan stabilitas dari emulgator serta tekanan osmotik sistem.
Pengenalan Ilmu Kosmetik : Bahaya Produk Kosmetik Palsu dan Workshop Pembuatan Parfum Yulius Evan Christian; Erna Wulandari; Patrycia Setiawan; Regina Carissa; Madeline Keke Tanoko; Sharon Susanto
MITRA: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 10 No. 1 (2026): Mitra: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitra.v10i1.7071

Abstract

Penggunaan kosmetik di kalangan remaja, khususnya siswa SMA, meningkat akibat pengaruh tren dan media sosial. Sebagian siswa belum memahami bahwa kosmetik dapat memengaruhi kesehatan dan harus digunakan dengan tepat. Peredaran kosmetik ilegal dan tidak terdaftar di BPOM meningkatkan risiko kesehatan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa mengenai keamanan kosmetik dan memberikan pengalaman membuat parfum. Kegiatan dilaksanakan di SMAK 6 Penabur Pluit pada 30 Juli 2025. Peserta berjumlah 13 siswa dengan rentang usia 15–16 tahun. Metode pelaksanaan diawali dengan penyusunan materi, pembuatan soal asesmen, dan persiapan alat serta bahan. Kegiatan pengabdian dilakukan dengan mengintegrasikan diskusi interaktif dan juga praktik langsung. Secara umum, kegiatan terlaksana sesuai rencana tanpa kendala berarti. Sebelum kegiatan dimulai, dilakukan asesmen awal untuk mengetahui pengetahuan awal siswa SMA. Nilai rata-rata pretest yang didapatkan sebesar 66,92 yang termasuk dalam kategori sedang. Terjadi peningkatan nilai rata-rata posttest menjadi 92,3. Kategori pengetahuan sangat baik meningkat dari 7,7% menjadi 46,2%. Kegiatan ini meningkatkan pengetahuan siswa mengenai keamanan kosmetik dan memberikan keterampilan membuat parfum
Literasi Keamanan Kosmetik dan Pelatihan Pembuatan Tabir Surya Minyak Calendula untuk Siswa SMAN 2 Jakarta Dion Notario; Erna Wulandari; Putriana Rachmawati; Evadia Nathalie; Adelia Siddharta; Angeline Jowi; Lim Siu Ling; Richanda Surya Dharmalau; Asiya Maryam Sandoval; Rovita Nia Matondang; Theresia Shekinah Sadia; Ziva Euginia Tanjaya
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Mitramas, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v4i1.7002

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang aktif menggunakan kosmetik, namun tingkat pengetahuan tentang keamanan produk masih beragam. Kondisi ini membuat mereka rentan menggunakan kosmetik ilegal atau yang dipasarkan dengan klaim berlebihan. Untuk mengatasi masalah ini, sebuah program Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) dilaksanakan guna meningkatkan literasi keamanan kosmetik pada remaja. Upaya peningkatan literasi dilakukan melalui diskusi interaktif dan praktik pembuatan tabir surya untuk mendorong partisipasi aktif dan memperkuat pemahaman peserta. Kegiatan in belangsung di SMAN 2 Jakarta, melibatkan 50 siswa, dan dilaksanakan dalam empat tahap: persiapan awal, persiapan teknis, pelaksanaan, dan evaluasi. Evaluasi dilakukan melalui pre- dan post-test, kuesioner persepsi dengan skala Likert, serta analisis komentar terbuka. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada rerata pengetahuan siswa (pre-test 70,19; post-test 95,66; p-value<0,001). Sebagian besar soal menunjukkan peningkatan proporsi jawaban benar yang signifikan (p-value<0,05). Tingginya antusiasme siswa tercermin dari tingkat pengisian umpan balik yang mencapai lebih dari 70%, skor persepsi positif di atas 80%, serta dominasi komentar apresiatif. Data ini menunjukkan bahwa aktivitas PkM yang diberikan melalui kombinasi edukasi teori dan praktik secara efektif dapat meningkatkan literasi keamanan kosmetik. Untuk program pengabdian berikutnya, disarankan melibatkan lebih banyak peserta dan menambahkan media edukatif seperti buku saku
Literasi Keamanan Kosmetik dan Pelatihan Pembuatan Tabir Surya Minyak Calendula untuk Siswa SMAN 2 Jakarta Dion Notario; Erna Wulandari; Putriana Rachmawati; Evadia Nathalie; Adelia Siddharta; Angeline Jowi; Lim Siu Ling; Richanda Surya Dharmalau; Asiya Maryam Sandoval; Rovita Nia Matondang; Theresia Shekinah Sadia; Ziva Euginia Tanjaya
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Mitramas, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v4i1.7002

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang aktif menggunakan kosmetik, namun tingkat pengetahuan tentang keamanan produk masih beragam. Kondisi ini membuat mereka rentan menggunakan kosmetik ilegal atau yang dipasarkan dengan klaim berlebihan. Untuk mengatasi masalah ini, sebuah program Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) dilaksanakan guna meningkatkan literasi keamanan kosmetik pada remaja. Upaya peningkatan literasi dilakukan melalui diskusi interaktif dan praktik pembuatan tabir surya untuk mendorong partisipasi aktif dan memperkuat pemahaman peserta. Kegiatan in belangsung di SMAN 2 Jakarta, melibatkan 50 siswa, dan dilaksanakan dalam empat tahap: persiapan awal, persiapan teknis, pelaksanaan, dan evaluasi. Evaluasi dilakukan melalui pre- dan post-test, kuesioner persepsi dengan skala Likert, serta analisis komentar terbuka. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada rerata pengetahuan siswa (pre-test 70,19; post-test 95,66; p-value<0,001). Sebagian besar soal menunjukkan peningkatan proporsi jawaban benar yang signifikan (p-value<0,05). Tingginya antusiasme siswa tercermin dari tingkat pengisian umpan balik yang mencapai lebih dari 70%, skor persepsi positif di atas 80%, serta dominasi komentar apresiatif. Data ini menunjukkan bahwa aktivitas PkM yang diberikan melalui kombinasi edukasi teori dan praktik secara efektif dapat meningkatkan literasi keamanan kosmetik. Untuk program pengabdian berikutnya, disarankan melibatkan lebih banyak peserta dan menambahkan media edukatif seperti buku saku
Cosmetic Literacy through a Creative Natural Product-Based Approach for Adolescents in Tangerang Yulius Evan Christian; Erna Wulandari; Madeline Keke Tanoto; Josh Naomy Junior; Adlyne Carlina Widarma; Sharon Susanto
Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement Vol. 7 No. 2 (2026): Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement
Publisher : LP2M INSURI Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/amalee.v7i2.9466

Abstract

The use of cosmetics among adolescents has increased significantly alongside the rapid growth of the beauty industry. However, several critical issues, such as illegal cosmetics or the misuse of cosmetic products, raise great concern. Adolescents, a growing population with limited literacy regarding product safety, may pose higher health risks. This community service program aimed to improve high school students’ knowledge of safe cosmetic use through an experiential learning approach. The activity was conducted with 39 students (64% female, 36% male) from SMA Strada Santo Thomas Aquino in Tangerang. The research design is quasi-experimental using methods included a combination of lectures and a workshop on natural-based lip balm formulation. Participants' knowledge was assessed using a pre-test and post-test to evaluate changes before and after the educational intervention. The results showed an increase in the mean score from 78 on the pre-test to 97 on the post-test. Statistical analysis using a paired t-test demonstrated that this improvement was statistically significant (p < 0.05). The proportion of participants in the very good category increased substantially from 7.69% to 76.92%. In addition, the satisfaction survey indicated high participant satisfaction, with more than 70% rating the overall implementation of the program as very good, including the quality of educational delivery, topic relevance, practical applicability, and time allocation. In conclusion, the creative, natural-product-based educational program effectively improved cosmetic literacy among adolescents and achieved a high level of participant satisfaction. This approach may serve as an effective strategy for adolescences education.