Abstract. Many contemporary stories reshape traditional hero myths to emphasize psychological growth and moral choice over physical triumph. This study examines how well Joseph Campbell’s monomyth explains the protagonist’s development in Makoto Shinkai’s novel Suzume. Using a qualitative method, Suzume Iwato’s untterances, interactions, and key events are analyzed through Campbell’s framework to map her journey onto the stages of Departure, Initiation, and Return. Findings indicate that Suzume progresses through most monomyth sub-stages but omits several conventional elements; refusal of the call, woman as temptress, and apotheosis. Her journey emphasizes internal change, trauma healing, moral responsibility, and emotional independence rather than external feats. The study concludes that Suzume represents a quieter, inward form of heroism and recommends that monomyth theory accommodate affective and ethical paths to transformation in contemporary narratives.Abstrak. Banyak cerita kontemporer mengadaptasi kembali mitos pahlawan tradisional dengan lebih menekankan perkembangan psikologis dan pilihan moral daripada kemenangan fisik. Penelitian ini mengkaji sejauh mana konsep monomyth dari Joseph Campbell dapat menjelaskan perkembangan tokoh utama dalam novel Suzume karya Makoto Shinkai. Dengan menggunakan metode kualitatif, ujaran, interaksi, dan peristiwa-peristiwa penting yang dialami Suzume Iwato dianalisis berdasarkan kerangka Campbell untuk memetakan perjalanannya ke dalam tahap Departure, Initiation, dan Return. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Suzume melewati sebagian besar sub-tahap monomyth, tetapi tidak mengalami beberapa elemen konvensional, yaitu refusal of the call, woman as temptress, dan apotheosis. Perjalanannya lebih menekankan perubahan batin, penyembuhan trauma, tanggung jawab moral, dan kemandirian emosional daripada pencapaian atau kemenangan secara fisik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Suzume merepresentasikan bentuk kepahlawanan yang lebih tenang dan berorientasi pada transformasi internal, serta merekomendasikan agar teori monomyth mampu mengakomodasi jalur transformasi yang bersifat afektif dan etis dalam narasi-narasi kontemporer.