Tatung merupakan salah satu tradisi budaya masyarakat Tionghoa yang masih bertahan hingga saat ini dan identik dengan perayaan Imlek maupun Cap Go Meh. Pada masyarakat Tionghoa, tatung tidak hanya dipahami sebagai bagian dari ritual budaya, tetapi juga memiliki makna spiritual dan kepercayaan tertentu. Di tengah perkembangan zaman modern, keberadaan tatung menjadi menarik untuk dikaji, khususnya pada generasi Z etnis Tionghoa yang hidup di era modernisasi namun tetap berada dalam lingkungan budaya leluhur yang masih dipertahankan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana generasi Z etnis Tionghoa di Kota Pekanbaru memaknai tatung sebagai simbol kepercayaan, budaya, dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat Tionghoa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap enam informan generasi Z etnis Tionghoa di Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead untuk menganalisis makna tatung dalam kehidupan sosial masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi Z Tionghoa di Pekanbaru memaknai tatung tidak hanya sebagai simbol spiritual, tetapi juga sebagai warisan budaya leluhur dan atraksi budaya yang memiliki nilai sosial serta pariwisata. Pengetahuan terhadap tatung diperoleh melalui lingkungan keluarga dan perayaan budaya seperti Imlek dan Cap Go Meh. Pengalaman interaksi dengan tatung juga membentuk cara pandang generasi muda terhadap budaya tersebut. Dalam perspektif interaksionisme simbolik, tatung dipahami sebagai simbol yang dimaknai melalui proses interaksi sosial, pengalaman budaya, dan pewarisan nilai dari lingkungan masyarakat Tionghoa.