Ketimpangan relasi gender dalam masyarakat patriarki masih menjadi persoalan yang terus diproduksi tidak hanya dalam kehidupan sosial, namun juga melalui representasi media (bahkan media populer). Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi Perempuan sebagai muted group menggunakan teori Muted Group Kramarae dan analisis wacana kritis Teun A. van Dijk. Penelitian ini belum spesifik mengkaji bagaimana praktik pembungkaman suara perempuan yang direpresentasikan melaui relasi kuasa dalam komunikasi rumah tangga. Penelitian ini mengungkap bagaimana kelompok marginal perempuan mengalami marginalisasi dalam bentuk pembungkaman oleh kelompok superior laki-laki sebagaimana dalam Muted Group Theory. Pengungkapan dilakukan dengan menggunakan kerangka wacana kritis Teun A. van Dijk. Pengumpulan data dilakukan dengan mengamati, mencatat, dan menganalisis dialog antara Aris sebagai pemeran utama laki-laki dan Kinan sebagai pemeran utama perempuan yang keduanya terikat dalam ikatan suami istri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pembungkaman terhadap tokoh perempuan direproduksi secara sistematis melalui dominasi bahasa, pengendalian informasi, manipulasi makna, dan kontrol komunikasi yang dilakukan tokoh laki-laki. Temuan ini menunjukkan bahwa relasi patrirkal tidak hanya hanya hadir dalam bentuk tindakan fisik, melainkan juga melalui bentuk simbolik. Penelitian ini berpeluang memperluas penerapan Muted Group Theory dalam kajian komunikasi gender berbasis digital dengan menunjukkan bagaimana wacana berperan dalam mempertahankan dominasi maskulin dalam ruang media digital.