Laili Sofwaturrohmah
Universitas Islam Negeri Prof. K.H Saifuddin Zuhri Purwokerto

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

STRATEGI GURU DALAM MEMBANGUN LINGKUNGAN BELAJAR RAMAH NEURODIVERSITAS DI KELAS PAUD INKLUSIF Laili Sofwaturrohmah; Ellen Prima
Merdeka Indonesia Jurnal International Vol 6 No 6 (2026): MIJI : Merdeka Indonesia Journal International
Publisher : Merdeka Indonesia Jurnal International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/miji.v6i6.638

Abstract

Pendidikan inklusif di tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) bertujuan untuk memberikan kesempatan belajar yang sama bagi semua anak tanpa memandang perbedaan kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional, atau neurologis. Namun, implementasi pendidikan inklusif di Indonesia cenderung berfokus pada penerimaan siswa berkebutuhan khusus tanpa menyeimbangkannya dengan pengembangan lingkungan belajar yang benar-benar responsif terhadap keberagaman cara anak berpikir, belajar, dan berinteraksi. Dalam konteks ini, konsep neurodiversitas muncul sebagai paradigma yang memandang perbedaan neurologis sebagai bagian dari keberagaman manusia alami yang harus dihormati dan difasilitasi dalam proses pendidikan. Artikel ini bertujuan untuk meneliti strategi guru dalam membangun lingkungan belajar yang ramah neurodiversitas di kelas PAUD inklusif. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan pustaka, menganalisis berbagai literatur, artikel ilmiah, buku, dan peraturan yang berkaitan dengan pendidikan inklusif, neurodiversitas, dan pembelajaran anak usia dini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang ramah neurodiversitas dibangun melalui tiga dimensi utama: lingkungan fisik yang adaptif, lingkungan sosial yang inklusif, dan lingkungan akademik yang fleksibel. Untuk mencapai hal ini, guru memainkan peran strategis melalui identifikasi kebutuhan individu anak, mengadaptasi pembelajaran yang terdiferensiasi dan multisensori, mengelola lingkungan fisik yang responsif terhadap indra, mengembangkan interaksi sosial yang inklusif, dan berkolaborasi dengan orang tua dan staf pendukung lainnya. Namun, implementasi strategi ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan kompetensi guru, kurangnya sumber daya sekolah, dan stigma sosial terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, penguatan kapasitas guru, dukungan kebijakan yang berkelanjutan, dan peningkatan literasi publik mengenai neurodiversitas diperlukan untuk mencapai pendidikan yang lebih inklusif dan adil bagi semua anak.