Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EFEKTIVITAS GAMIFIKASI TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM KELAS VII MTS MA’ARIF NU 2 CILONGOK Indana Zulfa Muntafi’ah; Ellen Prima
Merdeka Indonesia Jurnal International Vol 6 No 6 (2026): MIJI : Merdeka Indonesia Journal International
Publisher : Merdeka Indonesia Jurnal International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/miji.v6i6.633

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan metode gamifikasi dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas VII di MTs Ma’arif NU 2 Cilongok. Latar belakang penelitian ini adalah Dalam pembelajaran SKI yang masih menggunakan metode konvensional dan berpusat pada guru, alhasil motivasi dan prestasi belajar siswa cenderung rendah. Untuk membuat suasana belajar lebih menarik, peneliti menggunakan metode gamifikasi dalam pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi experiment) dan desain non equivalent control group design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII MTs Ma’arif NU 2 Cilongok tahun pelajaran 2025/2026, dengan sampel sebanyak dua kelompok yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data berupa pretest posttest dan lembar angket persepsi siswa terhadap penggunaan gamifikasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pengolahan data menggunakan pengujian Mann Whitney dan uji N-Gain menggunakan banttuan SPSS for windows versi 25. Data penelitian mengungkapkan nilai signifikansi Asymp. Sig. (2-tailed) kurang dari 0,0001 maka hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan tingkat keaktifan siswa secara signifikan diantara kelas treatment dan pembanding. Hal ini dibuktikan dari hasil analisis data yang menunjukkan bahwa nilai N-Gain pada kelas eksperimen sebesar 0,4066 atau 40,6588% yang termasuk dalam kategori sedang, sedangkan nilai N-Gain pada kelas kontrol sebesar -0,0350 atau -3,4992% yang menunjukkan tidak adanya peningkatan, bahkan cenderung mengalami penurunan.
STRATEGI GURU DALAM MEWUJUDKAN PENDIDIKAN INKLUSI PADA ANAK USIA DINI Maulia Dwi Apriani; Ellen Prima
Merdeka Indonesia Jurnal International Vol 6 No 6 (2026): MIJI : Merdeka Indonesia Journal International
Publisher : Merdeka Indonesia Jurnal International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/miji.v6i6.637

Abstract

Pendidikan inklusif pada anak usia dini merupakan upaya memberikan layanan pendidikan yang setara bagi seluruh anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, dalam lingkungan belajar yang sama. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis strategi guru dalam mewujudkan pendidikan inklusif pada anak usia dini melalui kajian literatur. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui analisis berbagai jurnal, buku, hasil penelitian, dan dokumen kebijakan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif sangat dipengaruhi oleh peran guru dalam menerapkan strategi pembelajaran yang responsif terhadap keberagaman peserta didik. Strategi yang efektif meliputi diferensiasi pembelajaran, penggunaan media dan metode yang beragam, pengelolaan lingkungan belajar yang inklusif, kolaborasi dengan orang tua dan tenaga profesional, serta pendampingan sosial-emosional anak. Namun demikian, implementasi pendidikan inklusif masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan kompetensi guru, minimnya sarana pendukung, serta stigma sosial terhadap anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas guru, dukungan kelembagaan yang berkelanjutan, serta pembangunan budaya sekolah yang inklusif guna meningkatkan kualitas layanan pendidikan anak usia dini yang ramah bagi anak.
STRATEGI GURU DALAM MEMBANGUN LINGKUNGAN BELAJAR RAMAH NEURODIVERSITAS DI KELAS PAUD INKLUSIF Laili Sofwaturrohmah; Ellen Prima
Merdeka Indonesia Jurnal International Vol 6 No 6 (2026): MIJI : Merdeka Indonesia Journal International
Publisher : Merdeka Indonesia Jurnal International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/miji.v6i6.638

Abstract

Pendidikan inklusif di tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) bertujuan untuk memberikan kesempatan belajar yang sama bagi semua anak tanpa memandang perbedaan kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional, atau neurologis. Namun, implementasi pendidikan inklusif di Indonesia cenderung berfokus pada penerimaan siswa berkebutuhan khusus tanpa menyeimbangkannya dengan pengembangan lingkungan belajar yang benar-benar responsif terhadap keberagaman cara anak berpikir, belajar, dan berinteraksi. Dalam konteks ini, konsep neurodiversitas muncul sebagai paradigma yang memandang perbedaan neurologis sebagai bagian dari keberagaman manusia alami yang harus dihormati dan difasilitasi dalam proses pendidikan. Artikel ini bertujuan untuk meneliti strategi guru dalam membangun lingkungan belajar yang ramah neurodiversitas di kelas PAUD inklusif. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan pustaka, menganalisis berbagai literatur, artikel ilmiah, buku, dan peraturan yang berkaitan dengan pendidikan inklusif, neurodiversitas, dan pembelajaran anak usia dini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang ramah neurodiversitas dibangun melalui tiga dimensi utama: lingkungan fisik yang adaptif, lingkungan sosial yang inklusif, dan lingkungan akademik yang fleksibel. Untuk mencapai hal ini, guru memainkan peran strategis melalui identifikasi kebutuhan individu anak, mengadaptasi pembelajaran yang terdiferensiasi dan multisensori, mengelola lingkungan fisik yang responsif terhadap indra, mengembangkan interaksi sosial yang inklusif, dan berkolaborasi dengan orang tua dan staf pendukung lainnya. Namun, implementasi strategi ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan kompetensi guru, kurangnya sumber daya sekolah, dan stigma sosial terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, penguatan kapasitas guru, dukungan kebijakan yang berkelanjutan, dan peningkatan literasi publik mengenai neurodiversitas diperlukan untuk mencapai pendidikan yang lebih inklusif dan adil bagi semua anak.