Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The value of religious tolerance and controversy in the film “Tanda Tanya (?)”: Peirce’s semiotics Kunti Zahrotun Alfi; Anik Mariyani
Priviet Social Sciences Journal Vol. 6 No. 6 (2026): June 2026
Publisher : Privietlab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55942/pssj.v6i6.1437

Abstract

The development of the times has brought changes in people's mindsets and perspectives, including the interpretation of religious tolerance and controversy in pluralistic Indonesia. This change is supported by various media as part of technological development. Movies are one such medium. Film, as a visual communication medium, functions not only as entertainment but also as a means of conveying social and cultural values through a signal/sign system. This study aims to describe the sign system that represents the value of religious tolerance and controversy in the film ‘Tanda Tanya (?)’ by Hanung Bramantyo. This study used a qualitative approach with data collection techniques in the form of documentation, namely, repeated monitoring to understand the context thoroughly. Data in the form of film scenes were analyzed using Charles Sanders Peirce's semiotic theory, which includes icons, indexes, and symbols. The results showed that there were 11 scenes that represented the value of religious tolerance and controversy. Based on this data, each data point represents a system of three sign systems that specifically find 17 symbols, 16 indexes, and 13 icons. The dominant data found was a system of symbolic signs in the form of certain words, actions, colors, and goods that represent the value of religious tolerance and its controversy. This means that symbols with conventional properties in society are an effective means of instilling these values in the flow of the film.
ANALISIS SEMIOTIKA MEME AMERIKA VS IRAN DI TWITTER Kunti Zahrotun Alfi; Diana Zulita
Journal of Language and Literature Education Vol. 2 No. 4 (2025): Desember
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jolale.v2i4.3444

Abstract

Meme tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media kritik, sindiran, dan representasi kondisi sosial-politik global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis meme pertandingan antara Amerika Serikat vs Iran dalam ajang piala dunia Qatar 2022 di twitter. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui metode simak melalui teknik rekam layar (screenshoot) dengan memanfaatkan smartphone (gawai) sebagai media pengumpulan data. Data yang ditemukan dianalisis sesuai dengan teori semiotika Pierce yang menekankan 3 unsur utama, yaitu tanda, objek, dan interpretant. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan 9 meme yang berkaitan dengan pertandingan Amerika vs Iran pada piala dunia di twitter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanda dalam meme diwujudkan melalui unsur visual dan verbal, seperti gambar kerusuhan, bangunan terbengkalai, stadion rusak, pesawat tempur, peta wilayah, bendera negara, serta tokoh politik yang dikombinasikan dengan teks singkat. Objek dalam meme adalah pertandingan sepak bola Amerika Serikat vs Iran yang dikaitkan dengan sejarah konflik politik kedua negara. Adapun interpretant menunjukkan bahwa meme dimaknai sebagai bentuk satire dan sindiran terhadap potensi konflik global, khususnya narasi tentang perang dunia ketiga. Satire dibangun melalui penggunaan ikon berupa visual peperangan dan kehancuran, indeks berupa tanda ancaman dan ketegangan, serta simbol berupa bendera negara, tokoh politik, dan peta wilayah yang merepresentasikan relasi kekuasaan geopolitik. Selain itu, bahasa satire dalam meme berfungsi untuk mengekspresikan kecemasan kolektif, menyindir sensasionalisme publik, serta mendekonstruksi narasi berlebihan mengenai perang dunia ketiga. Dengan demikian, meme di twitter dapat dipahami sebagai media ekspresi yang efektif dalam menyampaikan kritik secara tidak langsung melalui humor dan ironi.