Diana Zulita
SMP Negeri Unggulan Saruma

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

AI, PEERS, AND SUPERVISORS: EPISTEMIC AUTHORITY IN POSTGRADUATE SUPERVISION Antonius Setyawan Sugeng Nur Agung; Monika Widyastuti Surtikanti; Masfa Maiza; Doni Alfaruqy; Imam Baihaqi; Rizki Ramadhan; Daniel Jesayanto Jaya; Diana Zulita
Journal of English Educational Study (JEES) Vol 9, No 1 (2026): May Edition
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jees.v9i1.6211

Abstract

The integration of generative artificial intelligence into higher education has transformed the ways postgraduate students begin and advance their academic work. However, few studies have explored how AI influences epistemic authority in the development of thesis proposals. This study examines how postgraduate students establish and prioritize AI, peers, and supervisors as epistemic authorities within an AI-mediated academic environment. Using a qualitative interpretative methodology, we gathered data from 105 graduate students through questionnaires and semi-structured interviews. Reflexive thematic analysis unveiled a stratified epistemic hierarchy. AI was seen as an important authority because it could help people think more clearly and generate new ideas, but it had to be checked. Peers acted as relational authorities, giving emotional support and dialogic assistance. Supervisors maintained the highest epistemic status as institutional authorities owing to their evaluative authority, responsibility, and symbolic capital within academic frameworks. AI reduced uncertainty and increased perceived control in the early stages of proposal creation, without undermining supervisory legitimacy. Authority remained grounded in institutional acknowledgment rather than in the rapid dissemination of knowledge. The findings enhance AI-in-education studies by shifting the emphasis from usage frequency to authority configuration, offering insights for AI governance and postgraduate supervision.
ANALISIS SEMIOTIKA MEME AMERIKA VS IRAN DI TWITTER Kunti Zahrotun Alfi; Diana Zulita
Journal of Language and Literature Education Vol. 2 No. 4 (2025): Desember
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jolale.v2i4.3444

Abstract

Meme tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media kritik, sindiran, dan representasi kondisi sosial-politik global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis meme pertandingan antara Amerika Serikat vs Iran dalam ajang piala dunia Qatar 2022 di twitter. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui metode simak melalui teknik rekam layar (screenshoot) dengan memanfaatkan smartphone (gawai) sebagai media pengumpulan data. Data yang ditemukan dianalisis sesuai dengan teori semiotika Pierce yang menekankan 3 unsur utama, yaitu tanda, objek, dan interpretant. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan 9 meme yang berkaitan dengan pertandingan Amerika vs Iran pada piala dunia di twitter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanda dalam meme diwujudkan melalui unsur visual dan verbal, seperti gambar kerusuhan, bangunan terbengkalai, stadion rusak, pesawat tempur, peta wilayah, bendera negara, serta tokoh politik yang dikombinasikan dengan teks singkat. Objek dalam meme adalah pertandingan sepak bola Amerika Serikat vs Iran yang dikaitkan dengan sejarah konflik politik kedua negara. Adapun interpretant menunjukkan bahwa meme dimaknai sebagai bentuk satire dan sindiran terhadap potensi konflik global, khususnya narasi tentang perang dunia ketiga. Satire dibangun melalui penggunaan ikon berupa visual peperangan dan kehancuran, indeks berupa tanda ancaman dan ketegangan, serta simbol berupa bendera negara, tokoh politik, dan peta wilayah yang merepresentasikan relasi kekuasaan geopolitik. Selain itu, bahasa satire dalam meme berfungsi untuk mengekspresikan kecemasan kolektif, menyindir sensasionalisme publik, serta mendekonstruksi narasi berlebihan mengenai perang dunia ketiga. Dengan demikian, meme di twitter dapat dipahami sebagai media ekspresi yang efektif dalam menyampaikan kritik secara tidak langsung melalui humor dan ironi.