Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerapan Asas Pembuktian Dalam Hukum Acara Perdata pada Sengketa Sultan Ground PT KAI dan Kesultanan Yogyakarta Joni Sandri Ritonga; Jihany Aulia Nasution; Muhammad Thoriq Al-Faruq Matondang; Nadya Rahma Dalimunthe; Ricky Kurniawan; Sabrinaldi Riduan
Journal of Law, Education and Business Vol. 4 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jleb.v4i1.8031

Abstract

Sengketa tanah Sultan Ground antara PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan Kesultanan Yogyakarta merupakan sengketa keperdataan yang memiliki karakteristik khusus karena melibatkan tanah dengan latar belakang historis dan status keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sengketa ini menempatkan pembuktian sebagai elemen yang sangat menentukan dalam tahapan pemeriksaan perkara di pengadilan. Permasalahan utama yang muncul berkaitan dengan penerapan prinsip pembuktian dalam hukum acara perdata, khususnya mengenai pembagian tanggung jawab pembuktian di antara para pihak yang sama-sama mengajukan klaim atas objek yang disengketakan. Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis penerapan asas pembuktian sekaligus mengkaji distribusi beban pembuktian dalam sengketa tanah Sultan Ground yang melibatkan PT KAI dan Kesultanan Yogyakarta. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan konseptual, serta penelaahan terhadap putusan pengadilan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa asas actori incumbit probatio menjadi pijakan utama dalam proses pembuktian, yang menegaskan bahwa pihak yang mendalilkan suatu hak atau peristiwa hukum memiliki kewajiban untuk membuktikan kebenaran dalil yang diajukannya. Kesultanan Yogyakarta dibebani kewajiban untuk membuktikan hak asal-usul atas tanah Sultan Ground melalui bukti historis, dokumen kelembagaan Kesultanan, serta pengakuan normatif dalam peraturan perundang-undangan, sedangkan PT KAI berkewajiban membuktikan dasar hukum penguasaan dan penggunaan tanah yang diklaimnya. Dalam menilai alat bukti, hakim tidak semata-mata berpegang pada aspek formal pembuktian, tetapi juga mempertimbangkan konteks historis dan kekhususan status hukum tanah Sultan Ground. Dengan demikian, penerapan asas pembuktian dalam sengketa ini memperlihatkan adanya interaksi antara hukum acara perdata, hukum agraria nasional, dan nilai-nilai hukum adat yang hidup dalam masyarakat.
Pembuatan Taman Daur Ulang sebagai Wujud Pengelolaan Sampah dan Penguatan Karakter Peduli Lingkungan Berbasis Ekoteologi Jihany Aulia Nasution; Indah Ayu Putri Purba; Annisa Dwi Naya Azmi; Iqbal Maulana Rambe; Muhammad Lathief Ilhamy Nasution
KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara
Publisher : AMIK Veteran Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/kreatif.v6i3.13224

Abstract

Waste, particularly plastic waste, remains one of the environmental challenges that has not yet been fully addressed in Indonesia, including in elementary schools located in rural areas. This article discusses the implementation of an Ecotheology-based program involving the creation of a recycling garden at SDN 046420 Singa, Singa Village, as an effort to reuse plastic waste and used materials by transforming them into functional elements while improving the appearance of the school environment. This study employed a descriptive qualitative approach using a participatory community service method, in which the authors were directly involved in the entire series of activities, including planning, socialization with the school, field implementation, and final evaluation. Data were collected through participatory observation, documentation, and direct communication with school representatives and students. The results indicate that the recycling garden was successfully created by utilizing bamboo as garden borders and used materials as decorative elements, with students actively involved throughout the process. The activity not only helped reduce scattered waste in the school environment but also fostered students' environmental awareness and concern from an early age. From an ecotheological perspective, this activity can be understood as a manifestation of human responsibility to care for God's creation through simple and sustainable actions.