Pemahaman konsep dalam proses pembelajaran dapat membuat retensi belajar lebih tinggi, pembelajaran lebih aktif, pengetahuan yang didapat lebih luas, mampu memilah informasi atau sumber belajar yang tepat. Salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman konsep adalah model pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pembelajaran CORE dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, sedangkan instrumen penelitian ini adalah lembar observasi dan tes. Sebagai subjek penelitian ini adalah siswa/I SDN 020 Ridan Permai. Dalam penelitian ini siswa kelas V terdiri dari 21 siswa. Hasil penelitian penelitian ini dibagi atas II siklus. Hasil observasi pembelajaran model CORE aktivitas siswa pada siklus I menunjukan bahwa dari pertemuan I hingga pertemuan II adanya peningkatan siswa saat mengikuti pembelajaran menggunakan model CORE. Lalu, pada hasil observasi pemahaman konsep siswa, pada pertemuan II ditemukan bahwa indikator memberikan contoh berada pada kategori “Tinggi” dengan jumlah rata-rata 67,85. Tingkat pemahaman konsep siswa pada siklus I ini belum memenuhi kriteria, pada pertemuan I hasil rata-rata siswa yaitu 61,66 dan pertemuan II hasil rata-rata siswa yaitu 63,33, hal ini menunjukkan bahwa kedua pertemuan siswa masih berada di kategori “sedang”. Hasil observasi pembelajaran model CORE aktivitas siswa pada siklus II menunjukan bahwa dari pertemuan I hingga pertemuan II adanya peningkatan siswa saat mengikuti pembelajaran menggunakan model CORE. Lalu, pada hasil observasi pemahaman konsep siswa, pada pertemuan II ditemukan bahwa indikator memberikan contoh berada pada kategori “Tinggi” dengan jumlah rata-rata 79,76. Tingkat pemahaman konsep siswa pada siklus II ini mengalami peningkatan yang signifikan yang mana secara keseluruhan 21(100%) siswa tuntas mengerjakan tes pemahaman konsep IPA. Peningkatan hasil tes ini sudah sesuai dengan yang diharapkan karena tingkat ketuntasan belajar secara klasikal sudah dikatakan atau dikategorikan “Tinggi”. Dengan demikian model ini dapat dijadikan sebagai alternatif model pembelajaran yang efektif untuk mencapai kemampuan pemahaman konsep dan prestasi belajar siswa secara optimal.