Jamur tiram memiliki keunggulan karena mudah dibudidayakan dan diminati sebagai sumber protein alternatif. Namun, komoditas ini bersifat mudah rusak sehingga memerlukan pengolahan pascapanen untuk memperpanjang daya simpan dan meningkatkan nilai jual. Produk olahan seperti jamur krispi menjadi salah satu inovasi untuk menciptakan nilai tambah. Kabupaten Kulon Progo memiliki potensi besar dalam produksi jamur tiram yang mendorong tumbuhnya agroindustri lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) proses pengolahan jamur tiram menjadi jamur krispi, (2) nilai tambah yang dihasilkan, dan (3) pendapatan dari kegiatan pengolahan. Penelitian dilaksanakan di CV Khaira Buana Mas pada bulan Oktober 2024 hingga April 2025 dengan menggunakan metode deskriptif melalui survei dan studi kasus. Analisis data meliputi analisis deskriptif, analisis nilai tambah dengan metode Hayami, dan analisis pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengolahan dilakukan secara semi-modern dengan pendekatan industri rumah tangga. Nilai tambah yang dihasilkan sebesar Rp 96.212 per kilogram dengan rasio 48%, yang menunjukkan bahwa usaha pengolahan jamur tiram menjadi jamur krispi termasuk dalam kategori usaha bernilai tambah tinggi. Oyster mushrooms have the advantage of being easy to cultivate and are in demand as an alternative protein source. However, this commodity is highly perishable and requires post-harvest processing to extend shelf life and increase market value. Processed products such as crispy mushrooms serve as an innovative solution to create added value. Kulon Progo Regency has great potential for oyster mushroom production, which has encouraged the growth of local agro-industries. This study aims to analyze (1) the processing of oyster mushrooms into crispy mushrooms, (2) the added value generated, and (3) the income from processing activities. The research was conducted at CV Khaira Buana Mas from October 2024 to April 2025 using a descriptive approach through surveys and a case study. The analysis included descriptive analysis, value-added analysis using the Hayami method, and income analysis. The results showed that processing was carried out semi-modernly using a home-industry approach. The added value generated amounted to IDR 96,212 per kilogram with a ratio of 48%, indicating that the oyster mushroom processing business falls into the high value-added category.