Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Al-Taqdim wa Al-ta'hir dalam Teks Al-Qurán: Fungsi Retoris dan Implikasi Makna dalam Kajian Ilm Ma’ani Hasnawiah; Vina Vahira; Haniah
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8566

Abstract

Al-Qur’an sebagai teks berbahasa Arab memiliki tingkat kebalaghahan yang tinggi, yang tercermin antara lain dalam fenomena al-taqdīm wa al-ta’khīr (pendahuluan dan pengakhiran unsur kalimat). Meskipun telah banyak dikaji, sebagian besar penelitian sebelumnya masih terbatas pada identifikasi bentuk gramatikal dan belum mengintegrasikan secara komprehensif antara fungsi retoris, implikasi makna, serta relevansinya dalam kerangka ʿilm al-maʿānī. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis bentuk-bentuk al-taqdīm wa al-ta’khīr dalam Al-Qur’an, mengungkap fungsi retorisnya, serta menjelaskan implikasi makna yang dihasilkan dalam perspektif balaghah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kajian pustaka (library research) dengan metode deskriptif-analitis. Data penelitian berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung fenomena al-taqdīm wa al-ta’khīr dipilih melalui teknik purposive sampling, kemudian dianalisis melalui tahapan identifikasi, klasifikasi, analisis sintaksis, analisis retoris, dan interpretasi makna berdasarkan prinsip muqtadā al-ḥāl dalam ʿilm al-maʿānī. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena al-taqdīm wa al-ta’khīr muncul dalam berbagai pola, seperti pendahuluan khabar atas mubtada’, objek (maf‘ul) atas subjek (fa‘il), serta keterangan (jar wa majrūr) atas unsur lainnya, yang secara konseptual termasuk dalam kategori al-khurūj ‘an al-aṣl. Pergeseran struktur ini memiliki fungsi retoris yang beragam, antara lain untuk pembatasan makna (al-qaṣr), pengagungan (al-ta‘ẓīm), pemberian perhatian (al-ihtimām), penegasan pesan, serta penciptaan efek stilistika seperti at-tasywīq dan keserasian bunyi (al-fāṣilah). Lebih lanjut, analisis menunjukkan bahwa perubahan urutan kata berimplikasi langsung terhadap konstruksi makna, baik dalam aspek teologis, semantik, maupun pragmatik, sehingga memengaruhi pemahaman terhadap pesan ilahi dalam konteks tertentu. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menawarkan pendekatan integratif yang menghubungkan analisis retoris klasik dengan perspektif linguistik modern, serta menegaskan bahwa al-taqdīm wa al-ta’khīr bukan sekadar fenomena gramatikal, melainkan perangkat interpretatif yang esensial dalam memahami kedalaman makna Al-Qur’an.
Leksikon ke Spiritualitas: Model Integratif Semantik Qur’ani dan Hermeneutika Sufistik dalam Memahami Konsep Cinta Ilahi Vina Vahira; Nidaul Hasanah; Abdul Rahman; Baso Pallawagau
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 7 No 1 (2026): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v7i1.582

Abstract

Kajian tentang cinta Ilahi dalam Al-Qur’an selama ini lebih banyak dipahami dalam kerangka teologis dan tasawuf normatif, sementara pendekatan semantik Qur’ani dan hermeneutika sufistik masih jarang diintegrasikan secara sistematis. Padahal, konsep cinta dalam Al-Qur’an memiliki kedalaman makna yang tidak hanya bersifat leksikal, tetapi juga spiritual dan eksistensial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep cinta Ilahi melalui model integratif antara semantik Qur’ani dan hermeneutika sufistik guna memahami transformasi makna dari dimensi kebahasaan menuju dimensi spiritualitas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan semantik Qur’ani dan hermeneutika sufistik. Data penelitian diperoleh dari ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan konsep cinta, seperti ḥubb, mawaddah, dan raḥmah, serta ditunjang oleh literatur tafsir, karya tasawuf, dan kajian semantik modern. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menelaah relasi makna leksikal, konteks ayat, dan interpretasi sufistik terhadap konsep cinta Ilahi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep cinta Ilahi dalam Al-Qur’an tidak hanya bermakna afeksi emosional, tetapi juga mencerminkan hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan yang berorientasi pada penyucian jiwa, kedekatan eksistensial, dan transformasi moral. Integrasi semantik Qur’ani dan hermeneutika sufistik menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika makna cinta dalam Al-Qur’an. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi akademik dalam pengembangan studi semantik Al-Qur’an dan kajian spiritualitas Islam kontemporer.