Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peran Budaya Sebagai Wahana Pendidikan Resolusi Konflik di Perguruan Tinggi Agung Tesa Gumilar; Faris Mu'taz Fawwazi; Beben Muhammad Bachtiar; Nursanda Rizki Adhari; Debby Avrenyca Cynthia
Pro Patria: Jurnal Pendidikan, Kewarganegaraan, Hukum, Sosial, dan Politik Vol. 9 No. 1 (2026): Pro Patria: Jurnal Pendidikan, Kewarganegaraan, Hukum, Sosial dan Politik
Publisher : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FKIP, Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/propatria.v9i1.4634

Abstract

Konflik merupakan fenomena inheren dalam kehidupan sosial yang tidak terpisahkan dari dinamika interaksi di lingkungan perguruan tinggi, terutama dalam konteks masyarakat yang multikultural. Keragaman latar belakang budaya mahasiswa berpotensi memunculkan konflik apabila tidak diimbangi dengan kemampuan resolusi konflik yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran budaya sebagai wahana pendidikan resolusi konflik di perguruan tinggi. Metode yang digunakan adalah systematic literature review (SLR) dengan tahapan identifikasi, screening, eligibility, dan inclusion terhadap berbagai literatur ilmiah yang relevan. Data dianalisis menggunakan pendekatan content analysis secara tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa resolusi konflik merupakan seperangkat kemampuan yang mencakup aspek orientasi nilai, persepsi, pengendalian emosi, komunikasi, serta berpikir kritis dan kreatif. Pendidikan resolusi konflik menjadi kebutuhan mendesak di perguruan tinggi mengingat masih rendahnya kemampuan mahasiswa dalam mengelola konflik secara konstruktif. Dalam konteks ini, budaya berperan strategis sebagai media pembelajaran yang mampu menginternalisasikan nilai-nilai toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, serta kesadaran multikultural. Pendekatan budaya juga memberikan kerangka praktis dalam pengelolaan konflik melalui berbagai strategi seperti kolaborasi, kompromi, hingga pendekatan integratif. Selain itu, kesadaran budaya mahasiswa menjadi faktor kunci dalam membangun kemampuan perdamaian yang berkelanjutan, baik secara internal maupun dalam interaksi sosial. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi budaya dalam pendidikan resolusi konflik tidak hanya berfungsi sebagai pendekatan preventif, tetapi juga sebagai strategi transformatif dalam menciptakan lingkungan akademik yang harmonis dan inklusif. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu mengembangkan model pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya dalam kurikulum, pembelajaran, serta praktik kehidupan kampus.