Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Metode Penyuluhan Perikanan terhadap Adopsi Teknologi dan Produktivitas Nila Bioflok Sipanen di Kota Bogor Ainun Mardiyah; Mulyono S Baskoro; Lis M Yapanto
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 20, No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v20i1.648

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode penyuluhan perikanan terhadap kapasitas sumber daya manusia (pengetahuan, keterampilan, dan sikap), tingkat adopsi teknologi, dan produktivitas budi daya ikan nila bioflok Sipanen di Kota Bogor. Penelitian dilakukan pada 28 pembudidaya menggunakan pendekatan kuantitatif dengan uji Mann–Whitney dan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan jumlah metode penyuluhan berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan (p=0,047; r=0,378) dan keterampilan (p=0,032; r=0,400), namun tidak berpengaruh signifikan terhadap sikap (p=0,149; r=0,271), adopsi (p=0,201; r=0,209), dan produktivitas (p=0,074; r=0,342). Pengetahuan (p=0,026; r=0,422) dan keterampilan (p=0,000; r=0,800) berpengaruh signifikan terhadap adopsi, sedangkan sikap tidak berpengaruh signifikan terhadap adopsi (p=0,055; r=0,360). Namun, pengetahuan (p=0,049; r=0,376), keterampilan (p=0,038; r=0,396), dan sikap (p=0,002; r=0,595) berpengaruh signifikan terhadap produktivitas. Pengaruh metode penyuluhan terhadap produktivitas bersifat tidak langsung melalui pengetahuan dan keterampilan yang mendorong adopsi, dengan keterampilan sebagai faktor dominan. Sikap memiliki pengaruh langsung yang kuat terhadap produktivitas. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas penyuluhan ditentukan oleh kemampuan meningkatkan keterampilan praktis pembudidaya dalam mendorong adopsi teknologi dan produktivitas.
PRIORITAS KEBUTUHAN PELATIHAN PENYULUH PERIKANAN BERBASIS ANALISIS HIERARKI PROSES (AHP) UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI ERA DIGITAL DI  SATMINKAL BPPP MEDAN Yulya Fitria; Lis M Yapanto; I Ketut Sumandiarsa
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i2.6094

Abstract

Abstract: In the era of Industrial Revolution 4.0 and the transition toward Society 5.0, Indonesia's marine and fisheries sector faces a digital transformation imperative to maintain global competitiveness and resource sustainability. Fisheries extension officers, acting as agents of change, are required to possess adaptive digital competencies to facilitate technology adoption among stakeholders. However, existing training programs are often generic and lack prioritization based on real-world needs and strategic impact. This study aims to map digital competency gaps and formulate strategic training priorities by integrating individual needs with expert perspectives. The research employs a quantitative approach with a two-stage analytical design. A case study was conducted at the Base Administrative Unit (Satminkal) of the Center for Fisheries Training and Extension (BPPP) Medan. In the first stage, a Training Needs Analysis (TNA) was conducted on 230 extension officers to measure digital competency gaps across 12 indicators, followed by a Pareto Analysis to identify critical competencies (the vital few). In the second stage, the five critical competencies identified from the TNA were evaluated by a panel of nine experts using the Analytical Hierarchy Process (AHP) to determine final priorities based on four criteria: urgency, impact on performance, policy alignment, and gap severity. TNA findings revealed the highest gaps in technical competencies: "Operation of Fisheries-Specific Applications" (gap -1.33) and "Digital Content Production" (gap -1.31). Pareto Analysis confirmed that 78.4% of the total gap originated from five vital competencies. AHP results indicated that "Impact on Performance" was the primary determinant (weight 40.1%). The synthesis produced "Operation of Fisheries-Specific Applications" as the top priority (global weight 0.397). The integration of TNA and AHP produces more precise training priorities for effective resource allocation in the digital age.   Keywords: Fisheries Extension Officers; Digital Competence; Training Needs Analysis; Pareto Analysis; Analytical Hierarchy Process   Abstrak: Di era Revolusi Industri 4.0 dan transisi menuju Society 5.0, sektor kelautan dan perikanan Indonesia menghadapi imperatif transformasi digital guna mempertahankan daya saing global dan keberlanjutan sumber daya. Penyuluh perikanan, sebagai agen perubahan, dituntut memiliki kompetensi digital yang adaptif untuk memfasilitasi adopsi teknologi di kalangan pelaku usaha. Namun, program pelatihan yang ada seringkali bersifat umum dan tidak diprioritaskan berdasarkan kebutuhan riil dan dampak strategisnya. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kesenjangan kompetensi digital penyuluh perikanan dan merumuskan prioritas pelatihan yang strategis dengan mengintegrasikan perspektif kebutuhan individu dan pertimbangan ahli. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analisis bertahap (two-stage quantitative analysis). Studi kasus dilakukan di Satminkal Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Medan. Pada tahap pertama, Training Needs Analysis (TNA) dilakukan terhadap 230 penyuluh untuk mengukur kesenjangan kompetensi digital pada 12 indikator, dilanjutkan dengan Analisis Pareto untuk mengidentifikasi kompetensi kritis (vital few). Pada tahap kedua, lima kompetensi kritis dievaluasi oleh 9 panel ahli menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas akhir berdasarkan empat kriteria: urgensi, dampak kinerja, kesesuaian kebijakan, dan tingkat kesenjangan. Hasil TNA mengungkap kesenjangan tertinggi pada "Pengoperasian Aplikasi Spesifik" (gap -1,33) dan "Produksi Konten Digital" (gap -1,31). Analisis Pareto mengonfirmasi 78,4% total kesenjangan berasal dari lima kompetensi vital. Hasil AHP menunjukkan kriteria "Dampak pada Kinerja" menjadi determinan utama (bobot 40,1%). Sintesis prioritas global menghasilkan "Pengoperasian Aplikasi Spesifik" sebagai prioritas utama (bobot 0,397). Integrasi TNA dan AHP menghasilkan prioritas pelatihan yang lebih presisi untuk efektivitas alokasi sumber daya di era digital.   Kata Kunci: Penyuluh Perikanan; Kompetensi Digital; Training Needs Analysis; Analisis Pareto; Analytical Hierarchy Process
EVALUASI MULTIDIMENSI KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN BENIH BENING LOBSTER (PUERULUS) DI PERAIRAN KABUPATEN TULUNGAGUNG BERBASIS RAPID APPRAISAL FOR FISHERIES (RAPFISH) Susadiana; Lis M Yapanto; Hatim Albasri
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 3 (2026): June 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i3.6586

Abstract

Abstract: The waters of Tulungagung Regency possess potential for clear lobster seed (BBL), driving high levels of fishing activity for this commodity. BBL management—including harvesting activities—is governed by government regulations that underwent frequent changes between 2021 and 2024. This study aimed to examine BBL management issues in Tulungagung by characterizing BBL utilization, assessing the sustainability status of BBL management, and formulating management strategies. Data were collected through interviews, observation, and documentation. Analysis employed MDS RAPFISH to determine sustainability status and AHP to formulate priority management strategies. The results indicate that BBL fishing activities in Tulungagung are environmentally friendly, utilizing *pocong* nets that comply with the standards set in the Regulation of the Minister of Marine Affairs and Fisheries Number 7 of 2024. RAPFISH analysis classified the sustainability status as "sustainable," reflecting controlled utilization levels alongside relatively stable fishing volumes and activity among local fishers. Meanwhile, AHP analysis identified the implementation of a closed season—based on peak lobster spawning periods—as the primary management strategy for BBL in Tulungagung Regency. This study recommends this priority strategy as the key measure to improve and maintain the sustainability of BBL management in the region. Keywords: Sustainability, lobster spawning season, MDS RAPFISH, AHP   Abstrak: Perairan Kabupaten Tulungagung memiliki potensi benih bening lobster (BBL) yang mendorong tingginya aktivitas penangkapan komoditas tersebut. Pengelolaan BBL termasuk di dalamnya aktivitas penangkapan telah diatur dalam peraturan pemerintah yang sering mengalami perubahan pada kurun waktu 2021 hingga 2024. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tujuan guna mendalami persoalan pengelolaan BBL khususnya di Tulungagung diantaranya menentukan keragaan karakteristik pemanfaatan BBL, menetapkan status keberlanjutan pengelolaan BBL, serta menentukan strategi pengelolaan BBL. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan MDS RAPFISH untuk penetapan status keberlanjutan dan AHP perumusan strategi prioritas pengelolaan BBL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan penangkapan BBL yang di Tulungagung tergolong ramah lingkungan menggunakan alat berupa jaring pocong yang masih sesuai dengan kaidah yang ditetapkan dalam Permen KP Nomor 7 Tahun 2024. Hasil analisis RAPFISH menunjukkan status keberlanjutan pada kategori berkelanjutan yang menunjukkan tingkat pemanfaatan yang masih terkontrol dengan relatif stabilnya jumlah dan aktivitas penangkapan oleh nelayan setempat. Sedangkan pada hasil analisis prioritas rekomendasi kebijakan (AHP) diperoleh strategi penerapan musim tertutup berdasarkan puncak pemijahan lobster sebagai pilihan strategi pengelolaan BBL paling utama di Kabupaten Tulungagung. Studi ini merekomendasikan strategi prioritas tersebut sebagai upaya utama untuk memperbaiki dan mempertahankan status keberlanjutan pengelolaan BBL di Tulungagung. Kata kunci: Keberlanjutan, BBL, MDS RAPFISH, AHP