Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penerapan Model Explicit Instruction untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Puisi Kelas V SD GMIM VI Tomohon Revalina Felya Merentek; Norma N. Monigir; Juliana K. Tagupia
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.301

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca puisi peserta didik kelas V SD GMIM VI Tomohon melalui penerapan model pembelajaran Explicit Instruction pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Studi ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan mengimplementasikan alur siklus yang dikembangkan oleh Kemmis dan McTaggart. Secara operasional, rangkaian tindakan ini diselenggarakan dalam dua siklus, dengan masing-masing siklus mengalir melalui empat fase berkesinambungan, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan aksi, pengamatan, serta aktivitas refleksi. Meskipun total subjek dalam riset ini berjumlah 20 peserta didik, pada saat implementasi tindakan dilakukan di kelas, tercatat hanya 18 siswa yang hadir dan aktif mengikuti proses pembelajaran. Data penelitian diperoleh melalui lembar observasi dan penilaian keterampilan membaca puisi yang mencakup aspek lafal, intonasi, tempo, ekspresi, dan percaya diri. Proses analisis data dalam penelitian ini bertumpu pada kalkulasi rata-rata capaian belajar serta tingkat ketuntasan belajar klasikal siswa, dengan merujuk pada standar KKTP yang berada di angka 75. Temuan pada tahap siklus I menunjukkan bahwa nilai rata-rata capaian belajar siswa berada di angka 65. Sementara itu, tingkat ketuntasan klasikal yang diraih baru mencapai 55%, yang berarti hanya 10 dari total 18 peserta didik yang dinyatakan berhasil memenuhi standar kelulusan. Pasca-pelaksanaan tindakan perbaikan pada siklus II, nilai rerata capaian belajar siswa mengalami lonjakan hingga menyentuh angka 90. Sejalan dengan itu, persentase ketuntasan klasikal juga berhasil menembus 89%, di mana 16 dari total 18 peserta didik telah dinyatakan lulus kriteria. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Explicit Instruction efektif dalam meningkatkan keterampilan membaca puisi peserta didik kelas V SD GMIM VI Tomohon.
Penerapan Model Explicit Instruction untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Puisi Kelas V SD GMIM VI Tomohon Revalina Felya Merentek; Norma N. Monigir; Juliana K. Tagupia
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.301

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca puisi peserta didik kelas V SD GMIM VI Tomohon melalui penerapan model pembelajaran Explicit Instruction pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Studi ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan mengimplementasikan alur siklus yang dikembangkan oleh Kemmis dan McTaggart. Secara operasional, rangkaian tindakan ini diselenggarakan dalam dua siklus, dengan masing-masing siklus mengalir melalui empat fase berkesinambungan, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan aksi, pengamatan, serta aktivitas refleksi. Meskipun total subjek dalam riset ini berjumlah 20 peserta didik, pada saat implementasi tindakan dilakukan di kelas, tercatat hanya 18 siswa yang hadir dan aktif mengikuti proses pembelajaran. Data penelitian diperoleh melalui lembar observasi dan penilaian keterampilan membaca puisi yang mencakup aspek lafal, intonasi, tempo, ekspresi, dan percaya diri. Proses analisis data dalam penelitian ini bertumpu pada kalkulasi rata-rata capaian belajar serta tingkat ketuntasan belajar klasikal siswa, dengan merujuk pada standar KKTP yang berada di angka 75. Temuan pada tahap siklus I menunjukkan bahwa nilai rata-rata capaian belajar siswa berada di angka 65. Sementara itu, tingkat ketuntasan klasikal yang diraih baru mencapai 55%, yang berarti hanya 10 dari total 18 peserta didik yang dinyatakan berhasil memenuhi standar kelulusan. Pasca-pelaksanaan tindakan perbaikan pada siklus II, nilai rerata capaian belajar siswa mengalami lonjakan hingga menyentuh angka 90. Sejalan dengan itu, persentase ketuntasan klasikal juga berhasil menembus 89%, di mana 16 dari total 18 peserta didik telah dinyatakan lulus kriteria. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Explicit Instruction efektif dalam meningkatkan keterampilan membaca puisi peserta didik kelas V SD GMIM VI Tomohon.
Pentingnya Literasi Disiplin Ilmu dalam Pengembangan Kurikulum di SD Inpres Kakaskasen Dua Norma N. Monigir; Elisabeth Rosina Lantang
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 3: April 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i3.16689

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pentingnya literasi disiplin ilmu dalam pengembangan kurikulum di SD Inpres Kakaskasen Dua. Literasi disiplin ilmu dipandang sebagai pendekatan pembelajaran yang menekankan cara berpikir, bernalar, membaca, dan menulis sesuai dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas kepala sekolah dan guru kelas. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi disiplin ilmu telah mulai diintegrasikan dalam pengembangan kurikulum melalui penyusunan modul pembelajaran yang menekankan aktivitas membaca, diskusi, pengamatan, dan pemecahan masalah. Penerapan literasi disiplin ilmu mendorong keterlibatan aktif peserta didik serta memperkuat kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konseptual. Namun, implementasinya belum berjalan secara optimal dan merata karena keterbatasan pemahaman guru, belum terumuskannya literasi disiplin ilmu secara eksplisit dalam dokumen kurikulum sekolah, serta sistem penilaian yang masih berfokus pada tes tertulis. Oleh karena itu, diperlukan penguatan melalui peningkatan kompetensi guru, pengembangan modul pembelajaran berbasis literasi disiplin ilmu, serta penyelarasan sistem penilaian agar pengembangan kurikulum dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.