Nanang Maulana
Universitas Mathla’ul Anwar

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Makna Denotatif dan Konotatif pada Headline Berita Digital Kompas.com Edisi April 2025 dan Relevansinya sebagai Bahan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA: Analysis of Denotative and Connotative Meanings in Kompas.com Digital News Headlines April 2025 Edition and Their Relevance as Indonesian Language Learning Materials in Senior High School Ratu Nazwa Nabila; Purlilaiceu; Nanang Maulana
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2013

Abstract

Penelitian ini menganalisis makna denotatif dan konotatif pada headline berita digital Kompas.com edisi April 2025 serta relevansinya sebagai bahan pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Kajian ini berpijak pada teori semantik, khususnya perbedaan antara makna literal dan makna asosiatif, sebab headline berita daring tidak hanya berfungsi menyampaikan peristiwa, tetapi juga membangun penekanan, nuansa emosional, dan orientasi pembaca melalui pilihan diksi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa 277 headline berita Kompas.com edisi April 2025 yang dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, baca, dan catat. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi satuan leksikal kunci, menafsirkan makna denotatif, mengklasifikasikan makna konotatif berdasarkan nilai rasa, serta memverifikasi temuan melalui pembacaan konteks headline dan topik berita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna denotatif ditemukan sebanyak 20 data, sedangkan makna konotatif lebih dominan, meliputi konotasi tinggi, ramah, berbahaya, tidak pantas, tidak enak, kasar, dan keras. Dominasi makna konotatif menunjukkan bahwa diksi headline tidak hanya berfungsi informatif, tetapi juga retoris untuk menarik perhatian, menguatkan isu, dan membentuk persepsi awal pembaca. Temuan ini relevan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA karena headline berita digital dapat digunakan sebagai bahan ajar kontekstual untuk mempelajari makna semantik, analisis teks berita, literasi kritis, dan sikap membaca digital yang bertanggung jawab. Kata kunci: makna denotatif; makna konotatif; headline berita; berita digital; kajian semantik; pembelajaran Bahasa Indonesia
MAKNA KATA DAN NILAI MORAL DALAM KUMPULAN LAGU DAERAH BANTEN SERTA PEMANFAATANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA DI SMA Yulia Antini; Purlilaiceu; Nanang Maulana
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.1990

Abstract

Lagu daerah merupakan bagian dari sastra lisan yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian makna bahasa dan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna kata dan nilai moral dalam kumpulan lagu daerah Banten serta menganalisis pemanfaatannya sebagai bahan ajar Bahasa Indonesia di SMP. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode dokumentasi dan teknik baca-catat terhadap teks lirik 21 lagu daerah Banten. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil yang ditemukan meliputi makna leksikal, gramatikal, referensial, nonreferensial, denotatif, konotatif, konseptual, asosiatif, idiomatikal, dan peribahasa, sedangkan nilai moral mencakup nilai ketuhanan, sosial, individual, universal, serta hukum dan keadilan. Temuan ini menunjukkan bahwa lagu daerah Banten tidak hanya mencerminkan kekayaan linguistik, tetapi juga mengandung nilai moral yang relevan dengan kehidupan masyarakat. Selain itu, lagu daerah memiliki potensi pedagogis sebagai bahan ajar kontekstual dalam pembelajaran Bahasa Indonesia karena dapat meningkatkan pemahaman makna bahasa, menanamkan nilai moral, serta memperkuat identitas budaya peserta didik. Dengan demikian, pemanfaatan lagu daerah dalam pembelajaran dapat menjadi alternatif inovatif yang sejalan dengan prinsip pembelajaran kontekstual dalam Kurikulum Merdeka.
ANALISIS NILAI NASIONALISME DAN DEIKSIS PADA FILM BUYA HAMKA VOL.1 KARYA ALIM SUDIO Amanda Maharani Putri; Nanang Maulana; Purlilaiceu
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 1 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JANUARI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i1.1994

Abstract

This study aims to analyze the values of nationalism and the use of deixis in the film Buya Hamka Vol. 1 directed by Alim Sudio, as well as to explore its potential as learning material in Indonesian language classes at junior high school. Nationalism is reflected through characters’ attitudes, behaviors, and dialogues that emphasize patriotism, unity, and cultural appreciation. Meanwhile, deixis is observed as an important linguistic aspect in understanding the context of communication between characters. The research employed a qualitative descriptive method with data collected through documentation and note-taking techniques. The findings indicate that the film contains various forms of nationalism values, such as love for the homeland, unity, religiosity, and willingness to sacrifice for the nation. In addition, the film presents different types of deixis, including personal, spatial, temporal, and social deixis, which function to clarify the meaning of dialogues and strengthen the narrative. The integration of nationalism values and deixis analysis in the film can be utilized as teaching material in Indonesian language learning, particularly in developing students’ character and linguistic competence. This research highlights that films with historical and cultural contexts, such as Buya Hamka Vol. 1, are not only entertaining but also educational, providing meaningful contributions to both language learning and character education in schools.
Representasi Kritik Sosial dan Nilai Pendidikan dalam Film Air Mata di Ujung Sajadah serta Pemanfaatannya sebagai Bahan Ajar Sastra di SMA: Representation of Social Criticism and Educational Values in the Film Air Mata di Ujung Sajadah and Its Utilization as Literature Teaching Material in Senior High School Sopia Ananta; Hendri Henrian Algadri; Nanang Maulana
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2002

Abstract

This research is motivated by the importance of understanding moral messages and social criticism implied in modern literary works, particularly films. The purpose of this study is to describe the forms of social criticism and educational values represented in the film Air Mata di Ujung Sajadah directed by Key Mangunsong and to explain its utilization as literature teaching material in senior high schools. This study applies a qualitative approach using the semiotic analysis of Ferdinand de Saussure, which emphasizes the relationship between the signifier and the signified. The findings reveal that the film represents social criticism related to injustice, poverty, family conflict, and religious issues. In addition, the educational values reflected in the film include responsibility, care, sincerity, and the importance of maintaining family harmony. These findings are relevant to literature learning in senior high schools, particularly in film appreciation and literary analysis. The film can serve as concrete teaching material to instill moral values, develop critical thinking skills, and foster students’ empathy toward social realities within society.