Cefin Syahputra Natama Sitanggang
Universitas Negeri Medan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Perkembangan Istilah Baru dalam Bahasa Indonesia di Era Digital: Kajian Literatur: The Development of New Terms in the Indonesian Language in the Digital Era: A Literature Review Cefin Syahputra Natama Sitanggang; Mawar Ropita Sari Br Limbong; Marina Uly Arta Manik; Jona Yehezkiel Ginting; Muhammad Anggie Januarsyah Daulay
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2770

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mempercepat inovasi kosakata dalam bahasa Indonesia, terutama melalui media sosial yang menyirkulasikan istilah baru, bahasa gaul, singkatan, campur kode, dan neologisme. Artikel ini mendeskripsikan perkembangan istilah baru bahasa Indonesia di era digital, mengidentifikasi faktor sosial-teknologis yang memengaruhi kemunculan dan penyebarannya, serta menjelaskan pola penggunaan istilah tersebut oleh generasi muda sebagai sumber identitas sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian literatur tersistem terhadap sumber akademik yang dapat ditelusuri, laporan resmi, dan teori sosiolinguistik. Analisis diarahkan oleh sosiolinguistik variasionis Labov, khususnya konsep perubahan bahasa, komunitas tutur, serta gengsi terbuka dan tersembunyi. Hasil kajian menunjukkan bahwa istilah digital berkembang melalui pinjaman asing, akronim kreatif, pergeseran makna, sirkulasi meme intertekstual, dan adaptasi lokal. TikTok, Instagram, X/Twitter, influencer, serta komunitas muda menjadi akselerator utama penyebaran istilah. Pembahasan menawarkan dua kontribusi konseptual, yaitu algorithmic prestige sebagai gengsi bahasa yang dimediasi sistem visibilitas platform dan plurilingual digital competence sebagai kemampuan berpindah antar-komunitas tutur digital. Artikel ini menyimpulkan bahwa neologisme digital tidak semata-mata merupakan ancaman terhadap bahasa Indonesia baku, melainkan bukti vitalitas bahasa yang perlu direspons melalui kebijakan bahasa dan pendidikan yang kritis, kontekstual, dan produktif.