Ruben Nesimnasi
Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HERMENEUTIK FEMINIS KEPEMIMPINAN DAN SOLIDARITAS PEREMPUAN MENURUT MARIA, DEBORA, RUT Hadi Prasetyo; Ruben Nesimnasi
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v4i2.193

Abstract

Abstract: This study aims to develop Elisabeth Schüssler Fiorenza's feminist hermeneutics (suspicion, memory, and liberation) to reread the stories of Mary (Luke 1:46-55), Deborah (Judges 4-5), and Ruth (Book of Ruth) as sources of inspiration for women's leadership and solidarity in the patriarchal context of the Indonesian church and society. This qualitative library research identifies a gap: previous studies only discuss one figure or use a partial feminist approach, without reconstructing an integrative and contextual model. Through three steps of feminist hermeneutics, this study reveals that patriarchal interpretations have domesticated Mary as a passive figure, viewed Deborah's leadership as a "divine exception", and reduced Ruth to a tool of male genealogy. After passing through the hermeneutics of suspicion (uncovering bias), memory (restoring her-story), and liberation (reconstructing praxis), this study reconstructs three complementary models of women's leadership: spiritual-narrative (Mary), structural-judicial (Deborah), and relational-solidarity based on hesed (Ruth). These three models show that the Bible provides theological legitimacy for women's leadership and solidarity across ethnic, age, status, and social class boundaries. The findings are highly relevant for the Indonesian church, still dominated by androcentric interpretations, offering a theological-practical framework for women's empowerment, hermeneutical renewal, and gender-just policies in ecclesiastical and broader societal spheres. Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengembangkan hermeneutik feminis Elisabeth Schüssler Fiorenza (kecurigaan, ingatan, dan pembebasan) untuk membaca ulang kisah Maria (Lukas 1:46--55), Debora (Hakim-hakim 4--5), dan Rut (Kitab Rut) sebagai sumber inspirasi kepemimpinan dan solidaritas perempuan dalam konteks patriarki gereja dan masyarakat Indonesia. Penelitian kualitatif berbasis studi pustaka ini mengidentifikasi kesenjangan bahwa kajian sebelumnya hanya membahas satu figur atau menggunakan pendekatan feminis secara parsial, tanpa rekonstruksi model yang integratif dan kontekstual. Melalui tiga langkah hermeneutik feminis, penelitian ini mengungkap bahwa penafsiran patriarkal selama ini mendomestikasi Maria sebagai figur pasif, memandang kepemimpinan Debora sebagai "pengecualian ilahi", serta mereduksi Rut menjadi alat genealogi laki-laki. Setelah melewati hermeneutik kecurigaan (mengungkap bias), ingatan (memulihkan her-story), dan pembebasan (rekonstruksi praksis), penelitian ini merekonstruksi tiga model kepemimpinan perempuan yang saling melengkapi: spiritual-naratif (Maria), struktural-yudisial (Debora), dan relasional-solidaritas berbasis hesed (Rut). Ketiga model ini menunjukkan bahwa Alkitab menyediakan legitimasi teologis bagi kepemimpinan dan solidaritas perempuan lintas batas etnis, usia, status, dan kelas sosial. Temuan ini sangat relevan bagi gereja Indonesia yang masih didominasi interpretasi androsentris, karena menawarkan kerangka teologis-praktis untuk pemberdayaan perempuan, pembaruan hermeneutika, dan kebijakan gender-just di lingkup gerejawi maupun masyarakat luas.
Etika Pengembalaan Berdasarkan 1 Petrus 5:1-11: Studi Eksegesis Junieli Waruwu; Ruben Nesimnasi
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i1.390

Abstract

Pastoring the congregation requires good ethics and in accordance with God's standards. Pastors often ignore ethics and ethical principles in pastoring, so that many fall into sexual sin, drugs, theft and other inappropriate behavior. Through exegetical studies, this study highlights the principles of pastoral ethics as taught in 1 Peter 5:1-11. This paper aims to examine the principles of pastoral ethics based on 1 Peter 5:1-11 as a solution to the moral crisis of today's pastors. This paper uses exegetical studies by exploring the meaning and intent of each verse according to the context analyzed. Based on the results of the exegesis, it can be explained that pastoral ethics are very important and influence the growth of the congregation. Pastoral ethics must be possessed by a pastor because it is God's command. A pastor must have voluntary ethics, self-dedication and role models with the principles of pastoral ethics, namely humbling oneself to God, trusting in God and being vigilant. In addition, pastors have responsibilities, namely to complete, confirm, strengthen, and solidify. Thus, the results of this study can be a guideline for service ethics for today's pastors. AbstrakDalam penggembalaan jemaat diperlukan etika yang baik dan sesuai dengan standar Tuhan Allah. Para gembala sering mengabaikan etika dan prinsip etika di dalam penggembalaan, sehingga tidak sedikit yang jatuh dalam dosa seksual, narkoba, pencurian dan perilaku yang tidak terpuji lainnya. Melalui studi eksegesis, penelitian ini menyoroti prinsip etika penggembalaan sebagaimana diajarkan dalam 1 Petrus 5:1-11. Tulisan ini bertujuan mengkaji prinsip-prinsip etika penggembalaan berdasarkan 1 Petrus 5:1-11 sebagai solusi atas krisis moral para gembala masa kini. Tulisan ini menggunakan studi eksegesis dengan menggali makna dan maksud dari setiap nas sesuai dengan konteks yang dianalisis. Berdasarkan hasil eksegesis, maka dapat diuraikan bahwa etika penggembalaan sangat penting dan memengaruhi pertumbuhan jemaat. Etika penggembalaan harus dimiliki seorang gembala karena itu perintah Allah. Seorang gembala harus memiliki etika sukarela, pengabdian diri dan teladan dengan prinsip etika penggembalaan yakni merendahkan diri kepada Tuhan, percaya kepada Allah dan berjaga-jaga. Selain itu, gembala memiliki tanggungjawab, yakni melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan. Dengan demikian, hasil kajian ini bisa menjadi pedoman etika pelayanan bagi gembala-gembala masa kini.