Abstract: This study aims to develop Elisabeth Schüssler Fiorenza's feminist hermeneutics (suspicion, memory, and liberation) to reread the stories of Mary (Luke 1:46-55), Deborah (Judges 4-5), and Ruth (Book of Ruth) as sources of inspiration for women's leadership and solidarity in the patriarchal context of the Indonesian church and society. This qualitative library research identifies a gap: previous studies only discuss one figure or use a partial feminist approach, without reconstructing an integrative and contextual model. Through three steps of feminist hermeneutics, this study reveals that patriarchal interpretations have domesticated Mary as a passive figure, viewed Deborah's leadership as a "divine exception", and reduced Ruth to a tool of male genealogy. After passing through the hermeneutics of suspicion (uncovering bias), memory (restoring her-story), and liberation (reconstructing praxis), this study reconstructs three complementary models of women's leadership: spiritual-narrative (Mary), structural-judicial (Deborah), and relational-solidarity based on hesed (Ruth). These three models show that the Bible provides theological legitimacy for women's leadership and solidarity across ethnic, age, status, and social class boundaries. The findings are highly relevant for the Indonesian church, still dominated by androcentric interpretations, offering a theological-practical framework for women's empowerment, hermeneutical renewal, and gender-just policies in ecclesiastical and broader societal spheres. Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengembangkan hermeneutik feminis Elisabeth Schüssler Fiorenza (kecurigaan, ingatan, dan pembebasan) untuk membaca ulang kisah Maria (Lukas 1:46--55), Debora (Hakim-hakim 4--5), dan Rut (Kitab Rut) sebagai sumber inspirasi kepemimpinan dan solidaritas perempuan dalam konteks patriarki gereja dan masyarakat Indonesia. Penelitian kualitatif berbasis studi pustaka ini mengidentifikasi kesenjangan bahwa kajian sebelumnya hanya membahas satu figur atau menggunakan pendekatan feminis secara parsial, tanpa rekonstruksi model yang integratif dan kontekstual. Melalui tiga langkah hermeneutik feminis, penelitian ini mengungkap bahwa penafsiran patriarkal selama ini mendomestikasi Maria sebagai figur pasif, memandang kepemimpinan Debora sebagai "pengecualian ilahi", serta mereduksi Rut menjadi alat genealogi laki-laki. Setelah melewati hermeneutik kecurigaan (mengungkap bias), ingatan (memulihkan her-story), dan pembebasan (rekonstruksi praksis), penelitian ini merekonstruksi tiga model kepemimpinan perempuan yang saling melengkapi: spiritual-naratif (Maria), struktural-yudisial (Debora), dan relasional-solidaritas berbasis hesed (Rut). Ketiga model ini menunjukkan bahwa Alkitab menyediakan legitimasi teologis bagi kepemimpinan dan solidaritas perempuan lintas batas etnis, usia, status, dan kelas sosial. Temuan ini sangat relevan bagi gereja Indonesia yang masih didominasi interpretasi androsentris, karena menawarkan kerangka teologis-praktis untuk pemberdayaan perempuan, pembaruan hermeneutika, dan kebijakan gender-just di lingkup gerejawi maupun masyarakat luas.