Sypa Septiani
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemodelan Spasial Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Menggunakan Geographically Weighted Regression (GWR) di Kota Bandung Tahun 2024 Achmad Fadhilah; Desti Meirisa Putri; Sypa Septiani; Ameliya Ameliya
Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha Vol. 14 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpg.v14i1.101549

Abstract

The number of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) cases in Bandung City increased significantly in 2024, reaching 7,146 cases (four times higher than in 2023). The increase in DHF cases in an area is influenced by various factors, including geographic, sociodemographic, and environmental conditions. DHF cases is also influenced by the ecological conditions of the surrounding area, so it is necessary to consider the neighborhood features in the analysis of DHF case in a certain location. This study aims to build spatial modelling of DHF cases in Bandung City using Geographically Weighted Regression (GWR). GWR modeling works based on the local relationship between the independent variable (X) and the dependent variable (Y) and considers its surrounding area. The independent variables used in this study include elevation (X1), the number of children aged 5-14 years (X2), population density (X3), percentage of built-up area (X4), and road density (X5). Meanwhile, the dependent variable used is the number of DHF cases in Bandung City from January to April 2024. The GWR prediction results indicate that DHF cases are concentrated in the northern and southeastern regions of Bandung, with a global R² value of 0.778 (indicating that 77.8% of the variance is explained by the model). The variables that play a significant role in the GWR model of DHF cases in this study are altitude and the number of residents aged 5-14 years.
Analisis Pola Aksesibilitas Mahasiswa Pada Jam Sibuk Sebagai Penentuan Zona Prioritas Penguatan Angkutan Umum di Ruas Jalan Setiabudi Kota Bandung Arrayyan Alwan Sayyidina; Elis Lisnawati; Muhammad Syahmi Syihabudin; Nazhira Mahagiena Senjaya; Sypa Septiani; Lili Somantri; Tania Septi Anggraini
Jurnal Media Publikasi Terapan Transportasi Vol. 4 No. 2 (Agustus) (2026)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/mitrans.v4n2.p577-590

Abstract

Ketergantungan masyarakat Kota Bandung dalam penggunaan kendaraan pribadi menjadi faktor utama dalam peningkatan volume kendaraan di beberapa ruas jalan. Terutama pada pusat kegiatan seperti kawasan perguruan tinggi yang tidak menggunakan sistem zonasi sehingga pengguna jalan cenderung berasal dari wilayah yang beragam. Disisi lain, fasilitas transportasi umum Kota Bandung masih belum memadai untuk merubah pola penggunaan kendaraan pribadi masyarakat. Tentunya perlu melakukan analisis lebih lanjut terkait ketersediaan transportasi umum dari Kota Bandung sebagai langkah awal dalam penanggulangan masalah tersebut. Dalam penelitian ini analisis dilakukan menggunakan pendekatan sistem informasi geografis yang menganalisis data statistik melalui visualisasi peta. Melalui pemetaan choropleth dan teknik isokron, ketersediaan transportasi umum di berbagai wilayah Kota Bandung berdasarkan waktu tempuh mahasiswa dapat teridentifikasi. Pola aksesibilitas mahasiswa pun perlu dianalisis menggunakan K-Means Clustering sebagai variabel tambahan dalam penentuan wilayah prioritas penguatan angkutan umum. Hasil pada penelitian ini menunjukkan dominasi penggunaan kendaraan pribadi sebesar 74,5%, yang mengindikasikan tingginya ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Waktu tempuh mahasiswa menuju kawasan kampus didominasi oleh durasi 15 - 45 menit pada pagi hari, namun cenderung mengalami peningkatan pada sore hari. Sedangkan waktu tempuh terlama konsisten dialami oleh mahasiswa yang berasal dari kecamatan gedebage yaitu > 6o menit.
ANALISIS POLA SEBARAN DAN KESESUAIAN LOKASI KAWASAN BISNIS OLAHRAGA PADEL MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KOTA BANDUNG Aisah Nurcahya; Ardhi Rahman Maulana; Sypa Septiani; Tri Utami; Alnidi Safarach Bratanegara; Lili Somantri
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 14, No 2 (2026): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v14i2.39656

Abstract

Abstrak: Olahraga padel mengalami pertumbuhan pesat di Kota Bandung sejak tahun 2024, seiring meningkatnya gaya hidup rekreasi urban masyarakat kelas menengah atas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi persebaran lokasi persewaan lapangan padel, menganalisis pola sebaran spasialnya, menggali faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan lokasi usaha, serta menilai kesesuaian lokasi tersebut terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung. Data spasial diperoleh melalui scraping Google Maps yang diverifikasi melalui ground checking, sedangkan data RTRW diperoleh dari BAPPEDA Kota Bandung; wawancara semi-terstruktur dilakukan terhadap 7 pengelola lapangan padel pada periode 3-10 April 2026. Pola sebaran dianalisis menggunakan metode Average Nearest Neighbor (ANN), sedangkan kesesuaian lokasi dinilai melalui overlay SIG. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 72 titik persewaan lapangan padel yang terkonsentrasi di wilayah utara, barat, dan pusat Kota Bandung, khususnya di Kecamatan Sukajadi, Cicendo, dan Bojongloa Kaler. Analisis ANN menghasilkan Nearest Neighbor Ratio sebesar 0,927 (z-score -1,187; p-value 0,235), yang menunjukkan pola persebaran bersifat acak dengan kecenderungan mengelompok yang lemah dan tidak signifikan secara statistik. Faktor lokasi usaha yang paling banyak dipertimbangkan pengelola adalah kombinasi kepemilikan lahan pribadi dan kedekatan dengan konsumen, diikuti aksesibilitas. Hasil overlay dengan RTRW menunjukkan 22 dari 72 titik (Y%) berada pada zona perdagangan dan jasa yang sesuai peruntukan, 32 titik (Y%) berada pada zona permukiman yang secara fungsional masih dapat diterima, dan sisanya (Y%) terindikasi berada pada zona yang tidak sesuai peruntukan RTRW. Abstract:  Padel has experienced rapid growth in Bandung City since 2024, driven by the increasing popularity of urban recreational lifestyles among the upper-middle-class population. This study aims to identify the spatial distribution of padel court rental facilities, analyze their spatial distribution patterns, investigate the factors influencing business location selection, and evaluate their conformity with the Bandung City Spatial Plan (RTRW). Spatial data were obtained through Google Maps scraping and verified through ground checking, while the RTRW data were acquired from the Bandung City Regional Development Planning Agency (BAPPEDA). Semi-structured interviews were conducted with seven padel court operators between April 3 and April 10, 2026. The spatial distribution pattern was analyzed using the Average Nearest Neighbor (ANN) method, whereas location suitability was assessed through GIS-based overlay analysis. The results identified 72 padel court rental locations, predominantly concentrated in the northern, western, and central parts of Bandung City, particularly in Sukajadi, Cicendo, and Bojongloa Kaler Districts. The ANN analysis produced a Nearest Neighbor Ratio of 0.927 (z-score = –1.187; p-value = 0.235), indicating a random spatial distribution pattern with a weak tendency toward clustering that is not statistically significant. The primary factors influencing business location selection were the combination of private land ownership and proximity to customers, followed by accessibility. The GIS overlay analysis with the Bandung City Spatial Plan revealed that 22 of the 72 locations (Y%) were situated within commercial and service zones designated for such activities, 32 locations (Y%) were located within residential zones that remain functionally acceptable, while the remaining locations (Y%) were identified as being situated in zones inconsistent with the designated land use according to the spatial plan.