Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DEKONSTRUKSI SPIRITUALITAS DI ERA AKAL IMITASI: ANALISIS SOSIO-TEOLOGIS KRITIS ATAS FENOMENA HIJRAH, PERGESERAN OTORITAS, DAN BIAS ALGORITMA KEAGAMAAN DI INDONESIA Roberto Arieza Martin Purba; Ahmad Luqman Hakim
AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol 8 No 2 (2026): AKSELERASI: JURNAL ILMIAH NASIONAL
Publisher : GoAcademica Research dan Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jin.v8i2.1709

Abstract

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan memahami informasi keagamaan. Salah satu fenomena yang muncul adalah semakin banyaknya kutipan motivasi keagamaan yang diproduksi oleh AI dan disebarkan melalui media sosial. Fenomena ini mendorong munculnya “hijrah digital”, yaitu perubahan orientasi keagamaan yang dipengaruhi oleh konsumsi konten religius instan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak penggunaan AI terhadap praktik keberagamaan, otoritas keagamaan, dan pembentukan identitas religius di ruang digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-analitis dan yuridis-empiris dengan mengkaji berbagai teori sosiologi media, literatur akademik, serta perspektif hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI memberikan kemudahan dalam penyebaran pesan keagamaan, tetapi juga berpotensi menyederhanakan ajaran agama menjadi sekadar motivasi emosional. Selain itu, AI dapat menggeser peran otoritas keagamaan tradisional, memperkuat komodifikasi agama, dan menimbulkan bias informasi melalui algoritma media sosial. Dalam perspektif Islam, AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah dan pembelajaran selama digunakan secara bijak, disertai verifikasi informasi, serta tetap berada di bawah bimbingan otoritas keagamaan yang kompeten. Oleh karena itu, diperlukan literasi digital dan pengawasan yang memadai agar pemanfaatan AI dalam bidang keagamaan dapat memberikan manfaat tanpa mengurangi kedalaman makna ajaran agama.
FENG SHUI SEBAGAI EKOTEOLOGI PRAGMATIS: SEBUAH KAJIAN ATAS PEMIKIRAN OLE BRUUN DAN RELEVANSINYA DALAM PRAKTIK BISNIS DI INDONESIA Roberto Arieza Martin Purba; Muhtar Solihin; Munir
Journal of Social and Economics Research Vol 8 No 1 (2026): JSER, June 2026
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v8i1.1272

Abstract

Makalah ini mengkaji konsep feng shui dari perspektif Ole Bruun, dengan fokus pada fungsi kosmologis dan perannya dalam persaingan sosial dan ekonomi. Studi ini kemudian dikontekstualisasikan dalam praktik bisnis kontemporer melalui studi kasus keluarga Salim, konglomerat Indonesia yang dikenal karena menerapkan feng shui sebagai pertimbangan strategis dalam bisnis mereka. Feng shui adalah tradisi perencanaan spasial berdasarkan pemahaman kosmik, spiritual, dan ekologis dalam budaya Tiongkok. Dalam wacana global, feng shui telah bertransformasi menjadi praktik yang menyertai keputusan bisnis, desain arsitektur, dan perencanaan kota modern. Di Indonesia, praktik ini telah menjadi bagian dari dinamika ekonomi diaspora Tionghoa, yang terlihat pada tokoh-tokoh seperti keluarga Salim. Makalah ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan Ole Bruun tentang feng shui dan menilai relevansinya dalam praktik ekonomi modern Indonesia. Melalui analisis kritis, makalah ini menilai sejauh mana teori Bruun dapat menjelaskan keberhasilan ekonomi modern yang memasukkan feng shui ke dalam praktik pengambilan keputusan. Studi ini menyimpulkan bahwa feng shui ada sebagai ekoteologi pragmatis yang memainkan peran penting sebagai modal budaya dan legitimasi sosial dalam kegiatan bisnis, tetapi bukan sebagai satu-satunya penentu hasil ekonomi.